Seruan Multaqa Ulama Mataraman Jatim, Kutuk Penghina Nabi, Tinggalkan Demokrasi, Batalkan Omnibus Law UU Ciptakerja

Ngawi, Jatim (shautululama) – Para kyai dan muballigh yang tergabung dalam Forum Komunikasi Ulama Aswaja Mataraman menyatakan mengutuk penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW, menyerukan untuk menolak demokrasi dan paham kebebasan, serta menuntut pembatalan UU Omnibus Law UU Cipta Kerja, Sabtu 31 Oktober 2020. Seruan tersebut dinyatakan dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1442H yang digelar secara virtual dan ditayangkan secara live via youtube dan facebook.

Para kyai tersebut menegaskan bahwa mereka mengutuk pemimpin negara kafir penista agama Islam pencela Nabi Muhammad SAW dan para pendukungnya, serta memberikan peringatan bahwa hukuman mereka menurut syariah Islam adalah hukuman mati.

Selanjutnya, mereka menyerukan untuk menolak paham kebebasan dan sistem demokrasi. Mereka beralasan bahwa paham inilah yang dijadikan alasan orang-orang kafir untuk seenaknya melecehkan diinul Islam dan simbol-simbol sucinya.

Di samping itu, dalam pernyataan bersamanya, Multaqa menyatakan bahwa sistem demokrasi juga melahirkan aturan-aturan dzalim yang menyengsarakan rakyat. Multaqa mengkritik keras UU Omnibus Law UU Cipta Kerja sebagai aturan yang tidak bersumber dari Aqidah Islam, dan berpotensi menyengsarakan rakyat, dan mengantarkan negeri ini semakin jauh berada dalam cengkeraman imperialisme asing. Selain UU Cipta Kerja, Multaqa juga menyoroti carut marut penanganan pandemi covid 19, yang hingga saat ini belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir, sebagai dampak dari penerapan sistem kapitalistik sekuler demokrasi.

Terkait berbagai hal di atas, para kyai tersebut menyatakan bahwa berbagai kejadian di atas hendaknya membuat umat Islam segera kembali pada kehidupan Islam, di mana seluruh urusan umat diatur dengan Syariat Islam secara kaffah. Penerapan Syariah Islam biidznillah akan membawa rahmat untuk manusia dan alam semesta, bahkan termasuk orang-orang kafir sekalipun. Aturan-aturan Allah SWT adalah solusi paripurna atas segala problematika yang dihadapi manusia.

Tentu saja, syariat Islam tidak akan bisa dilaksanakan secara kaffah tanpa ada institusi kekuasaan yang melaksakannya, yaitu Khilafah Islam. Khilafah Islam-lah yang diwariskan Rasulullah SAW dalam rangka menerapkan hukum-hukum Islam, menjaga Islam dari segala jenis penistaan, dan juga menyebarkan risalah Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan Jihad.

Multaqa menegaskan bahwa Khilafah adalah Ajaran Islam, ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah, yang para ulama mu’tabar telah sepakat akan wajibnya menegakkannya. Dengan demikian, jika hari ini ada upaya untuk mengkriminalisasi ide Khilafah, maka itu adalah dosa yang berat dan berpotensi sebagai penistaan terhadap dinul Islam.

Hadir dalam Multaqa ini para kyai dan muballigh seperti KH Anas Karim (Panekan, Magetan), KH. Muhammad Amin (Kota Ngawi), Kyai Hamim Thahari (Kota Madiun), dan Kyai Hadi Abdullah (Sampung, Ponorogo), serta sekitar 150 peserta lain.

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Permendikbudristek No 30 Tahun 2021 Bukti Kegagalan dan Ketidakberdayaan Negara Menjunjung Nilai Agama, Moral dan Etika

Surabaya, (shautululama) – Selasa, 30 November 2021 bersama maraknya penolakan terhadap Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, …