Tablig Akbar Muharram 1441H DIY, Hanya Islam yang Mampu Mewujudkan Persatuan Dunia

0
250

Yogyakarta, (shautululama) -“We Are The World” bagi Barat yang adikuasa hanyalah slogan yang berujung pada lagu indah dan konser amal. Satu kesatuan dunia tidak pernah benar-benar terwujud nyata dan menyelesaikan persoalan dunia, karena mereka tidak memiliki konsep tentang mimpi ini”, demikian ucap Gus Junaedi Ath Thayyaibi pada sesi akhir Tabligh Akbar Muharram, Sabtu 31 Agustus 2019 di Yogyakarta.

Hanya Islam yang mampu menjawab kebutuhan ini, dan memang Islam pernah membuktikannya. Dua pertiga dunia pernah disatukan Islam dalam sebuah peradaban gemilang selama belasan abad. Semua dimulai sejak hijrah Rasulullah 1441 tahun yang lalu. Rasulullah SAW membangun negara Madinah sebagai cikal bakal peradaban Islam.

KUNJUNGI INSTAGRAM KAMI

Ya, karena negara Islam tidak berhenti hanya di Madinah, juga tidak berhenti sebatas usia Rasulullah. Dalam sesi story telling, ustadz Pedyanto memaparkan bahwa semasa hidupnya Rasulullah menyampaikan bisyarah, bahwa sepeninggal beliau, masa kenabian akan berlanjut dengan Khilafah Rasyidah yang berdiri di atas manhaj kenabian, dan setelah berganti masa, Khilafah Rasyidah ini akan tegak lagi kelak di penghujung jaman.

Sejarah menunjukkan para Shahabat memang kemudian melanjutkan kepemimpinan Islam sepeninggal Rasulullah. Bahkan para Shahabat begitu bergegas dan menganggap perkara pergantian ini lebih mendesak ketimbang perkara pemakaman jenazah Rasulullah yang mulia.

Demikian pula ustadz Edi Subroto dalam sesi ceramahnya juga menyampaikan, “Jika ada orang yang menganggap penegakan Khilafah ini tidak mendesak, maka mereka menyelisihi Shahabat!”
Ijma’ Shahabat bukan sekedar ijtihad Shahabat. Kedudukannya adalah sebagai salah satu sumber hukum di dalam Islam yang tidak boleh seenaknya diabaikan.

“Betapa pentingnya momen hijrah, karena dengan hijrah Rasulullah dan kaum muslimin jadi memiliki negara sebagai penerap syariah dan pengemban dakwah ke berbagai penjuru negeri,” jelas ustadz Yusuf Mustaqim sebagai pembicara.

Hijrah Nabi mengantarkan umat kepada kemurnian aqidah, keharmonisan sosial, kesetiakawanan ekonomi dan kekuatan politik. Dengan sebab itu, peradaban Islam membesar dan mulai menjadi rahmat bagi dunia, termasuk Indonesia yang mengenal Islam karna adanya misi dakwah oleh Khilafah. Negara bangsa yang mengabaikan dan tidak memiliki misi ini tidak bisa dikatakan sebagai negara yang meneladani Nabi.

Drs. H. M. Husein Dahlan, salah satu tokoh aktivis Islam senior di Yogyakarta, juga hadir dan menyampaikan pemikirannya bahwa inilah penghujung jaman yang dijelaskan Rasulullah. Banyak ciri yang dijelaskan dalam hadits kini tampak jelas. Bolak-baliknya kebenaran dan kesalahan, yang benar dianggap salah, yang salah dianggap benar, orang fasik menjadi pemimpin, dan sebagainya.

Ketakutan pada bendera tauhid, adalah jahiliyah yang nyata. Kaum yang selalu meneriakkan harga mati untuk memerangi Khilafah, namun diam tak berdaya menghadapi kelompok separatis, adalah bentuk kemunafikan yang nyata pula.

Dalam akhir sesi story tellingnya, ustadz Pedyanto memberi motivasi pada jamaah. Kisah Rasulullah belum berakhir, jadilah kita aktor-aktor di dalamnya dengan menjadi pewujud bisyarah terakhir, Khilafah ‘ala minhajjin Nubuwwah.
Kita memang manusia biasa, tapi kita punya cita-cita yang luar biasa, ordinary people with extraordinary ideas, pungkasnya.

Saat itulah kemudian tagar #WeAreTheWorldKhilafah dikumandangkan secara serempak dan menjadi trending dunia. Semoga dari trending ini adalah penanda akan terwujudnya kembali Khilafah yang benar-benar menjadi pemimpin dan menyatukan dunia secara nyata.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here