Ustadz Indra Fakhruddin: Negara Haram Mengijinkan Keberadaan Industri Miras

Probolinggo, Jatim (Shautululama) – Negara wajib melarang keberadaan industri miras di semua wilayah, apa pun alasannya apalagi mengatasnamakan investasi yang jelas tidak memiliki kedudukan di dalam syariat. Pernyataan ini diungkapkan oleh Direktur Rumah Inspirasi Perubahan, Ustadz Indra Fakhrudin pada acara Multaqo Ulama Aswaja Tapal Kuda. Kegiatan bertajuk “Kiprah Ulama Aswaja Selamatkan Negeri, Selamatkan Bangsa dari Kekejian Miras, Saatnya Islam Gantikan Kapitalisme, Demokrasi-Sekulerisme, dan Komunisme” ini digelar secara daring dan disiarkan live di channel Youtube Bromo Bermartabat, Selasa 16 Maret 2021.

Mengawali tausiahnya, Ustadz Indra Fakhrudin menerangkan kemuliaan Islam yang ajarannya mencakup segala lini kehidupan termasuk pengelolaan negara dan kekuasaan sesuai syariah.

“Menggaris bawahi bahwasanya Allah SWT menurunkan syariat kepada manusia dengan sempurna demi mewujudkan tatanan kehidupan yang penuh dengan kemaslahatan. Rasulullah SAW tampil sebagai sosok yang telah berhasil mengimplentasikan dan sekaligus memvisualisasikan visi besar tersebut melalui kekuasaan negara yang didirikannya dan dilanjutkan oleh para khalifah setelahnya,” tutur ustadz Indra Fakhrudin.

Hubungan Islam dengan kekuasaan tidak dapat dipisahkan. Rasulullah SAW telah memberikan teladan bagaimana Islam menjadi ruh kebaikan terhadap kekuasaan yang beliau pimpin di Madinah.

“Demikianlah Islam dengan kokoh, lahir dari aqidah islam yang diatasnya terpancar syariah islam yang agung dengan sistem khilafah sebagai institusi negara yang mewujudkan dua tugas besar sebagaimana disampaikan oleh Imam Al-Mawardi dalam al-Ahkam as-Sulthaniyyahnya sebagai khiraasatu ad-din dan siyasatu ad-dunya (menjaga agama dan mengurus dunia),” imbuh ustadz Indra.

“Sehingga para ulamapun masyhur merumuskan tentang konsep yang disebut sebagai maqashid as-syariah yakni tujuan besar diturunkannya syariah. Mereka membagi Ada 3 maslahatan besar yakni Mashlahah Dharûriyyah, Mashlahah Hâjiyyah , dan Mashlahah Tahsîniyyah. Salah satu yang paling besar dirasakan langsung oleh umat adalah Mashlahah Dharûriyyah, yakni Kemaslahatan yang menjadi keharusan diperlukan dalam kehidupan demi menciptakannya individu yang mulia dan tegaknya masyarakat yang baik. Jika kemaslahatan tersebut tidak diperoleh, kehidupan manusia akan mengalami kehancuran. Kemaslahatan tersebut tidak akan terpenuhi, kecuali jika hukum-hukum Islam tersebut diterapkan,” papar beliau.

Menurut beliau dalam konteks empiris sekarang untuk memerangi miras yang notabene demi menjaga akal maka negara menerapkan hukum hadd syâribu al-khamr (sanksi atas peminum minuman keras, pecandu narkoba dan sebagainya) diterapkan, yaitu dicambuk tidak kurang dari kali 80. Sekaligus negara juga melarang keberadaan industri miras di semua wilayah negeri kaum muslimin. Alasan apapun, apalagi mengatasnamakan investasi yang jelas tidak memiliki kedudukan di dalam syariat.

“Sehingga di dalam sistem khilafah negara wajib melindungi rakyat, tidak boleh membuat kebijakan yang mendzalimi dan menyengsarakan rakyat. Dengan demikian, semoga umat sudah waktunya mencampakkan sistem kapitalisme demokrasi sekular yang telah menjauhkan berbagai kemaslahatan dari kehidupan umat manusia. Ittaqullah, bertakwalah kepada Allah wahai manusia tegakkan kembali khilafah yang akan mewujudkan tujuan penting syariat islam,” tutup penyampaian tausiayah beliau.

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Tepat!! Ulama, Tokoh, dan Muballigh Parigi Moutong Tolak Permendikbudristek

Dari Sulawesi Tengah, tokoh umat berkumpul menolak aturan yang melegalkan seks bebas. Liberalisasi kehidupan dan …