Ulama Dukung Gus Nur, Polda Takut Dicap Kriminalisasi Ulama

Surabaya, (shautululama) – Kamis, 22 November 2018, sejak pukul 09.00 WIB para simpatisan dan sejumlah ulama menanti kedatangan Sugi Nur Raharja alias Gus Nur. Mereka berkumpul di sepanjang frontage barat Jl. A. Yani, depan pintu gerbang masuk Mapolda Jatim. Meski tidak diijinkan masuk mereka tetap setia memberikan dukungan moral kepada Gus Nur, sambil mengibarkan bendera Tauhid dan bershalawat asghil di sepanjang jalan dengan tertib dan rapi.

Lebih dari 200 simpatisan Gus Nur hadir di Mapolda, mereka terdiri dari sejumlah ulama, ustad serta muhibbinnya. Beberapa tokoh menyampaikan pandangannya terhadap jeratan hukum Gus Nur ini. Abah Kholiq dari Forum Umat Islam Bersatu (FUIB) Surabaya, Kyai Sukirno Pasuruan, Kyai Chairil Anam Sumenep, serta sejumlah ulama lainnya.

FPI Surabaya bersama sejumlah tokoh dan pengacaranya ikut serta memberikan pendampingan dan dukungan moral bagi Gus Nur memenuhi panggilan Polda Jatim ini. Pemanggilan Gus Nur ke Polda Jatim kali ini merupakan kali keduanya. Setelah sekitar satu bulan sebelumnya juga mendapatkan pemanggilan untuk kasus yang sama.

Menanggapi pemanggilan kali ini, Gus Nur sempat memberikan keterangan kepada awak media sebelum berangkat ke Mapolda Jatim, bahwa dia akan bersikap ksatria dan tidak takut, tidak akan pernah mundur atas kasus pemeriksaan ini.
“Kalau toh pun sampai dipenjara, maka tetap lanjutkanlah dakwah”. Gus Nur juga menyayangkan, dengan berkali-kali dilaporkan, maka yang dirugikan adalah umat.

“Beberapa jadwal ceramah penggalangan dana yang saya lakukan di Riau, Sumatera untuk pembangunan 100 masjid di Palu akibat tsunami jadi tercancel. Maka ini yang dirugikan umat, waktu yang mestinya bermanfaat untuk menolong umat, sekarang mubadhir”, ungkap Gus Nur.

Pemeriksaan terhadap Gus Nur di Subdit V Cyber Crime Ditreskrimum Polda Jatim dimulai siang hingga pukul 17.30. Gus Nur telah ditetapkan sebagai tersangka kasus pencemaran nama baik.

Usai pemeriksaan, ketika ditanya apakah penetapan dirinya sebagai tersangka cukup adil, Gus Nur merasa tidak adil. Karena menurutnya kasus ini diada-adakan.

“Pertanyaannya (adil atau tidak) begitu ya ndak adil, ini kan hanya kasus main-main yang diada-adakan,” tutur Gus Nur.
Gus Nur juga akan bersikap ksatria dan akan menjalani proses hukum dengan sepenuh hati, tak akan protes..
“Nggak kalau kita protes, nggak kecewa juga ndak, kita jalani insya Allah,” pungkasnya

Sementara itu, Penasehat hukum Gus Nur dari LBH Pelita Umat, Ahmad Khozinuddin, memberikan keterangan atas kasus pencemaran nama baik yang menimpa kliennya ini. Sebagaimana disampaikan dalam website resmi LBH Pelita Umat, (http://www.lbhpelitaumat.com) bahwa penyidik Polda Jatim terlalu memaksakan status tersangka Gus Nur. Apa pasalnya?
Pasal 27 ayat (3) UU ITE ini berbunyi :

“(3) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik”.

Karena pasal 27 ayat (3) UU ITE ini hanya menganut tentang norma pasal, penyidik selalu menjuntokan pasal ini dengan ketentuan pasal 45 ayat (3) UU ITE :

“Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak Rp750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah)”.

Karena delik ‘penghinaan dan pencemaran nama baik’ adalah delik aduan, maka proses hukum hanya bisa dilakukan jika pihak yang merasa dicemar dan dihinakan membuat aduan kepada polisi. Dalam kasus Gus Nur, penyidik menjelaskan bahwa Gus Nur diperiksa karena adanya delik aduan pencemaran nama baik NU (Nahdlatul Ulama).

Karena pihak yang dicemar adalah entitas lembaga (Recht Person), saat pemeriksaan Gus Nur Kami Kuasa Hukum dari LBH PELITA UMAT mempertanyakan legal setanding pelapor. Namun pihak penyidik tidak bisa menunjukkan legal standing tersebut.

Lebih lanjut, Kuasa Hukum Gus Nur, menjelaskan, “Seharusnya penyidik memastikan legal standing pelapor sehingga unsur ‘mencemarkan’ dapat jelas dirujuk kepada entitas ormas tertentu dan pihak pelapor memiliki legal standing mewakili ormas tertentu.

Karena nyatanya bukan ditujukan kepada NU tetapi kepada akun Generasi Muda NU. Dimana akun ini sering mengeluarkan ujaran kebencian, dan penghinaan, tidak hanya kepada Gus Nur, tetapi kepada tokoh-tokoh lain juga. Maka yang memiliki legal standing untuk melapor adalah pemilik akun Generasi Muda NU. Pelaporan yang mengatasnamakan lembaga NU batal demi hukum, dan karenanya proses hukum tidak dapat dilanjutkan”, pungkas Khozinuddin.

Usai menetapkan Gus Nur sebagai tersangka, Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera, kepada awak media mengatakan pihaknya hanya mewadahi, tak ingin dianggap melakukan kriminalisasi ulama.

“Di mana letak kriminalisasi yang dilakukan Polda? kecuali itu bukan tindak pidana dijadikan pidana atau tidak ada tindak pidana dijadikan pidana,” kata Barung di Mapolda Jatim, Kamis (22/11/2018).

“Ini ada yang melapor bahkan banyak mengatasnamakan generasi NU dan ada yang melakukan tindakan melanggar hukum mengupload di dunia maya, yang disaksikan semua orang dengan kata-kata yang tidak pantas dikatakan saksi ahli dan bahasa,” imbuh Barung. (red)

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Tepat!! Ulama, Tokoh, dan Muballigh Parigi Moutong Tolak Permendikbudristek

Dari Sulawesi Tengah, tokoh umat berkumpul menolak aturan yang melegalkan seks bebas. Liberalisasi kehidupan dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *