Shalat Idul Adha 21 Agustus di Batu; Khilafah Bagian Penting Ajaran Islam

Batu, Jawa Timur (shautululama) – Hotel Mutiara Panderman, Masyarakat Tanpa Riba kota Batu dan Majelis Ta’lim Taqarrub IlALLAAH Kota Batu menyelenggarakan Solat Idul Adha 1439 H pada hari Selasa (21/8/2018), sekitar 300 jamaah memadati lokasi solat yang bertempat di area parkir Hotel Mutiara Panderman Jl. Gondorejo, Samping BNS Oro Oro Ombo.

Solat Idul Adha yang dilaksanakan pada hari Selasa (21/8/2018) ini merujuk rukyatul hilal global dan keputusan Amir Makkah sebagai penyelenggara Ibadah Haji.

Bertindak sebagai imam solat adalah Ustadz Al Hafidz Fahmi Syihab, dan sebagai khotib: KH. Mahmudi Syukri, pengasuh Pondok Pesantrean Darul Muttaqien Kota Batu. Diawal khutbahnya Kyai Mahmudi mengajak agar kaum muslimin muhasabah diri atas berbagai nestapa dan derita bangsa ini, dengan merefleksi ulang peristiwa Haji Wada 14 abad silam, beberapa bulan sebelum Baginda Nabi Muhammad menghadap Allah SWT.

Kyai Mahmudi memaparkan ada tujuh hal penting yang bisa kita petik dari khutbah Haji Wada yang disampaikan Nabi Muhammad SAW diantaranya:
1. Bangsa Arab dengan non Arab dinilai keunggulnya dari ketaqwaan-nya.
2. Menjaga darah, harta, dan kehormatan sesama.
3. Mari Meninggalkan tradisi jahiliyah, termasuk riba yang tersistem yg berpeluang membangkrutkan negeri ini.
4. Memuliakan wanita dalam suka duka.
5. Memelihara tali persaudaraan sesama kaum muslimin.
6. Menyampaikan nasehat ke orang lain termasuk menasehati penguasa. Khususnya penguasa yang tidak menerapkan hukum Allah SWT.
7. Berpegang teguh pada Al Quran dan As Sunah. Sekarang Al Quran diabaikan sehingga pantas negeri ini dirundung persoalan.

Selain itu Kyai Mahmudi juga memaparkan kisah Nabi Ibrahim sebagai sosok penting lain yang tak bisa dipisahkan dari momen ibadah haji dan Idul Adha. Dialah Nabiyullah Ibrahim as. Di dalam QS al-Shafat [37] ayat 102, Allah SWT mengisahkan. Bagaimana Ibrahim as., dengan sepenuh keimanan, tanpa sedikit pun keraguan, menunaikan perintah Tuhannya: menyembelih putra tercintanya, Ismail as. Demikianlah. Kedua hamba Allah yang shalih itu tersungkur dalam kepasrahan. Berpadu dengan ketaatan dan kesabaran.

Kyai Mahmudi mengajak jamaah solat Id untuk melaksanakan penghambaan total kepada Allah SWT. Karena fakta hari ini berbicara. Banyak keharaman dihalalkan. Banyak pula perkara halal diharamkan. Tak jarang, semua itu dilegalkan oleh undang-undang. Lewat mekanisme demokrasi yang dibangga-banggakan. Lihatlah. Bagaimana riba telah lama dihalalkan. Miras pun dilegalkan meski dibatasi peredarannya. Pelacuran dilokalisasi dengan alasan yang diada-adakan. Zina tak dipandang sebagai kejahatan. LGBT pun tak boleh dikriminalkan karena itu melanggar HAM.

Di sisi lain, syariah Islam seolah haram untuk diterapkan. Hanya karena satu tuduhan tak beralasan: bisa mengancam kebhinekaan. Demikian pula institusi penerap syariah, yakni Khilafah Islam, juga terlarang diperjuangkan. Bahkan tak boleh meski sekadar diwacanakan. Para aktivisnya mereka kriminalisasikan. Organisasinya mereka bubarkan. Dengan tuduhan yang diada-adakan. Padahal jelas, Khilafah adalah bagian penting dari ajaran Islam, yang wajib ditegakkan, pungkasnya. [ws/hs]

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Dalam Islam Kedaulatan Hanya Milik Allah

Surabaya, (shautululama) – Ahad, 21 November 2021, telah berlangsung Multaqa Ulama Aswaja Surabaya Raya dengan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *