Terapkan Hukum Allah SWT Secara Kaffah, Hidup Kita Berkah

Sukajaya, Bogor (shautululama) – Ahad 2 Feb 2020 diadakan Daurah Ulama was Asaatidz di Posko ISN, Harkat Jaya, Kec. Sukajaya, Kab. Bogor menghadirkan KH. Muhyiddin dari pimpinan Ponpes An-Nuur, Kaung Gading, Pamijahan.

Di masa ke Khilafahan Umar bin Khaththab ra, pernah terjadi gempa, dan saat itu Khalifah Umar mengetuk bumi, berharap kepada Allah agar bumi jangan dulu terjadi gempa yg lebih dahsyat, dan seketika gempa berhenti.

Kalau saat ini di negeri kita sangat sering datang musibah bencana gempa dan banjir serta longsor, karena sesungguhnya kita disini sangat jauh dari aturan Allah SWT. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Surat Ar-ruum ayat 41.
“Telah nampak kerusakan didaratan dan dilautan akibat perbuatan tangan2 manusia…” Para Mufassir menjelaskan bahwa frase “bimaa kasabat aydinnas” Karena ulah manusia yang bermaksiyat kepada Allah, Pohon2 dan tumbuh2an yang seharurusnya dirawat malah digunduli bahkan diekploitasi, maka terjadilah dampak bencana longsor dan banjir, disampaikan KH. Muhyiddin.

Ditambah bahwa hukum2 Allah yang saat ini banyak dicampakan, seperti masalah politik, ekonomi, sosial budaya serta pertahanan keamanan dan hukum pemerintahan, malah menjadikan aturan dan hukum selain Allah sebagai pemutus segala permasalahan yang terjadi.

Padahal dengan sangat jelas bahwa AlQur’an dan Hadits begitu juga Ijma’ serta Qiyyas, telah banyak menyampaikan wajibnya menjadikan Islam sebagai aturan yg harus diterapkan sebagai salah satu konsekuensi keimanan kepada Allah dan RasulNya.

Begitu pula para Ulama Mu’tabar mewajibkan mengangkat seorang pemimpin untuk mengurus urusan umat, yakni sebagai tajjul furudh (mahkota nya kewajiban). Bahkan sangat pentingnya urusan kepemimpinan ini, para shahabat RidhwanuLlaahu ‘alaihim lebih mendahulukan mencari siapa pengganti Rasulullah yang meneruskan urusan pemerintahan Dan kenegaraan, dibandingkan sesegera mungkin menguburkan jenazah beliau Saw yang Mulia.

Maka oleh karenanya jika kita ingin mendapatkan berkah dari Allah dan dijauhkan dari musibah dan bencana, terapkan hukum Allah secara Kaffah, sebagaimana yg pernah diterapkan dimasa Rasulullah dan Khulafa’u Rasyidiin, bukan dengan mencampakan aturan Allah, diganti dengan sistem Demokrasi Kapitalisme, atau sistem yg lain. Tegas KH. Muhyiddin menutup Kalimah di daurah ahad ini. (FAZ)

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Tepat!! Ulama, Tokoh, dan Muballigh Parigi Moutong Tolak Permendikbudristek

Dari Sulawesi Tengah, tokoh umat berkumpul menolak aturan yang melegalkan seks bebas. Liberalisasi kehidupan dan …