Ulama dan Tokoh Aswaja Kalsel Serukan Tegakkan Khilafah

Banjarmasin, Kalsel (shauatululama) – Ulama Aswaja dan tokoh umat Islam Kalimantan Selatan serukan tahun 2020 menjadi momentum kebangkitan umat Islam untuk dapat kembali menerapkan syariah secara kaffah. Pernyataan itu diungkapkan para ulama dalam Multaqa Ulama Aswaja, di kediaman Abu Zallum, Ahad (23/02/2020).

Dalam kegiatan yang mengangkat tema ‘Tahun 2020 Tahun Umat Islam’ ini hadir enam ulama dari sejumlah daerah di Kalsel untuk menyampaikan tausyiah dan ajakan untuk membangkitan semangat perjuangan untuk tegaknya kembali syariah dan khilafah.

Sebagai pembicara pertama, Guru Abdul Hafiz, Pengasuh Ma’had Darul Inqilabi Martapura, Kabupaten Banjar, memulai dengan fakta kondisi Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, namun ajaran Islam hanya diterapkan sebagian kecil saja dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia.

“Kita mengetahui hukum yang ditegakkan di Indonesia ini tidak menegakan hukum Allah SWT kecuali hanya sebagian kecil saja, terkait tentang ibadah, pernikahan, talaq, rujuk. Tetapi terkait sistem ekonomi, politik, sosial kemasyarakatan itu tidak diterapkan justru malah sistem warisan penjajah yang digunakan” ujar Guru Abdul Hafiz.

Ia menambahkan dengan tidak diterapkan hukum Islam secara kaffah itulah muncul banyak kebobrokan dan kerusakan yang terjadi. Ditambah sistem kehidupan yang digunakan dalam mengatur kemasyarakatan dan hukum oleh umat muslim adalah sistem demokrasi. Padahal menurutnya, sistem demokrasi yang menjadikan kedaulatan rakyat sebagai pembuat hukum itu bertentangan dengan ajaran Islam yang menempatkan Allah SWT sebagai satu-satunya pembuat hukum untuk manusia.

“Akibatnya atas nama demokrasi, yang halal kaya (sepertinya, red) haram yang haram kaya halal. Contohnya seperti riba itu, riba itu kan diperangi, tetapi di negeri ini riba itu dilegalkan, sehingga melakukan riba itu masyarakat kita tidak ada beban. Sama seperti membuka aurat, berkhalwat tidak ada beban, karena itu tadi dengan sistem demokrasi, rakyat itu tidak terikat lagi dengan perintah dan larangan Allah SWT.” Papar Guru Hafiz.

Dengan fakta seperti itu, beliau menegaskan bahwa demokrasi bertentangan dengan Islam dan tidak boleh diambil maupun didakwahkan.

“Oleh karena itu, kita harus meyakini bahwa dengan fakta-fakta seperti itu jelas bahwa demokrasi bertentangan dengan Islam, kalau bertentangan dengan Islam berarti tidak boleh kita ambil, kita emban dan kita dakwahkan. Oleh karena yang kita dakwahkan ini harus sesuai dengan Islam. Karena yang berwenang dan membuat hukum hanyalah Allah SWT. Makanya dalam Al Quran jelas inilhukmu illa lillah, tidak ada hukum selain buatan Allah” tegas beliau.

Sementara pembicara kedua, Ustadz Imam Abu Ashim menyampaikan kepada hadirin bahwa akar masalah utama umat Islam adalah karena tidak diterapkannya hukum Allah dalam realitas kehidupan.

“Memang realitas kita, qadha Allah saat ini kita ditakdirkan menerima tidak diterapkannya Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Kita ditakdirkan hidup dalam era realitas masyarakat yang jauh dari kehidupan Islam. Islam memang masih tampak dalam masjid musholla, tapi hanya sebagian. Tapi sebagian besar kita kita tidak menemukan Islam dalam kehidupan kita saat ini.” Papar Ustadz Imam.

Beliau menyayangkan masih banyaknnya orang yang meremehkan ajaran Islam yang mulia dan sempurna ini, bahkan dari kalangan umat Islam sendiri.

“Seperti saat ini ada yang mengatakan ayat-ayat konstitusi lebih tinggi dari pada ayat ayat suci, padahal Rasulullah telah mengatakan Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi” ujarnya.

Beliau melanjutkan, pelecehan terhadap islam ini terjadi karena kaum muslimin sendiri tidak yakin dengan Islamnya sendiri.

Dilanjutkan dengan pembicara ketiga, Ustadz Mukhlis Hariadi, Pengasuh Majlis Darul Mukhlisin Kabupaten Barito Kuala, turut menguatkan fakta yang disampaikan para pembicara sebelumnya. Menurutnya dengan fakta problematika umat tersebut justru harus dikonversi menjadi harapan bagi umat Islam.

“Melihat dari berbagai problematika yang disampaikan beliau ini menjadi suatu tantangan dan harapan yang besar bagi kita,”

Beliau juga mengutip laporan National Intelligent Coucil (NIC) yang pada tahun 2004 mengeluarkan prediksi dan analisis bahwa pada tahun 2020 akan muncul kembali Khilafah Islamiyah.“Kalau apa yang diramalkan itu menjadi kenyataan lebih khususnya lagi di Indonesia, bahwa kita harus bersiap. Kalau Allah memberikan amanah kepada kita menjadi titik awal tegaknya khilafah di Indonesia tentu Allah melihat dari kelayakan kita,” pungkas Ustadz Mukhlis.

Sementara Ustadz Humaidi Ideris menegaskan problematika yang dihadapi umat Islam saat ini akibat keruntuhan Khilafah Islamiyah pada tahun 1924 di Turki. Sejak itu umat Islam tidak memiliki induk yang menerapkan Islam secara kaffah.

“Ibarat anak ayam kita ini kehilangan induk bayangkan kalau ayam itu tidak punya induk maka anak-anaknya ini akan dikejar oleh ayam ayam lain, kocar-kacir tidak selamat. Jadi kehilangan khilafah ini adalah kehilangan induk,” ujarnya.

Ustadz Humaidi juga melanjutkan, dengan memaparkan tahapan-tahapan metode dakwah Rasulullah dalam dari fase awal dakwah di Makkah hingga Rasullulah mendirikan Daulah Islam di Madinah.

“Apapun dalam kehidupan ini harus ikut Rasullah Saw, begitu juga dalam hal tariqah (metode) dakwah. Kalau kita tidak mengikuti Rasul yang pertama kita tidak mendapatkan ridha dari Allah SWT. Kemudian dari sisi keberhasilan sesuatu yang tidak mencontohkan Nabi maka tidak akan menghasilkan.”

Beliau juga menyerukan kepada para ulama untuk meniru metode Rasulullah yang membongkar makar-makar musuh Islam agar umat Islam semakin sadar bahwa saat ini syariah Islam tengah dihalangi untuk diterapkan secara kaffah.

“Sampai membongkar kebobrokan yang terjadi di tengah masyarakat yang tidan sesuai dengan Islam, maka membongkar kebobrokan adalah bagian dari tariqah dakwah rasulullah. Dan itu yang Rasulullah lakukan, hingga Rasullah diserang, Rasulullah diboikot. Jika terus dilakukan maka umat akan sadar, saat opini Islam terus berkembang”, papar Ustadz Humaidi di depan para hadirin.

Senada dengan para pembicara sebelumnya, Ustadz Luthfi bin Fakhruddin dari Kabupaten Rantau menyampaikan bahwa kebangkitan umat ini adalah kebangkitan ulama. Maka perlu ditanamkan cara berfikir level ke-empat, at tafkiru as siyasi (berpikiri politis) di tengah umat Islam untuk menumbuhkan kesadaran politik.

“Syekh An Nabhani mengatakan orang yang memiliki at tafkiru as siyasi itu dia bisa memandang apa-apa yang terjadi di belakang dari permukaan. Seperti ulama-ulama yang menyampaikan bahaya BPJS itu sejak rencana, karena dengan bentuk berfikir ini, dengan garis-garis global agar kita berfikir secara siyasi melihat apa yang akan terjadi,” urai ustadz yang masih dzuriyat dari ulama besar Syekh Arsyad Al Banjari.

Beliau juga menambahkan untuk menyongsong tahun umat Islam ini, ulama beserta umat harus fokus mengikuti metode dakwah Rasulullah.

“Jadi di abad kebangkitan umat Islam ini kita harus sempurnakan dengan betul-betul mengikuti tariqah metode dakwah Rasulullah SAW,” seru Ustadz Luthfi.

Sebagai pembicara terakhir, Ustadz Hidayatul Akbar, Pengasuh Majlis Taklim Muslimin Muslimat Handayani Banjarmasin, menceritakan tentang fakta peradaban barat dengan ideologi kapitalismenya yang kian terpuruk saat ini.

“Bahwasanya ideologi kapitalisme telah dalam titik keruntuhannya dan sedang mencoba dipertahankan oleh para pengusung nya, ini kondisi yang menguntungkan bagi umat Islam yang memperjuangkan kebangkitan Islam,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan beberapa pendapat dari penulis dan pemikir Barat seperti Jean Ziegler, Oswald Spengler yang menganalisis kematian ideologi kapitalisme dan sekaratnya peradaban Barat.

“Faktanya dalam konteks global semua negara yang menganut kapitalisme tercipta kemiskinan dan ketidakadilan sosial yang besar. Pada tahun 2018 tercatat 82 persen kekayaan dunia hanya dikuasai 61 orang terkaya di dunia, Sebaliknya, sebanyak 3,5 milyar orang miskin di dunia memiliki asset kurang dari 10 ribu dollar. Sementara fakta umat Islam tumbuh bangkit. Mudah-mudahan tidak lama lagi janji Allah ini akan terpenuhi dan berbagai masalah problematikan cabang lainnya akan selesai,” tutup Ustadz Dayat.

Kegiatan Multaqa Ulama Aswaja kali ini pun ditutup dengan pernyataan sikap Ulama yang dibacakan oleh Ustad Baihaqi Al Munawar.PERNYATAAN SIKAP ULAMA PADA MULTAQA ULAMA AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH KALIMANTAN SELATAN

Melihat perkembangan serta ahwal yang terjadi di seluruh negeri kaum muslimin umumnya khususnya di negeri kita tercinta Indonesia, kami perwakilan Ulama Kalimantan Selatan pada Multaqa Ulama Ahlu Sunnah Wal Jama’ah menyikapi perkembangan serta ahwal tersebut sebagai berikut:1.Menyerukan kepada penguasa untuk menghentikan upaya kriminalisasi atas ajaran-ajaran Islam, simbul–simbul dan para Ulama yang mendakwahkan Islam melalui narasi radikalisme.

2. Hendaknya para Ulama, Kyai, Habaib, Asatidz dan Mubaligh tetap istiqamah menjadi Pewaris Nabi yang senantiasa menjaga kemurnian pemahaman dan pelaksanaan ajaran (pemikiran, pendapat, hukum, nilai, akhlak dll) Islam.

3. Para Ulama, Kyai, Habaib, Asatidz dan Muballigh senantiasa membimbing dan memimpin umat untuk berjuang mengembalikan Khilafah yang menjadi pelaksana ajaran Islam; penyebar ajaran Islam ke seluruh penjuru dunia; serta yang senantiasa menjadi junnah (perisai, pelindung) bagi umat, bagi wilayah kekuasaan umat, bagi ajaran Islam dari penodaan, dll

4. Khilafah adalah bagian dari ajaran Islam dan Ahlussunnah wal Jamaah; hukum menegakkannya wajib; menghalangi, mengancam, mengkriminalisasi dan mempersekusi perjuangannya merupakan bentuk kema’shiyatan dan kemunkaran.

5.Saatnya negeri ini menerapkan syariah Islam secara kaffah di bawah naungan Khilafah Islamiyah ala minhaji nubuwwah yang akan membuat negeri Indonesia menjadi negara yang berdaulat, mampu mensejahterakan rakyatnya dengan karunia sumber daya alam yang melimpah, dan hidup berkah dalam ridho-Nya.

6. Hendaknya Ulama dan Umat Islam menjadikan tahun 2020 sebagai momentum kesadaran untuk bangkit sebagai khoiru umah dan penguasa dunia; menjadi subyek yang menentukan arah, warna dan bentuk sejarah dunia.

Banjarmasin, Jumadil Akhir 1441 H/23 Februari 2020

Kami Atas Nama Ulama Aswaja
Pada Multaqa Ulama Ahlu Sunnah Wal Jamaah Kalimantan Selatan.

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Saatnya Islam Gantikan Sistem Amoral dan Asusila, KH Misbah Halimi Sikapi Permendikbudristek No 30 Tahun 2021

Probolinggo, Jatim (shautululama) – KH. Misbah Halimi, M.Pd, Koordinator FKU Aswaja Jombang menjelaskan Islam siap …