Taushiyyah Para Ulama dalam Majlis Bisyarah Nabawiyyah Pasuruan-Jatim, Ulama Jangan Berdiam Diri!

Rembang, Pasuruan, (shautululama) – Para kyai dan ustadz pengasuh majelis taklim menggelar acara Majelis Bisyaroh Nabawiyah yang mengambil tajuk “Kepemimpinan Dalam Islam”, dilaksanakan pada pukul 06.30 WIB di kompleks Madrasah Nurul Mas’ud, Orobulu, Rembang.

“Antum itu sebagai ulama jangan berdiam diri! Sebab ke depan guncangan dalam membela agama Allah akan semakin besar. Jangan menjadi penonton saja. Jadilah benteng umat untuk melawan para pengusung paham-paham sesat, seperti sekulerisme, kapitalisme, dan liberalisme.”, kata Gus Rohibni saat membuka acara.

Acara yang dihadiri lebih dari 300 hadirin lebih ini dipandu oleh MC ustadz Umar Faruq. Sebelum acara dimulai, dilaksanakan tahlil dan istighosah bersama terlebih dahulu.

Acara inti Majelis Bisyaroh Nabawiyah yakni penyampaian kalimatu minal ulama. “Kondisi umat sekarang ini di berbagai negara, termasuk di Ghazali, Suriah, Uighur, dan juga Indonesia sendiri sangat mengenaskan. Di sana menangis, mereka bersedih bukan karena bom dan penyiksaan tetapi karena saudara-saudaranya tidak ada yang memberikan pertolongan.”, kata Gus Fauzan Bisri.

“Dimanakah wujud innamal mukminuna ikhwah saat terjadi penindasan kaum muslimin di berbagai negara? Jangan mengharap pada antek-antek penjajah kapitalis asing dan aseng, mereka tidak akan menolong sebab merekalah sendiri memusuhi syariat Islam dan para ulama yang memperjuangkan.”, lanjut Gus Fauzan penuh semangat.

Kalimatu minal ulama yang kedua disampaikan oleh KH. Sofyan. “Dalam Islam telah ditentukan syarat-syarat kepemimpinan. Tujuh syarat tersebut yakni muslim, laki-laki, baligh, berakal, adil, merdeka dan mampu.”, kata beliau dengan menjelaskan dalil-dalilnya.

“Sifat adil sangat diperlukan oleh seorang pemimpin, apalagi pemimpin sebuah negara. Adil itu memutuskan segala sesuatu dengan memakai hukum Islam. Begitu pula dengan syarat merdeka, kalau sekarang ini pemimpin tidak boleh menjadi antek negara-negara penjajah.”, tutur KH. Sofyan.

“Syarat mampu dapat dilihat dari kepemimpinannya, tidak pernah apalagi terbiasa mengingkari janji. Dan juga dapat menghantarkan kesejahteraan bagi rakyatnya. Bila kita menggunakan syarat-syarat ini, insyaAllah dapat terhindar dari pemimpin ruwaibidhah, atau para pemimpin bodoh.”, tegas beliau.

Selanjutnya Kyai Lukman Aziz memberikan tausiyahnya. “Pertemuan kali ini kita tujukan untuk izzul Islam wal muslimin, mengambil bagian dari perjuangan demi ridho Allah SWT. Barangsiapa tujuannya pada dunia, seperti pujian, sanjungan, atau dunia maka dia tidak akan mendapatkan syafaat Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam dan ridho Allah SWT.”, tutur beliau.

“Rasulullah shalallahu alaihi wasallam memberikan contoh bukan hanya dari segi diri dan keluarga saja, tapi semuanya sudah dicontohkan Beliau. Sampai dalam segala tindakan yang tujuannya mencapai kemenangan Islam”. ujar Kyai Lukman Aziz.

“Tidak ada yang mengalahkan dzikirnya Rasulullah di sela-sela dakwah amar makruf nahi mungkar. Begitu pula tidak ada yang mengalahkan dakwah dan jihad beliau shalallahu alaihi wassalam.” papar Kyai Lukman Aziz.

“Obyek dakwah yang pertama yakni mengajak orang kafir masuk Islam, dan yang belum kenal Islam diajak untuk lebih mengenal Islam. Kemudian lingkup dakwah yang kedua amar makruf nahi mungkar. Orang-orang yang paham Islam diajak untuk mengamalkan, dan bagi yang bermaksiat harus dicegah.” tegas beliau.

“Lingkup dakwah ketiga yaitu jihad. Jihad pun ada aturannya sebagaimana kafir itu juga dibagi menjadi kafir dzimmi dan kafir harbi. Sekarang kita mengambil bagian yang mana dalam perjuangan, bisa lewat jihad medsos untuk mengkounter paham-paham yang salah.” papar beliau.

Kyai Ahmad Sukirno sebagai pemateri terakhir menyampaikan kepemimpinan ideal menurut Islam. “Pemimpin yang baik harusnya mencontoh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam memimpin umatnya, Rasulullah bukan hanya pemimpin dalam agama tetapi juga kepala negara atau daulah.”, terang beliau bersemangat.

“Umar bin Khattab terkenal ketegasannya pun sangat memperhatikan dan cinta pada rakyatnya. Dalam sebuah kisah, beliau dengan Aslam ajudannya berkeliling di tengah malam untuk mengetahui kondisi rakyatnya. Hingga beliau sendiri memanggul gandum untuk diantarkan pada seorang janda miskin yang membutuhkan.”, tutur beliau yang disimak serius hadirin.

“Selanjutnya Umar bin Abdul Aziz yang awalnya rakyat masih menerima zakat kemudian tidak ada yang berhak menerima zakat, beliau hanya memimpin 2,5 tahun saja. Jadi pemimpin yang baik itu yang meneladani Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.”, tegas beliau.

Acara ditutup dengan pembacaan pernyataan ulama yang disampaikan ust. Muslim, kemudian doa bersama dan ramah tamah. (red)

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Permendikbudristek No 30 Tahun 2021 Bukti Kegagalan dan Ketidakberdayaan Negara Menjunjung Nilai Agama, Moral dan Etika

Surabaya, (shautululama) – Selasa, 30 November 2021 bersama maraknya penolakan terhadap Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *