Tata Dunia Baru Pasca Pandemi Virus Komunis China, Saatnya Islam Menggantikan Kapitalisme dan Komunisme

Bagian satu

Jakarta, (Shautululama) — Pandemi virus komunis China yang menyebar ke seluruh dunia telah menampakan kegagalan ideologi dunia, Komunisme dan Kapitalisme dalam melayani rakyat yang terkena wabah ini. China sebagai negara awal virus ini berasal, telah nampak jelas dibuat porak poranda baik secara ekonomi, politik maupun pertahanan dan keamanan.

Kini China telah menghadapi persoalan yang sangat pelik baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Rakyatnya menuntut pelayanan yang lebih baik dari negara, banyak pengangguran, kemiskinan yang tinggi, serta pelayanan kesehatan yang jelek sehingga menyebabkan wabah menyebar tak terkendali.

Dari dunia internasional China juga menghadapi tuntutan dari negara seterunya yang notabene sebagai pengusung ideologi kapitalisme dunia yaitu Amerika Serikat. Tak tanggung-tanggung Penasehat Perdagangan Gedung Putih, Peter Navarro, menyebut partai komunis China (PKC), menyebarkan virus ke seluruh dunia.

Sejumlah negara Eropa akan menarik investasinya dari China. Hal ini tentu menjadi persoalan pelik bagi negara Komunis China. Oleh karena itu, tidak layak negara seperti dijadikan mitra bagi negara kita untuk menyelesaikan krisis multidimensi yang melanda negeri kita tercinta. Bukannya kerjasama kemitraan yang didapat, justru negeri ini akan menjadi koloni jajahan baru bagi China.

Hal itu bisa kita lihat dengan jelas dengan sejumlah kebijakan negara yang memberikan karpet merah bagi China, model investasi turnkey project, masuknya tenaga kerja asal China di tengah pengangguran yang tinggi di negeri ini, lahirnya Omnibus Law yang melayani kepentingan pemilik modal.

Amerika serikat, serta negara Eropa pengusung kapitalisme seperti Inggris, Perancis, Belanda, Jerman, Spanyol, dll juga dibuat porak poranda akibat pandemi virus PKC ini. Kekuatan ekonomi dan militer mereka tumbang, tuntutan dari dalam negeri, rakyat meminta perhatian dan pelayanan yang lebih baik dari negara. Tingginya korban virus, pelayanan kesehatan yang jelek karena selalu dikaitkan dengan biaya yang mahal, hanya yang memiliki uang yang bisa mendapatkan pelayanan kesehatan dari negara.

Bahkan dalam sidang PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang berlangsung beberapa waktu yang lalu, para pemimpin negara-negara dunia telah membahas masa depan dunia pasca pandemi. Ini menjadi isu penting dalam sidang PBB karena mereka melihat negara-negara pengusung ideologi komunis dan kapitalis tidak mampu lagi mengendalikan dunia.

Melihat kondisi pandemi yang belum juga berakhir, bahkan semakin hari, semakin bertambah korbannya, jauh hari sebelum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) membahas masa depan dunia pasca pandemi, para ulama yang muklis, para ulama ahkerat, ulama pejuang agama Allah telah membahas persoalan tersebut.

Sejumlah Multaqa Ulama Aswaja digelar secara masif di seluruh nusantara sejak bulan Mei 2020 dan terus berlangsung hingga kini dengan tema sentral “Masa Depan Dunia Pasca Pandemi, Tinggalkan Kapitalisme, Komunisme Menuju Islam”

Dalam forum berkumpulnya para ulama secara daring ini juga sebagai sarana silaturahmi para ulama, kyai pengasuh pondok pesantren, pengasuh majlis taklim yang sudah lama mereka tidak bisa ketemu secara langsung karena pandemi ini.

Dalam sejumlah Multaqa Ulama Aswaja di seluruh Nusantara, para ulama menyampaikan aqwal minal ulama, bahwa sudah saatnya umat Islam meninggalkan isme-isme atau aturan bikinan manusia, karena sudah terbukti gagal mensejahterakan manusia. Penderitaan dan bencana silih berganti menimpa umat manusia akibat mereka meninggalkan aturan Allah SWT.

Para ulama menyeru kepada para penguasa, pemegang kekuasaan, ahlul quwwah agar meninggalkan sistem kapitalisme demokrasi maupun komunisme sosialis karena sistem inilah yang telah membuat mereka terpuruk, tidak bisa menjadi bangsa yang mandiri, justru menjadi negara jajahan, dieksploitasi sumber kekayaan alamnya untuk kepentingan para pemilik modal negara kapitalis. (hs)

 

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Tepat!! Ulama, Tokoh, dan Muballigh Parigi Moutong Tolak Permendikbudristek

Dari Sulawesi Tengah, tokoh umat berkumpul menolak aturan yang melegalkan seks bebas. Liberalisasi kehidupan dan …