Ulama Aswaja Jakarta, KH. Rahmat S Labib, Bukti Kecintaan Pada Nabi Saw adalah Mendahulukan Beliau Di atas yang Lain

Dalam bulan Rabiul Awal, kaum muslimin banyak menyelenggarakan Haflah Maulid Nabi Saw. Hal ini dimaksudkan sebagai ungkapan cinta kepada Rasulullah Saw. Seringkali kita hanya menyatakan cinta kepada Rasulullah hanya sebatas dalam perkataan, tidak mengikuti ajaran beliau.

Membahas masalah cinta (mahabbah) kepada Rasulullah Saw, KH Rohkmat S. Labib, Ulama Aswaja Jakarta, menjelaskan bahwa kewajiban lain yang sangat penting dan juga diperintahkan Allah SWT adalah mencintai Rasulullah Saw. Cinta (mahabbah) lawan dari rasa benci, rasa cinta ini ada dalam hati yaitu ada rasa tertarik dan rasa senang kepadanya. Kita diperintahkan mencintai Rasulullah Saw, bahkan melebihi cinta kita kepada bapak dan anak kita.

KH. Rohkmat S. Labib mengutip hadis dari Abu Hurairah ra, dalam kitab shohih Bukhori, Rasulullah SAW bersabda:
“Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, tidak beriman salah seorang dari kalian sampai aku ini lebih dicintai baginya daripada bapaknya dan anaknya”

Lebih lanjut, beliau juga mengutip hadis dari Anas ra, dalam kitab shohih Bukhori, Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak beriman seorang dari kalian sampai aku ini lebih dicintai dari bapaknya, anaknya bahkan seluruh manusia yang ada”.

Beliau mengutip penjelasan Al Khodiyat dalam membahas hadis tentang cinta ini. Dalam cinta, ada tiga makna. Pertama, ada cinta yang bermakna pengagungan, kemulyaan dan penghormatan itulah cinta anak kepada bapaknya. Kedua, dalam cinta juga ada yang bermakna kasih sayang, itulah cinta bapak kepada anaknya. Dan ketiga, cinta karena ada sesuatu yang bagus itulah cinta kepada semua manusia.

Ketiga unsur cinta ini ada pada cinta kita kepada Rasulullah Saw. Dalam hal ini, kecintaan kita kepada Rasulullah harus mengalahkan segalanya. Artinya ketika ada pertentangan diantara ketiga makna cinta ini, maka kita harus memilih mendahulukan cinta kita kepada Rasul Saw. Bahkan mengalahkan cinta kita kepada bapak dan anak kita, termasuk cinta kepada diri sendiri, harus dikalahkan jika berbenturan dengan cinta kita kepada Rasulullah Saw.

Kyai Labib pun bercerita bagaimana Umar ra, menampakkan cintanya kepada Rasulullah Saw. Suatu saat Sayyidina Umar ra, dipegang tangannya oleh Rasulullah Saw, lalu berkata:
“Demi Allah wahai Rasulullah engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu, kecuali diriku”.

Mendengar perkataan Umar, Rasulullah bersabda:
“Demi jiwaku yang ada di tanganya-Nya, maka tidak beriman seseorang dari kalian sampai aku ini lebih dicintai baginya daripada dirinya”

Mendengar perkataan Rasulullah Saw ini, Umar pun menjawab, “Maka sekarang engkau, Demi Allah lebih aku cintai dari segalanya ya Rasulullah”.
Rasulullah menjawab, “Sekarang sudah benar ya Umar”

Semua hadist di atas menjelaskan bagaimana kita wajib mencintai Rasulullah Saw di atas segala-galanya. Semoga kita termasuk orang-orang yang mencintai Rasulullah dengan cinta sejati.

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Permendikbudristek No 30 Tahun 2021 Bukti Kegagalan dan Ketidakberdayaan Negara Menjunjung Nilai Agama, Moral dan Etika

Surabaya, (shautululama) – Selasa, 30 November 2021 bersama maraknya penolakan terhadap Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *