Ulama Aswaja dan Tokoh Masyarakat Jember: Isu Radikalisme untuk Hantam Islam, Umat Islam dan Organisasi Islam

Jember, Jatim (shautululama) Islamic Lawyers Forum (ILF) Jember pada Ahad (28/7) diselenggarakan oleh LBH PELITA UMAT KORCAB Jember mengambil tema ‘Radikalisme Islam, isu Hukum atau Isu Politik ?’

Hadir sebagai Nara Sumber Habib Novel Bamukmin, SH (Jubir PA 212), Ahmad Khozinudin, SH (ketua LBH PELITA UMAT) dan Dr. Kun Wazis, S.Sos, Si.Kom (Pakar Komunikasi).

Selain itu, sejumlah ulama, kyai dan tokoh masyarakat Jember hadir dalam acara diskusi hukum ini. Nampak di tengah-tengah ratusan peserta diskusi, ulama Jember antara lain: KH. Muhammad Yasin dari PP Al Fatah, Kyai Abdul Karim dari PP. Bahrul Ulum, Kyai Asyrofi Pengasuh PP Darunnajah Banyuwangi, Kyai Ahmadi Pengasuh MT Hubbun Al Quran Jember, Kyai Abrurrahim Pengasuh MT Afwaajaa Jember, dll.

Setelah mengikuti forum diskusi tersebut, redaksi shautululama berusaha mendapatkan tanggapan dari sejumlah ulama yang hadir, diantaranya:
KH Moh Yasin, PP Al Fattah Jember
“Saya sangat bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada panitia acara ILF ini, dan utamanya kepada para nara sumber. Karena menurut saya dengan acara ini umat islam wabil khusus para ulama dan tokoh masyarakat dapat tercerahkan, dan mendapatkan pembelaan hukum, serta terselamatkan dari fitnah-fitnah serta kedholiman orang-orang kafir yang memakai rezim penguasa dan jongos-jongosnya di negri ini”.

Kyai Asyrofi Pengasuh PP Darunnajah Banyuwangi
“Acara ILF sangat bagus dan saya sependapat bahwasannya isu radikalisme yang dihembuskam oleh rezim harus diserang balik dengan radikalisme romantis yang mencerdaskan pada umat”

Kyai Abdurrahim Pengasuh MT Afwaajaa Jember
“Acara ILF sangat mencerahkan bagi kami para ulama, dari paparan pemateri bisa dipahami bahwa radikalisme itu untuk menghantam umat Islam, ajaran Islam dan organisasi Islam. Padahal kemerdekaan negeri ini diperoleh dengan perjuangan para ulama yang mengerakkan santrinya untuk mengusir penjajah”.

Sementara itu dalam diskusi ILF, Habib Novel Bamukmin, menceritakan bagaimana eksistensi PA 212 yang berada di barisan 02 (Prabowo-Sandi) dicap sebagai kelompok radikal. Kondisi itu terus berlanjut hingga puncaknya, terjadi peristiwa Lebak Bulus yang menjadi penanda polaritas diantara pendukung 02 yang pro ulama dan yang hanya mengejar kekuasaan.

“Kami telah berkomitmen untuk aksi mendukung 02 di MK, tetapi tiba-tiba ada instruksi untuk tidak melakukan aksi. Kami, saat itu tegaskan hanya terikat pada komando ulama bukan komando lainnya ” kenang Novel.

Novel juga menceritakan bagaimana aksi damai 21-22 Mei yang tertib tiba-tiba ricuh, kericuhan bahkan dikembangkan dan melebar hingga menyerang markas FPI di Petamburan. Padahal, jarak antara tempat aksi di Bawaslu dengan markas FPI di Petamburan itu jauh.

“Kami tertib, kami damai. Tetapi, ada unsur yang mengubah keadaan. Dan diujung perjuangan kami kecewa terjadi rekonsiliasi tanpa meminta izin ulama. Padahal, sejak awal dukungan politik yang diberikan umat kepada 02 itu atas keputusan ijtima’ ulama” keluh Novel.

Ahmad Khozinudin, menegaskan bahwa isu radikalisme itu adalah isu politik. Bukan isu hukum. Karena umat wajib menggunakan pisau analisis politik untuk membedahnya.

“Motif politik dibalik isu radikalisme yang dijajakan rezim adalah untuk membungkam kebangkitan Islam politik. Karena, saat ini praktis tinggal kelompok politik keumatan yang masih konsisten mengkritisi kebijakan rezim zalim, pasca terjadi tragedi Lebak Bulus dan diikuti jamuan Nasi Goreng di Teuku Umar” demikian, ungkap Ahmad.

Ketua LBH PELITA UMAT ini selanjutnya menegaskan betapa pentingnya umat melawan narasi politik tentang radikalisme. Agar, umat tidak selalu disudutkan dan selalu dipersalahkan.

“Ancaman bangsa ini yang nyata adalah korupsi, bukan radikslisme. Karena itu, yang patut diwaspadai dalam mereka yang terpapar korupsi bukan radikalisme” tambah Ahmad yang mengeluhkan pernyataan Mentistekdikti yang akan mendata mahasiswa dan dosen terkait isu terpapar radikalisme.

Menurut Dr. Kun Wazis, S.Sos, Si.Kom, Informasi yang dijajakan media, bukanlah realitas yang nyata. Melainkan, suatu informasi yang telah di konstruksi dan diframing sesuai kehendak rezim. Isu radikalisme, bukankah isu netral yang merujuk pada devinisi yang netral. Melainkan, isu politik dengan motif politik tertentu.

“Apa yang disampaikan Bang Novel Bamukmin tentang peristiwa 21-22 Mei itu adalah realitas nyata peristiwa, sementara apa yang dikabarkan oleh media ihwal adanya kerusuhan 21-23 Mei adalah realitas yang telah di konstruksi dan diframing” ungkap Dr. kun, Pakar Informasi dan Tokoh Intelektual Jember.

Hal sama juga terjadi pada isu radikalisme, dimana rezim telah mengkonstruksi makna radikal yang netral (mengakar) menjadi makna politik yang diframing untuk mencapai tujuan politik tertentu.

“Saya sependapat dengan Bang Ahmad, bahwa motif dibalik isu radikslisme ini adalah menghadang laju kebangkitan Islam politik. Selain, untuk menutupi borok dan kegagalan rezim mengelola pemerintahan” tambahnya.

Diskusi ILF ini dihadiri sekitar 120 peserta, terdiri dari advokat Jember, tokoh politik, partai, ulama, dan intelektual Jember. Nampak peserta sesak hingga berdiri, dan riuh menanggapi diskusi yang berjalan sangat hangat. [].

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Tepat!! Ulama, Tokoh, dan Muballigh Parigi Moutong Tolak Permendikbudristek

Dari Sulawesi Tengah, tokoh umat berkumpul menolak aturan yang melegalkan seks bebas. Liberalisasi kehidupan dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *