Tabligh Akbar Muharram 1441H, Hijrah adalah Perubahan Menuju Kehidupan Islam, Sistem Islam, Khilafah Islam

Bogor, (shautululama) – Semarak Tahun Baru Hijriyah kali ini juga berlangsung di Bogor pada Ahad (1/9/2019). Berbondong bondong umat Islam di sekitar wilayah Bogor menghadiri Tabligh Akbar 1 Muharram 1441 H. Suasana kegembiraan, kekhusyuan, dan kesyahduan terlihat pada wajah setiap peserta yang hadir semangat terpancar nampak dari maksimalnya jamaah memadati tempat yang disediakan.

Nampak hadir para Ulama, Kyai, Assatidz, Tokoh masyarakat yang ada di Bogor serta jamaah majlis taklim yang membludak.

“Diperkirakan ada lebih dari 2500 jamaah yang hadir”, Ketua Panitia ust. Abu Fatih Al- Bakasyi dalam menjawab pertanyaan kami.

Sebagai shohibul bait Pimpinan Majlis Ats- Tsaqofiyah Ustadz H. Fahmi Abu Fatih memberikan sambutan yang hangat dan inspiratif. Momentum tabligh akbar ini menandai kerinduan umat Islam seluruh dunia dalam meneladani sirah Rasulullah SAW. Dan mengajak umat Islam untuk hijrah menuju syariah kaffah

“Kemana kita hijrah?,” tanya beliau
Dijawab serentak oleh peserta.
“Hijrah menuju syariah kaffah”

Ceramah utama yang disampaikan oleh KH Hafidz Abdurrahman, mengupas tuntas tentang hijrah, baik subtansi maupun esensinya. Beliau menjelaskan bahwa penetapan kalender Tahun Baru Islam ditetapkan ketika ‘Umar bin al-Khattab menjadi Khalifah (13-23 H/634-644 M). Setelah beliau melakukan musyawarah dengan para sahabat Rasulullah salla-Llahu ‘alaihi wa sallama. Yang dijadikan dasar, bukan hari kelahiran Nabi, juga hari wafatnya Nabi, yaitu 12 Rabiul Awwal, tetapi hijrah Rasulullah salla-Llahu ‘alaihi wa sallam. 

Beliau melanjutkan, karena Bai’at Aqabah II ini terjadi di pertengahan bulan Dzulhijjah, maka awal bulan berikutnya, yaitu 1 Muharram ditetapkan sebagai “Hari Pertama” kemenangan itu.

Inilah penjelasan yang memuaskan akal dan menentramkan hati, mengenai alasan dipilihnya 1 Muharram sebagai tahun baru Islam. Tahun yang menandai kemenangan Islam dan umatnya, setelah Bai’at Aqabah II, dan Islam mendapatkan kekuasaan, ditandai dengan berdirinya negara Islam di Madinah.

Bai’at Aqabah II inilah yang ditakuti oleh Iblis, sehingga Iblis naik di atas bukit, dan berteriak, agar rahasia Rasulullah diketaui oleh kaum Kafir Quraisy [al-Mubarakfuri, ar-Rahiq al-Mahtum, hal. 138]. Iblis yang panik dengan peristiwa Bai’at ‘Aqabah II, akhirnya menyusup dalam pertemuan kaum Kafir Quraisy di Darun Nadwah, dengan menjelma menjadi kakek-kakek tua renta.

Ketika Nabi mengetahui Bai’at ‘Aqabah II tersebut diketahui oleh Iblis, maka segera Nabi titahkan kepada kaum Anshar untuk kembali, dan tutup mulut. Karena itu, ketika kaum Quraisy mendatangi kaum musyrik Yatsrib, termasuk Abdullah bin Ubay bin Salul, tak satu pun mereka yang mengetahui peristiwa tersebut.

‘Aqabah itu terletak di Mina. Mina itu, kata Nabi, “Ma Baina al-Jabalain”  [Lembah yang terletak di antara dua gunung]. Karena itu, tempat ini sangat tersembunyi. Tempat yang tak jauh dari tiang ‘Aqabah, tempat jamaah haji melempar Jumrah ‘Aqabah, di tanggal 10 Dzulhijjah. Tak jauh dari tempat itulah, Bai’at ‘Aqabah II itu dilaksanakan oleh Nabi. Di tempat itulah, kini berdiri Masjid Bai’at, yang dibangun oleh Khalifah Abu Ja’far al-Manshur, Khalifah kedua, di era Khilafah ‘Abbasiyah.

Ketika kaum Kafir Quraisy tak mendapatkan informasi apapun tentang Bai’at ‘Aqabah II dari orang-orang Yatsrib, selain informasi dari Iblis tadi, maka mereka pun merasa tenang. Sampai akhirnya, apa yang mereka takutkan itu benar-benar menjadi kenyataan, setelah Nabi hijrah, meninggalkan Makkah, dan selamat dari endusan dan pegejaran kaum Kafir Quraisy, hingga sampai di Madinah. Abdullah bin Ubay pun baru tahu, setelah Nabi sampai di Tsaniyatu al-Wada’, ketika disambut begitu luar biasa oleh penduduk Madinah.

Maka, Bai’at ‘Aqabah, yang merupakan bai’at nushrah wa man’ah itu menjadi tonggak kemenangan. Karena ini bukan bai’at untuk kenabian dan kerasulan, tetapi bai’at untuk memberikan kekuasaan kepada Nabi. Bai’at inilah yang kemudian dijadikan sebagai pedoman sahabat dalam pengangkatan Khalifah, pengganti Nabi. Dengannya, para sahabat berijmak mengangkat Abu Bakar as-Shiddiq menjadi Khalifah.

“Jadi, Iblis sangat membenci hijrah ini, dan jika sekarang ada orang atau kelompok yang membenci hijrah dengan tujuan yang sama yaitu kembali kepada Islam, maka mereka adalah?”, tanya beliau, dan dijawab serentak oleh jamaah yang hadir, “ Iblis !”.Selanjutnya secara beriringan KH. Ahmad Afif dan Kiyai Usman Kamaludin, tak kalah semangat dalam menggelorakan seruan hijrah menuju syariah kaffah dengan kharismanya masing masing.

Suasana kian memuncak dengan pembacaan puisi “Hijrah Menuju Syariah Kaffah”. Puisi dibacakan oleh Ustadz Khoiruzzaman. Berkali-kali takbir, syariah, dan khilafah dikumandangkan. Peserta pun larut dalam suasana haru. Tak kalah dengan itu, anak-anak remaja tampil mengibarkan bendera aliwa’ dan ar-rayah. Peserta yang hadir pun mengabadikan momen mengharukan generasi pejuang Islam itu disampaikan sebagai bahan dakwah kepada publik di sosial media.

Acara ditutup dengan doa yang dipandu oleh KH. Abdullah Arif dan dilanjutkan dengan ramah tamah.

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Dalam Islam Kedaulatan Hanya Milik Allah

Surabaya, (shautululama) – Ahad, 21 November 2021, telah berlangsung Multaqa Ulama Aswaja Surabaya Raya dengan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *