Tegas! Usir Duta Besar Prancis

Jakarta, (shautululama) – Terlalu! Bukan kali ini saja Prancis melakukan penistaan terhadap Islam, baik penghinaan terhadap Rasulullah Muhammad Saw, jilbab, atau ajaran Islam lainnya.

Saat Khalifah Abdul Hamid, dari Turki Ustmani masih eksis, Kedutaan besar Prancis pernah mengajukan ijin akan menggelar pentas seni yang di dalamnya ada konten menghina Nabi Muhammad Saw. Maka Sang Khalifah yang pemberani ini langsung memanggil Duta Besar Prancis, sang Khalifah instruksikan batalkan acara itu. Jika tidak, maka keluar dari negeri kami. Kontan, sang Duta Besar Prancis, langsung membatalkan acara pentas seni dengan dalih kebebasan berekspresi ini.

Saat ini, kaum muslimin butuh pemimpin seperti Khalifah Abdul Hamid, yang berani bersikap tegas terhadap penistaan Islam.

Dalam aksi damai “Mengecam Pernyataan Presiden Prancis Macron Pemberi Restu Penghinaan Nabi Muhammad SAW” oleh Aliansi Ormas Muslim Indonesia pada Rabu (4/11/2020) di Jakarta, para orator penyayangkan sikap pemerintah yang diam atas penistaan terhadap panutan umat Islam sedunia ini.

Berkaitan dengan penghinaan Nabi Muhammad SAW oleh Prancis, KH Rokhmat S Labib, Ulama Aswaja Jakarta, menyerukan bahwa bentuk Kecintaan pada Nabi Muhammad SAW diwujudkan dengan memutus hubungan diplomatik dengan Prancis.

“Kita perlu penguasa yang cinta pada nabi. Jangankan boikot, memanggil Dubes Prancis saja tidak berani. Seharusnya, wujud kecintaan nabi diwujudkan dengan memutus hubungan diplomatik dengan mereka, usir kedubes prancis dari sini!” tegas beliau.

Lebih lanjut, beliau sampaikan, namun, saat ini umat tidak bisa berharap pada penguasa saat ini. Karena penguasa saat ini tidak diangkat untuk menjalankan syariat, namun menjalankan undang–undang.

“Tapi bisakah kita berharap pada mereka? Mereka mengatakan kami tidak diangkat untuk menjalankan syariat, tapi menjalankan undang – undang yang ada. Jika tak ingin Rasulullah dicaci maki dan dihina, maka umat islam harus berjuang menegakkan apa saudara? Khilafah!,
jawab peserta aksi serentak”.

Kemudian, Kyai Labib, begitu beliau biasa dipanggil, melanjutkan bahwasannya penguasa yang dituturkan oleh Nabi Muhammad SAW adalah khilafah. Dan dengannya, rakyat bisa membela Nabi Muhammad SAW.

“Yang disebut nabi sebagai penguasa pasca beliau adalah khilafah ala minhaji nubuwwah. Adakah yang disebut presiden ? Kerajaan? Kekaisaran? Maka jangan berharap pada penguasa yang sejak awal tidak mencintai nabi. Mereka memang mengecam, tapi apakah cukup? Penguasa punya pasukan, punya rakyat, andai penguasa menyerukan rakyatnya untuk membela nabi, maka rakyat dan pasukannya akan bergerak” pungkasnya.

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Permendikbudristek No 30 Tahun 2021 Bukti Kegagalan dan Ketidakberdayaan Negara Menjunjung Nilai Agama, Moral dan Etika

Surabaya, (shautululama) – Selasa, 30 November 2021 bersama maraknya penolakan terhadap Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, …