SHALAT IDUL ADHA 1439 H, SELASA 21 AGUSTUS 2019 BERLANGSUNG DI KALISAT REMBANG PASURUAN JAWA TIMUR

0
210

Pasuruan, (shautululama) – Kumandang Takbir, Tahlil, dan Tahmid berlantunan terdengar seantero Desa Kalisat. Selasa pagi 10 Dzulhijah 1439 H atau bertepatan dengan tanggal 21 Agustus 2018, Alhamdulillah telah terselenggara sholat Idul Adha di kompleks Masjid Alhamidy, Desa Kalisat, Rembang. Dengan khusyuk dan tertib sekitar 400 orang lebih hadir mengikuti pelaksanaan sholat dan khutbah Ied sejak awal hingga selesai.

Imam yang bertugas untuk sholat Ied adalah Ustad Zainulloh S.Pd.I, dengan Khotib Ustad Khoirul Huda S.Ag. Dalam kesempatan khutbahnya, Ust. Khoirul Huda S.Ag menyampaikan akan pentingnya meneladani cinta, ketaatan dan pengorbanan Ibrahim kepada Allah SWT, yang kemudian diteruskan secara sempurna, bahkan dengan kadar yang istimewa oleh Baginda Rasulullah Saw.

KUNJUNGI INSTAGRAM KAMI

Beliau juga menekankan pentingnya ukhuwah dan tegaknya syariah di tengah-tengah masyarakat sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah Saw. saat hijrah, menyatukan kaum Muhajirin dan Anshar, kemudian menegakkan syariah secara totalitas di Madinah.

“Kita diingatkan oleh beliau untuk tidak merasa unggul dari bangsa lain. Tak selayaknya bangsa Arab merasa lebih unggul atas bangsa non-Arab. Tak sepatutnya bangsa non-Arab, termasuk kita di Nusantara ini, merasa lebih unggul dari bangsa Arab. Sebab keunggulan manusia atas manusia lain di sisi Allah SWT hanya karena ketakwaannya. Takwa tentu saja harus dibuktikan dengan ketaatan total atas seluruh perintah dan larangan-Nya. Takwa tentu wajib diwujudkan dengan menjalankan semua syariah-Nya”, jelas Ust. Khoirul Huda.

Ust. Khoirul Huda juga menyampaikan kisah Adi bin Hatim, yang saat itu masih Nasrani, dia menyangkal kebenaran ayat 31 dari surat at-Taubah yang dibaca Rasulullah Saw. Dia dan kaumnya beralasan tak pernah menyembah para pendeta dan rahib mereka. Namun, Rasulullah Saw. segera menjelaskan:

Memang (mereka tidak rukuk dan sujud kepada para pendeta dan para rahib mereka). Namun demikian, sungguh para pendeta dan para rahib mereka itu telah mengharamkan apa yang Allah halalkan dan menghalalkan apa yang telah Allah haramkan, lalu para pengikutnya pun mengikuti fatwa mereka. Itulah bentuk ibadah (penyembahan) mereka kepada para pendeta dan para rahib mereka. (HR at-Tirmidzi).

Beliau menambahkan bahwa cinta, ketaatan dan pengorbanan Rasulullah Saw. ini lalu diwarisi oleh para Sahabat beliau. Juga generasi setelah mereka sepanjang masa Kekhilafahan Islam. Saat Khilafah mengemban Islam ke seluruh penjuru bumi. Atas jasa dan pengorbanan merekalah Islam bisa sampai ke berbagai negeri. Termasuk di bumi nusantara ini.

“Karena itu dengan mengambil ibrah dan keteladanan berupa cinta, ketaatan dan pengorbanan Nabiyullah Ibrahim as. dan Baginda Rasulullah saw., mari kita songsong kembali masa depan cerah peradaban umat manusia di bawah naungan Islam. Dengan meneladani cinta, ketaatan dan pengorbanan keduanya, insya Allah, Islam akan kembali jaya. Kaum muslim akan kembali menjadi mulia. Tentu saat mereka hidup dalam naungan sistem Islam yang paripurna. Di bawah naungan ridha Allah SWT.”, kata Ust. Khoirul Huda.

Di akhir khutbahnya, beliau menutup dengan doa untuk diterimanya ibadah haji yang dijalankan saudara-saudara kita dari seluruh dunia di Tanah Suci, kebaikan dan keselamatan para penduduk negeri ini dari azab yang pedih, serta dipersatukannya kaum muslimin dalam ukhuwah yang hakiki di bawah naungan Khilafah ala Minhajin Nubuwwah. (red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here