Ulama Aswaja dan Tokoh Jatim Sikapi New Normal, Akan Ada Masanya Kita Diatur dengan Aturan Allah

0
666

Surabaya, (shautululama) – Keprihatinan sejumlah ulama dan tokoh umat di Jatim terhadap kondisi bangsa yang tengah dilanda wabah pandemi, terungkap dalam acara Liqa Syawal Ulama dan Tokoh Umat Jatim. Forum diskusi online ini, mengangkat tema New Normal, Diantara Ancaman Krisis Ekonomi dan Dekatnya Kebangkitan Peradaban Islam”. Hadir sejumlah undangan dari kalangan ulama, kyai, pengasuh pondok pesantren, intelektual dan mahasiswa, dari seantero Jawa Timur.

Dalam acara yang diselenggarakan, Sabtu (13/6/2020) oleh Kaffah Channel Media ini, nampak hadir di layar kaca antara lain: KH. Toha Kholili, Ponpes Munthoha, Bangkalan, KH. Ahmad Jauhari, Pengasuh MT Al Hikam Kediri, KH. Abdul Hamid, Pasuruan, Kyai Bahron Kamal, Malang, dan lainnya.

KUNJUNGI INSTAGRAM KAMI

Liqa Syawal sebagai ajang silaturahmi antara ulama dan tokoh masyarakat seantero Jatim ini menghadirkan pembiacara nasional yaitu: KH. Rohmad S Labib, dan KH. Ismail Yusanto, yang keduanya merupakan Ulama Aswaja Jakarta.

Dalam sambutannya shahibut hajah, Ustad Fajar Kurniawan, menyampaikan salam takdzim kepada para ulama yang terut serta dalam acara ini.

“Al Mukarram KH Thoha Cholili, Kyai Ali Salim, KH Ahmad Jauhari, Kyai Misno, KH Bukhori, KH Abdullah Amroni, KH Ridhoi, KH Muhammad Yasin, KH Muhammad Bahri, Kyai Abdul Hamid Adnan, Kyai Ahmad Sukir, Kyai Syamsuddin Alwahidah, Kyai Bahron Kamal, Kyai Mahmudi Syukri, Kyai Mashuri, Gus Abdul Basith, Kyai Joko Santoso, Kyai Misbah Halimi, Kyai Nizar, Kyai Suhardi Anwar, KH Muhajir, KH Asyrofi, dan Abah Jupri, serta para ulama dan kyai yang hadir dalam majelis ini, yang tidak bisa al faqir sebutkan satu per satu”.

 

Lalu acara dilanjutkan dengan pandangan para tokoh terkait dengan kebijkan New Normal. Hal ini menjadi persoalan penting, karena terkait nyawa masyarakat. Berdasarkan pada sejumlah fakta di lapangan dan pendapat ahli epidemiologi yang menilai bahwa kondisi di Indonesia belum memungkinkan untuk dilakukan new normal. Kasus di sejumlah daerah Indonesia justru menunjukkan peningkatan kurvanya, bukan penurunan, tak terkecuali Jawa Timur.

Mengawali bahasan, Dr. Lukman Noerrochim, Ph.D, Intelektual Surabaya, menyampaikan,
“Kebijakan pemerintah yang tidak cepat dan tanggap, menjadi penyebab utama menyebarnya pandemi corona ini. Ditambah ketidak kompakan pejabat negara dalam mengeluarkan statemen di muka publik menjadikan masyarakat bingung”, ungkapnya

“Pemerintah lebih mengedepankan kepentingan ekonomi, tekanan para pemilik modal, para pengusaha dari pada kepentingan rakyat. Masukan sejumlah pakar epidemiologi tidak diindahkan. Di sisi lain, rakyat merasa tidak diurusi negara kebutuhannya, mereka disuruh tinggal di rumah, sementara tidak ada jaminan kebutuhan hidup. Jelas mereka tidak mau, karena setiap hari mereka butuh makan. Harusnya negara menjamin kebutuhan rakyat saat diminta di rumah, sehingga kebijkan efektif, rakyat aman di rumah dan wabah bisa selesai dengan cepat”, lanjut Dr. Lukman

Kendala keuangan, kurangnya anggaran dalam menanggani wabah covid ini terungkap dalam paparan materi yang disampaikan oleh KH. Rahmad S. Labib, Ulama Aswaja Jakarta. Beliau sampaikan bahwa kondisi keuangan negara sedang tidak sehat, untuk mengurusi APBN saja mereka harus mengandalkan pajak dan hutang, apalagi mengurusi kebutuhan rakyatnya.

“Kita bisa lihat anggaran negara dibiayai dengan pajak dan hutang luar negeri. Ketika ekonomi sulit, maka pajak tidak bisa dipungut, akhirnya hutang yang ditingkatkan. Bahkan di saat rakyat sedang menderita wabah covid, tega-teganya menaikkan iuran BPJS, iuran listrik, dll guna untuk menutupi defisit anggaran. Kalau sistem yang digunakan untuk negara seperti ini, siapapun pemimpinnya pasti akan pusing, meski diganti pemimpin berkali-kali”, papar Kyai Rahmad.

Lanjut beliau, “Hal ini disebabkan kesalahan manajemen dalam mengurus sumber daya alam yang melimpah. Meskinya sumber daya alam yang melimpah ini dikelola oleh negara untuk digunakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Nyatanya justru diserahkan ke pengusaha, baik asing maupun aseng. Negara hanya puas dengan mendapatkan pajaknya”

Sementara KH. Ismail Yusanto, Ulama Aswaka Jakarta, beliau menanggapi kebijakan new normal ini sebagai kebijakan untuk kepentingan pengusaha bukan untuk kepentingan rakyat.

“Coba kita lihat, WHO telah menetapkan syarat bagi suatu negara untuk melaksanakan new normal dan tidak ada satu syarat pun yang bisa dipenuhi oleh negara”, ungkas Kyai Ismail.

“Diantara syarat itu, penurunan kasus harus 50 persen sejak masa puncak pandemi. Posisi kita ini sekarang dimana, tidak jelas. Apakah sekarang sudah selesai masa puncak, atau justru sekarang menuju pucaknya, kalau dibuka akan ambyar, berjatuhan korban. Syarat lainnya kasus terkonfirmasi harus dibawah 15 persen dan tentu saja jumlah kematian”, ungkap Kyai Ismail menguatkan argumennya

Sementara padangan ulama lainnya, KH. Toha Cholili, Pengasuh Ponpes Munthoha, Bangkalan Madura, menyampaikan bahwa dalam menyikapi pandemi covid ini, harus diserahkan kepada ahlinya. Jangan sampai membuat kebijakan yang tidak didasarkan pada pendapat ahli, maka akan merugikan rakyat.

“Bicara virus ada ahlinya, bicara ekonomi ada ahlinya, maka pendapat mereka harus diperhatikan. Al faqir sebagai orang yang mengurusi pondok maka bicara pada bidangnya”, ungkap Kyai Toha

Mengawali tausyiyahnya beliau sampaikan, kita hidup harus lebih baik hari esok dibanding hari kemarin. Kalau hari esok lebih jelek, kita termasuk orang yang merugi. Al Faqir sampaikan, “Kita diciptakan oleh Allah, dan kita diperintahkan untuk taat beribadah melaksanakan syariatnya, maka kita harus laksanakan sehingga akan menjadi berkah. Sebaliknya jika kita berpaling dari peringatan Allah, maka kehidupan kita akan sempit, susah, sebagaimana mewabahnya virus saat ini. Saatnya hidup kita ini diatur dengan aturan Allah SWT, akan datang masanya bahwa kita akan diatur oleh syariat Allah SWT”.

Acara yang dimulai sejak pukul 09.00 hingga pukul 12.00 WIB ini, disiarkan lewat Youtube Kaffah Channel dengan ribuan jumlah viewer serta ditambah pemirsa di Zoom.

Acara diakhiri dengan doa yang dibacakan oleh Kyai Abdul Karim Wulyo dari Ponpes Al Ihsan Baron, Nganjuk, Jawa Timur