Wasiat Syeikh Nawawi Al Bantani Kepada Ulama Banten, Tegakkan Kalimat Tauhid dan Sebarkan Syariat Islam

0
695

Banten, (shautululama) – KH. Mansyur Muhyiddin, Ketua Majelis Tinggi Perguruan Pencak Silat Bandrong Banten Indonesia (PPSBBI), pada multaqa ulama Aswaja Banten, Ahad, 20 September 2020 didaulat panitia untuk menyampaikan aqwal minal ulama. 

Beliau mengawali dengan berkisah, pada tahun 1888, para ulama Banten mengadakan pertemuan dengan Syekh Nawawi Al-Bantani di Masjidil Haram. Adapun para ulama Banten yang turut hadir dalam pertemuan tersebut antara lain KH. Wasyid, KH. Abdurrahman. KH. Harris, KH. Arsyad Thawil, KH. Arsyad Qashir dan KH. Tb. Ismail. Syekh Nawawi Al-Bantani merupakan guru fiqih bagi ulama-ulama Banten, bahkan nusantara.

KUNJUNGI INSTAGRAM KAMI

Dalam pertemuan tersebut, Syekh Nawawi Al-Bantani berpesan kepada para ulama Banten, dimana pesannya tersebut adalah: “Tegakkan Kalimat Tauhid dimanapun kalian berada, sebarkan syariat Islam dimanapun kalian berada dan belalah kaum tertindas dimanapun kalian menemukannya”. Keseluruhan pesan tadi bermuara pada gerakan mengusir penjajah Belanda yang saat itu menjajah nusantara tak terkecuali Banten.

Selepas pulang dari Mekkah, masing-masing ulama kembali berbaur dengan masyarakat. Sebagai tokoh ulama Banten, mereka senantiasa dekat dengan masyarakat. Kondisi kesultanan Banten saat itu telah berhasil dilumpuhkan oleh politik adu domba (Devide et Impera) yang dilancarkan oleh Belanda, sehingga mampu menghadirkan perang di Kraton Kesultanan Banten antara Orang tua melawan anak sendiri. Walhasil, runtuhlah kesultanan Banten.

Kondisi ini membawa kesengsaraan bagi masyarakat Banten, dimana para Regen (Bupati) lebih suka mencari muka kepada Kolonial Belanda sehingga bertindak sewenang-wenang terhadap rakyatnya sendiri.

Tindakan kezaliman yang dialami rakyat tersebut, tak ada pihak yang menjadi tempat pengaduan kecuali pada para ulama. Menyikapi hal tersebut, maka para Ulama Banten, Betawi, Jawa dan Lampung bersatu untuk melakukan perlawanan atas kezaliman yang terjadi pada peristiwa yang dikenal dengan Geger Cilegon, setelah mendapat restu dari Syekh Nawawi Al-Bantani. Ketidak adilan, kesewenang wenangan dan kezaliman penguasa atas rakyatnya menjadi “api dalam sekam” yang siap membara kapanpun hal itu terjadi.

Dorongan perlawanan atas peristiwa kezhaliman haruslah berdasar pada kesadaran akan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar yang telah diwajibkan Allah SWT kepada kita. Tentunya menjaga motivasi tadi haruslah digenggam erat agar arah perjuangan tidak berbelok kepada hal yang tidak diridhoi Allah SWT.

عَنِ بْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمَا اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : هَلْ عَلِمْتُمْ مَنْ أَعْجَبُ الْخَلْقِ إِيْمَانًا ؟ فَقَالُوْا : إِيْمًانُ الْمَلَائِكَةِ يَا رَسُوْلَ اللهِ . فَقَالَ : وَكَيْفَ لَا تُؤْمِنُ الْمَلَائِكَةُ وَهُمْ يُعَايِنُوْنَ الْأَمْرَ ؟ قاَلُوْا : اَلنَّبِيُّوْنَ يَا رَسُوْلَ اللهِ . قَالَ : وَكَيْفَ لَا يُؤْمِنُ النَّبِيُّوْنَ وَالرُّوْحُ يَنْزِلُ عَلَيْهِمْ بِالْأَمْرِ مِنَ السَّمَاءِ ؟ قَالُوْا : أَصْحَابُكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ . قَالَ : وَكَيْفَ لَا يُؤْمِنُ أَصْحَابِي وَهُمْ يَرَوْنَ الْمُعْجِزَاتِ مِنِّي وَأَنَا أُنَبِّئُهُمْ بِمَا أُنْزِلَ عَلَيَّ ؟ وَلَكِنْ أَعْجَبُ النَّاسِ إِيْمَانًا قَوْمٌ يَجِيْؤُنَ مِنْ بَعْدِيْ يُؤْمِنُونَ بِي وَلَمْ يَرَوْنِي ، وَيُصَدِّقُوْنِيْ وَلَمْ يَرَوْنِي ، أُولَئِكَ إِخْوَانِي .

Dari Ibnu ‘Abbas radliyallahu ta’ala ‘anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Apakah kalian tahu; Siapakah yang imannya paling mengherankan?” Para shahabat menjawab; Iman para malaikat wahai Rasulallah. Beliau bersabda: “Bagaimana mungkin para malaikat itu tidak akan beriman, sedangkan mereka menyaksikan setiap perkara secara langsung?” Para shahabat menjawab; Iman para Nabi wahai Rasulallah. Beliau bersabda; “Bagaimana mungkin para Nabi itu tidak akan beriman, sedangkan malaikat Jibril turun kepada mereka dengan membawa risalah dari langit?” Para shahabat menjawab; Iman para shahabatmu wahai Rasulallah. Beliau bersabda: “Bagaimana mungkin para shahabatku tidak akan beriman, sedangkan mereka menyaksikan mu’jizat dariku dan aku senantiasa menyampaikan kepada mereka apa yang diturunkan kepadaku. Akan tetapi orang imannya paling mengherankan adalah kaum yang datang setelahku yang beriman kepadaku sedangkan mereka tidak pernah melihatku dan mereka membenarkan risalahku sedangkan mereka tidak pernah melihatku, mereka itu adalah saudaraku”.

Hadits ini sangat mungkin mengarah kepada generasi saat ini yang mana kita berharap sebagai generasi yang termaktub dalam hadits tersebut.
Allah SWT Berfirman dalam QS. Al-Maidah : 3

ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا ۚ فَمَنِ ٱضْطُرَّ فِى مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dari penggalan ayat ini maka bisa ditarik kesimpulan :
Islam adalah anugerah terbesar yang diturunkan Allah kepada Umat manusia. Hal ini patut kita syukuri sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya.
Islam adalah jalan hidup yang sempurna, sehingga kita tidak membutuhkan aturan-aturan buatan manusia lain untuk mengatur kehidupan kita. Kita tidak butuh sekulerisme, demokrasi apalagi komunisme untuk mengatur kehidupan kita. Syariat islam kaffah sudah cukup bagi kita.
Tolok ukur baik dan buruknya sesuatu berpatokan hanya kepada Diinul Islam. Sehingga segala problematika kehidupan harus dikembalikan kepada syariah Islam. Semoga perjuangan Islam ini dapat kita lanjutkan bersama hingga tegaknya syariah dan khilafah.