Ustadz Indra Fakhruddin: “Waspadai Benturan, Adu Domba serta Saling Curiga di Antara Umat!”

Probolinggo, Jatim (shautululama) – “Kita tidak boleh diam, fakta rusak ini harus kita bongkar melalui proses penyadaran kepada umat dengan dakwah ideologis. Kita tunjukkan bahwa Problem negeri ini bukan terorisme apalagi ekstrimisme. Musuh umat adalah negara-negara Kapitalis yang ingin merusak Islam dan umat”.

Inilah Penjelasan Ustadz Indra Fakhruddin (Direktur Rumah Inspirasi Perubahan Kota Probolinggo) dalam acara Multaqo Ulama Aswaja Tapal Kuda, dengan tajuk “Peran Strategis Ulama Cinta Negeri, Selamatkan Umat Dari Bencana Melanda Negeri, Waspada Adu Domba Umat, Tolak Kedzaliman, Terapkan Islam Kaffah”, (Selasa, 9 Februari 2021) yang disiarkan secara Live streaming di Channel Youtube Bromo Bermartabat.

“Pada tanggal 6 Januari 2021 Presiden Joko Widodo meneken Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 7 Tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme Tahun 2020-2024 yang disingkat dengan RAN PE. Kalau didata pdf sy ada 113 halaman” Tegas Ustadz Indra.

Beliau melanjutkan bahwa, setelah kita kaji Perpres ini kembali mengkonfirmasi posisi pemerintah berhadapan dengan umat Islam. Secara kasat mata Perpres (RAN PE) ini makin memperkeruh suasana di tengah carut-marut penanganan pandemi dan bencana di berbagai daerah serta borok korupsi yang terus menganga.

Seharusnya pemerintah fokus pada persoalan ini. Bukan malah kembali mengikuti arah kebijakan negara kapitalis dengan terus mengobarkan narasi perang terhadap terorisme, apalagi semakin mengarah pada diksi ekstrimisme yang dipandang sebagai issu utama persoalan bangsa. Dimana narasi negatif tersebut dituduhkan pada umat Islam khususnya pengusung Islam politik atau Islam ideologi.

Selama ini penguasa merasa gerah dengan munculnya kesadaran umat Islam yang berusaha mengembalikan Islam kepada posisi yang tinggi sebagai agama sekaligus ideologi yang merupakan jawaban atas perbagai krisis multidimensi yang tidak kunjung usai.

Berikutnya banyak persoalan yang dikandung dalam Perpres ini, yakni:
_Pertama_ kembali nampak adanya hegemoni atau dominasi makna oleh pihak yang kuat dalam hal ini adalah penguasa terhadap narasi radikalisme sampai ekstrimisme yang mengarah pada terorisme dengan sasaran utamanya adalah Islam.

Jika kita mundur sedikit ke belakang tujuan jangka pendek dari global war on terorims yang di remote oleh kebijakan luar negeri negara Amerika adalah untuk menghancurkan Islam militan atau Islam politik dan tujuan jangka panjang adalah modernisasi Islam. Islam dimaknai sesuai dengan nilai-nilai barat.

Karena setelah mereka mempelajari teks Al-quran bahwa Islam adalah agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan dan beserta janji Allah atas kemenangannya. Tentu point ini sangat tidak mereka kehendaki sebagai negara kapitalis yang ingin berkuasa.

Kedua, menurut beliau, dalam perkembangannya seiring dengan atmosfer penjajahan negara Kapitalis atas negeri-negeri Islam, rezim di negara ini tunduk mengikuti kebijakan negara kapitalis tersebut. Dan Benar, di sini kita bisa membaca berbagai alasan yang masif muncul dalam berbagai produk hukum di negeri ini seperti, pelarangan HTI, FPI, pelarangan ASN berhubungan dengan organisasi yang sudah dihapus Badan Hukumnya, mutakhir SKB 3 Menteri tentang seragam sekolah dan Perpres nomor 7 ini semuanya mengarah kepada arah modernisasi Islam yang ujungnya supaya Islam tidak lagi mendominasi.

Terakhir ketiga, rezim berupaya memainkan Perpres ini dengan melibatkan masyarakat supaya mampu mendeteksi dini gejala-gejala radikalisme dan ekstrimisme yang mengarah terorisme dengan pengertian yang sesuai opini yang dikembangkan oleh rezim. Salah satunya dalam bentuk pemolisian masyarakat, sehingga sangat rawan terbentuk kondisi saling curiga, kasak kusuk saling memata-matai, persekusi, sehingga berakibat terbentuklah upaya sistematis memecah belah umat sampai ketingkat grass root. Khusunya umat Islam. Sehingga umat dijauhkan dari Islam yang benar dan para pengembannya.

Maka menurut beliau, “Kita tidak boleh diam, fakta rusak ini harus kita bongkar melalui proses penyadaran kepada umat dengan dakwah ideologis. Kita tunjukkan bahwa Problem negeri ini bukan terorisme apalagi ekstrimisme. Musuh umat adalah negara-negara kapitalisme yang ingin merusak islam dan umat. Teruslah bangun sinergi dan ukhuwah dengan berbagai simpul-simpul umat. Yakinlah bahwa upaya makar mereka akan sangat mudah ditumbangkan.”

Beliau mengakhiri pernyataannya dengan membacakan al Qur’an surah Al-Anfal ayat 30

وَاِ ذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِيُثْبِتُوْكَ اَوْ يَقْتُلُوْكَ اَوْ يُخْرِجُوْكَ ۗ وَيَمْكُرُوْنَ وَيَمْكُرُ اللّٰهُ ۗ وَا للّٰهُ خَيْرُ الْمٰكِرِيْنَ

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan tipu daya terhadapmu (Muhammad) untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 30)

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Permendikbudristek No 30 Tahun 2021 Bukti Kegagalan dan Ketidakberdayaan Negara Menjunjung Nilai Agama, Moral dan Etika

Surabaya, (shautululama) – Selasa, 30 November 2021 bersama maraknya penolakan terhadap Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, …