Umat Islam Wajib Bersatu Dalam Kesatuan Aqidah dan Negara

Kalam KH. Anwar Iman, Pada Multaqo Ulama Aswaja Kota Bogor, Ahad, 31 Januari 2021

“Wajib Umat Islam Bersatu dalam kesatuan aqidah dan Negara dalam Islam”

Musibah terbesar yang menimpa umat Islam saat ini adalah keberadaan mereka terpecah belah secara politik dalam sekat-sekat negara bangsa, dimana setiap negara tegak atas dasar ikatan nasionalisme sempit, dengan pemimpin masing-masing yang menerapkan sistem kufur, baik dalam format demokrasi ataupun monarki.

Keadaan ini jelas tentunya bertentangan dan bertolak belakang dengan Akidah Islam. Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dalam surat Ali Imron ayat 103 berfirman (ayat)  “Berpegang Teguhlah kalian semua dengan tali agama Allah”.

Ayat ini jelas sekali bahwasanya Allah memerintahkan umat Islam semuanya dimanapun umat Islam berada untuk bersatu dan berpegang teguh kepada tali Allah yaitu Dinul Islam.

Dengan kata lain, Allah memerintahkan umat Islam di seluruh dunia untuk bersatu atas dasar Aqidah Islam bukan yang lainnya. Sebaliknya Allah melarang umat Islam untuk bercerai-berai dengan alasan apapun termasuk bercerai-berai karena fanatisme, kesukuan, kebangsaan, nasionalisme ataupun yang lainnya.

Baginda Rasulullah Shallallahu salam telah memerintahkan umat Islam di seluruh dunia untuk hidup dalam satu kesatuan, dalam satu negara kesatuan dengan seorang pemimpin. Rasulullah SAW bersabda di dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim:

”Barang siapa yang membaiat seorang Imam pemimpin atau Khalifah, lalu dia memberikan uluran tangannya dan buah hatinya yakni memberikan loyalitasnya, maka hendaknya dia menahan sekuat tenaga, apabila datang orang lain apabila datang orang lain yang ingin merebut kekuasannya, maka pukullah orang yang ingin merebut itu”.

Hadits ini dengan tegas dan sangat jelas melarang, adanya pembagian atau pemecahan daulah Islam atau negara Islam menjadi atau dua atau lebih. Sebab larangan merebut kekuasaan di dalam hadits ini mafhumnya adalah larangan untuk memecah atau membagi negara islam menjadi dua negara atau lebih. Dalam hadis yang lain Rasulullah salam bersabda

”apabila dibaiat dua orang khalifah maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya” Hadits Riwayat Muslim.

Saat ini dimana negri-negri Islam terpecah belah menjadi lebih dari 50 negara bangsa naudzubillah. Ketika umat Islam diperintahkan untuk bersatu dalam satu naungan negara. Otomatis umat Islam juga diperintahkan untuk memiliki hanya satu orang pemimpin atau kepala negara.

Hal ini diperkuat hadist riwayat Abu Daud beliau bersabda: ”Bila 3 orang keluar untuk berpergian maka hendaklah mengangkat salah seorang untuk menjadi pemimpin atau menjadi Amir”.

Sabda Rasulullah Saw ini memerintahkan kepada umat Islam untuk mengangkat satu orang pemimpin dalam urusan safar, maka berdasarkan mafhum mukhalafah, jika di dalam urusan safar saja diperintahkan mengangkat seorang pemimpin, terlebih lagi dalam urusan yang lebih besar, yang lebih kompleks yakni dalam urusan negara atau pemerintahan.

Jadi jelas bahwa umat Islam wajib bersatu atas dasar ikatan aqidah islamiyah, dalam satu negara dengan kepala negara yakni seorang khalifah atau Amirul Mukminin. Jelas pula bahwa umat Islam dilarang bersatu atas dasar ikatan nasionalisme yang menghasilkan banyak negara bangsa dan banyak pemimpin.

Persatuan umat Islam dalam satu negara kesatuan dan satu kepemimpinan ini bukanlah sebuah Utopia atau khayalan semata. Sejak berdirinya Daulah Islam pertama di Madinah setelah Baginda Rasulullah Saw serta para Shahabatnya Hijrah hingga sepanjang 13 abad lamanya umat islam hidup dalam satu negara kesatuan dan satu kepemimpinan.

Sepanjang 13 abad itu pulalah umat islam memiliki kekuatan politik internasional yang berhasil mewujudkan Islam Rahmatan lil alamiin secara hakiki, juga kekuatan politik yang disegani oleh kawan dan ditakuti oleh lawan.

Setelah itu memang harus diakui pemahaman kaum muslimin terhadap Islam sedikit demi sedikit mulai melemah, di sisi lain negara kafir penjajah mulai berhasil menyusupkan pemikiran-pemikiran kufur ke dalam tubuh umat Islam, seperti sekulerisme, demokrasi, nasionalisme dan sebagainya. Maka persatuan umat pun mulai melemah hingga akhirnya negara kafir menjajah berhasil melenyapkan Daulah Islam yang merupakan institusi umat Islam.

Bukan hanya itu negara kafir penjajah pun memecah belah bekas wilayah-wilayah Daulah Islam dalam banyak negara dan lebih lanjut negeri-negeri Islam itupun dijajah oleh negara kafir imprealis.

Saat ini umat Islam berada dalam tatanan kehidupan yang tidak sesuai dengan Islam dan tidak sesuai dengan perintah Allah dan Rasulnya. Bahkan bukan hanya tidak sesuai dengan Islam, akan tetapi tatanan kehidupan sekulerisme, demokrasi, nasionalisme, kapitalisme termasuk juga isme-isme lain yang diterapkan di negeri-negeri kaum muslimin telah gagal mewujudkan perdamaian dunia, gagal mewujudkan kesejahteraan yang merata, gagal mewujudkan keadilan, gagal mengatasi krisis ekonomi, dan bahkan gagal mengatasi wabah Corona yang melanda dunia.

Karena itu, menjadi kewajiban bagi kita semua wabil khusus para alim ulama, para Kyai, tokoh masyarakat, para Ustadz, untuk berkontribusi dan bersinergi di dalam aktivitas dakwah untuk mengembalikan pemahaman Islam yang shohih, secara kaffah kepada umat Juga membongkar dan mencabut pemahaman-pemahaman kufur, apapun bentuknya, apakah sekulerisme, demokrasi, nasionalisme, kapitalisme, termasuk juga sosialisme dan komunisme.

Semoga Allah SWT memberi kemudahan dan juga keridhoan kepada kita semua dalam menapaki jalan dakwah untuk mewujudkan persatuan umat Islam dalam naungan Daulah Khilafah ala minhajin nubuwah Amin ya robbal alamin.

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Permendikbudristek No 30 Tahun 2021 Bukti Kegagalan dan Ketidakberdayaan Negara Menjunjung Nilai Agama, Moral dan Etika

Surabaya, (shautululama) – Selasa, 30 November 2021 bersama maraknya penolakan terhadap Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, …