Ulama Aswaja Tapal Kuda Bangkit Menolak Keras Legalisasi Industri Miras, Ajak Kaum Muslimin Tinggalkan Sistem Kapitalisme Demokrasi

Tapal Kuda, Jatim (shautululama) – Para alim ulama Aswaja wilayah Tapal Kuda sepakat untuk menolak legalisasi industri miras, dan mengajak kaum muslimin untuk mengganti sistem kapitalisme dengan Islam. Kesepakatan dari para ulama dari Jawa Timur disebutkan pada Multaqo Ulama Aswaja Tapal Kuda yang digelar Selasa malam, 16 Maret 2021. Mengambil tajuk “Kiprah Ulama Aswaja Selamatkan Negeri, Selamatkan bangsa dari Kekejian Miras, Saatnya Islam Gantikan Kapitalisme Demokrasi-Sekulerisme dan Komunisme”, acara ini dihadiri ratusan ulama, dan ribuan pasang mata yang menyaksikan secara live.

Hadir dalam pagelaran akbar Islami ini, sejumlah ulama sekaligus pembicara antara lain: Gus Ihsan Fadholi (Pengasuh MT. Baitul Muhsinin Gempol Pasuruan), Ust Ismail (Pengasuh MT. Ma’anil Qur’an Probolinggo ,Kyai Nur Huda ( Pengasuh MT. Malam Ahad Lumajang ), Ust. Taukhid ( Pengasuh MT. Abu Nawas Sukorejo Pasuruan), Ust Taufiq (Pengasuh MT Al Qur’anul Adhim Kota Pasuruan ), Ust. Sugeng Pengasuh Majelis Amtsilati Pasuruan, Ust. Suudi (Pengasuh MT Bengkel Panahan Kota Probolinggo), Kyai Budiman (Pengasuh Ponpes Al Quroba Pakuniran Probolinggo), Ust. Indra Fakhruddin ( Direktur Rumah Inspirasi Perubahan Kota Probolinggo ), Kyai Muhammad Bajuri ( Pengasuh MT Darun Nafais Rembang Pasuruan ), dan banyak ulama lainnya.

Mengawali tausiyah, Shohobul Fadhilah Al Mukarrom Kyai Zainulloh Muslim menyebutkan keharaman miras telah menjadi kesepakatan ulama dan kaum muslimin di seluruh wilayah termasuk Indonesia. Dan tentu saja fenomena legalisasi miras pasti akan mendapatkan penentangan dari banyak kalangan Islam, disebabkan banyak dalil Alquran dan Hadits yang jelas menyebutkan keharaman dan larangan khamer atau miras.

“Hal ini telah menuai penolakan dari kaum umat beragama terutama Islam, hingga ada reaksi presiden membuat video pencabutan lembar lampirannya, tetapi tidak ada perpres baru pengganti perpres tersebut. Artinya legalisasi investasi miras jalan terus. Hal ini tidak boleh dibiarkan begitu saja,” ujar Kyai Zainulloh Muslim.

Beliau juga mengingatkan, jika miras merupakan induk kejahatan, pintu kemaksiatan yang selalu menimbulkan kerusakan akhlak, ketidak tenteraman dan bahkan kematian apabila dikonsumsi secara berlebihan.

“Legalisasi miras memiliki dampak kerusakan moral anak bangsa akan jauh lebih besar dibanding harapan keuntungan materi dari industri dan perdagangan miras. Dampak buruk miras tidak hanya membahayakan si peminum tapi juga orang-orang di sekelilingnya,” imbuh beliau.

Beliau juga menambahkan, jika kerusakan dan kemaksiatan merajalela di tengah umat Islam akibat tegaknya kehidupan dan sistem sekuler. Oleh karena itu, harus ada upaya untuk mengganti sistem yang batil tersebut dengan Islam.

“Maka arah perjuangan dakwah harus jelas, yakni untuk terapkan syariat Islam secara kaffah. Dan itu adalah satu-satunya solusi. Perkara ini tidak bisa tidak, harus digawangi oleh ashab al fa’aliyyah al haqiqiyyah. Para ulama sebagai ‘uyunul ummah dan min akhyaril ummah harus berada di garda terdepan. Ulama mempunyai kewajiban bukan hanya menjaga bangsa dari kerusakan dan kehancuran, tetapi juga harus bahu membahu, suka dan duka bersama dalam dakwah yang mulia ini, untuk melanjutkan kehidupan Islam dalam institusi formal,” kata beliau.

Pembicara lain dalam multaqo ini, Shohibul Fadhilah Al Mukarrom Ustadz Indra Fakhrudin memaparkan pentingnya akidah Islam dan syariatnya bagi manusia. Penerapan syariah Islam secara sempurna di ruang individu dan publik merupakan manifestasi dari akidah Islam.

“Menggaris bawahi bahwasanya Allah SWT menurunkan syariat kepada manusia dengan sempurna demi mewujudkan tatanan kehidupan yang penuh dengan kemaslahatan. Rasulullah SAW tampil sebagai sosok yang telah berhasil mengimplentasikan dan sekaligus memvisualisasikan visi besar tersebut melalui kekuasaan negara yang didirikannya dan dilanjutkan oleh para khalifah setelahnya,” tutur ustadz Indra Fakhrudin.

Hubungan Islam dengan kekuasaan tidak dapat dipisahkan. Rasulullah SAW telah memberikan teladan bagaimana Islam menjadi ruh kebaikan terhadap kekuasaan yang beliau pimpin di Madinah.

“Demikianlah Islam dengan kokoh, lahir dari aqidah islam yang diatasnya terpancar syariah islam yang agung dengan sistem khilafah sebagai institusi negara yang mewujudkan dua tugas besar sebagaimana disampaikan oleh Imam Al-Mawardi dalam al-Ahkam as-Sulthaniyyahnya sebagai khiraasatu ad-din dan siyasatu ad-dunya (menjaga agama dan mengurus dunia),” ungkap ustadz Indra.

Di penghujung acara dibacakan Seruan Ulama Pada Multaqa Ulama Aswaja yang dibawakan oleh Ust. Zainuddin.

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Permendikbudristek No 30 Tahun 2021 Bukti Kegagalan dan Ketidakberdayaan Negara Menjunjung Nilai Agama, Moral dan Etika

Surabaya, (shautululama) – Selasa, 30 November 2021 bersama maraknya penolakan terhadap Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, …