MAULID NABI SAW, CINTA NABI CINTA SYARIAH

Rengasdengklok,  (shautululama) – 14 Nopember 2019 atau bertepatan dengan 17 Rabiul Awal 1441 H, dalam rangka memperingati maulid Nabi Muhammad ﷺ, Padepokan Abah Leuweung menyelenggarakan kajian umum yang mengangakat tema besar “Cinta Nabi Cinta Syariah”.

Acara dibuka dengan pembacaan Hadiyah yang di bawakan oleh Ustadz Asep Busyhaeri, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang dibawakan oleh ustadz Agus Mulyadi dan Sholawat Nabi dibawakan oleh ustadz Acan Abu Amir.

Dalam sambutannya selaku Shahibul Bait, Abah leuweung mengungkapkan kegalauannya terhadap situasi saat ini, dimana penguasa hari ini sedang getol-getolnya memberikan citra negatif terhadap Umat Islam. Itu ditandai dengan memberikan stempel radikal terhadap kaum muslim yang menggunakan celana cingkrang atau kaum muslimah yang menggunakan jilbab dan cadar, padahal perkara tersebut merupakan bagian dari ajaran Islam yang selama ini sudah susah payah beliau ajarkan kepada anak-anaknya.

Kajian pertama disampaikan oleh Ustadz Muhammad Irda yang mengingatkan terkait dengan makna cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ. Beliau menyampaikan bahwa cinta kepada Nabi adalah Ittiba kepada Nabi Muhammad ﷺ atau mengikuti segala apa yang di sampaikan dan di contohkan oleh Nabi mulai dari makanan hingga kepada tataran hukum yang diterapkan di tengah masyarakat. Beliau juga menegaskan bahwa jika ada seorang yang mengaku mencintai Allah dan Nabi ﷺ namun tidak mentaati Allah dan Rasulnya maka cintanya adalah palsu. Sehingga yang dimaksud dengan cinta kepada Allah dan Rasulnya adalah dengan mentaati Allah dan Rasulnya.

Kajian selanjutnya disampaikan oleh KH Ahmad Zainudin Qohar, pimpinan Pondok pesantren Al Husna Cikampek. Beliau menyampaikan bahwa keutamaan dari kecintaan kita terhadap Allah dan Rasulnya adalah Pertama, Allah akan menjadikannya kekasih atau wali Allah. Kedua, akan diampuni segala dosa. Beliau juga mengingatkan kembali terkait dengan fenomena yang muncul ditengah kaum muslimin pada masa kini, yakni mengambil sebagian yang dicontohkan oleh Nabi dan menolak sebagian yang contohkan oleh Nabi.

Contohnya dalam perkara shalat, shaum, zakat mencontoh apa yang Nabi sampaikan, tetapi dalam perkara ekonomi, pergaulan sosial, berpolitik, hingga bernegara tidak mengambil apa yang Nabi contohkan.

Terlebih lagi pada masa kini, syariat Allah bukan hanya ditinggalkan, tetapi di musuhi dan berusaha untuk dihilangkan. Sehingga beliau mengingatkan kepada jamaah bahwa wajibnya bagi kaum muslim untuk bergerak dan berjuang menegakan syariat-Nya. Salah satunya dengan merapatkan barisan kaum muslim atau memperkuat Ukhuwah Islamiyah di antara kaum muslim, jangan sampai kaum muslim terpecah dengan istilah yang dibuat oleh musuh musuh Islam, seperti istilah Islam radikal dan Islam moderat.

Acara ditutup dengan do’a yang di pimpin oleh ustadz Asep Busyhaeri. (Ka)

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Tepat!! Ulama, Tokoh, dan Muballigh Parigi Moutong Tolak Permendikbudristek

Dari Sulawesi Tengah, tokoh umat berkumpul menolak aturan yang melegalkan seks bebas. Liberalisasi kehidupan dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *