Samir Basir Az Zuhriy Ketapang Kalbar, “Disebut Jahiliyyah, Terhina dan Diadukan Rasulullah Bila Tidak Melaksanakan Syariat Allah

Ketapang, (shautululama) – Seorang da’i asal Maroko yang sekarang berdakwah di Ketapang, Kalimantan Barat, turut menghadiri Liqa Syawal Ulama ASWAJA Kalimantan, Ahad pagi (22/6/2020) yang digelar secara live melalui channel YouTube Ulama Gurunda TV.

Dalam kesempatan itu, Syaikh Samir Basim az Zuhry menyampaikan, keyakinan kepada Allah SWT membawa implikasi kewajiban untuk taat kepada-Nya. Sebagaimana hakikat penciptaan manusia dalam surah Az Zariyat ayat 56.

“Ibadah bukan hanya salat dan puasa, diantara salah satu terbesar dari ibadah kaum muslimin adalah berhukum dengan hukum Allah,” pesannya.

Taat kepada hukum Allah Taala yang dibawa oleh Rasulullah SAW, disertai dengan penerimaan lapang dada, sebagaimana firman-Nya dalam surah An Nisa ayat 65. Dalam semua aspek kehidupan, baik individu dengan dirinya sendiri, dengan ayahnya, dengan ustaznya dan dalam bernegara.

Menggambarkan hal ini, Syaikh Samir Basim az Zuhry menceritakan kisah sahabat Salman al Farisi yang diledek orang Yahudi yang berkata, “apakah Muhammad nabi kamu itu mengajarkan sampai urusan kamar mandi?”

“Dengan bangga beliau mengatakan, iya, kita itu diajarkan sampai dalam urusan menyelesaikan hajat di kamar mandi,” ungkapnya.
Lalu apa konsekuensinya kalau tidak mau berhukum dengan hukum Allah? Maka yang pertama adalah dianggap jahiliyah, sebagaimana dalam surah Al Maidah ayat 50.

“Ulama menafsirkan ayat ini, orang yang berhukum dengan selain hukum Allah, berarti dia tidak mau menganggap hukum Allah itu yang terbaik,” jelasnya.

Kedua, Umar bin Khattab pernah mengatakan, “kami adalah kaum yang dikuatkan oleh Allah dengan Islam, barang siapa yang mencari yang lainnya bakal Allah hinakan.

Ketiga, orang-orang yang tidak mau berhukum dengan hukum Allah SWT, maka dia bakal diadukan oleh Rasulullah kepada Allah nanti. Sebagaimana dalam surah al Furqan ayat 33.

“Perhatikan, di sini Rasulullah menyebut qaumi, kaum saya, bukan ummati. Qaumi itu berasal dari qama yaquumu, berdiri, seolah-olah mereka berdiri sendiri,” terangnya.

Selanjutnya Rasulullah menyebut haza kepada Alquran yang dekat, dijauhkan oleh mereka. Kata mufasir, ada delapan yang menjauhkan Alquran, salah satunya tidak berhukum dengan hukum Allah.

“Terakhir, hadis yang diriwayatkan al Imam Nawawi, Rasulullah bersabda yang maknanya, tidak beriman kepada aku sampai hawanya itu menjadikan ikut kepada aku,” ujar Syaikh Samir Basim az Zuhry.

Kesimpulannya, orang yang tidak mau berhukum kepada Allah, maka dia jahiliyah, dihinakan Allah dan besok di hari kiamat diadukan oleh Rasulullah. (tim media Kalsel)

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Permendikbudristek No 30 Tahun 2021 Bukti Kegagalan dan Ketidakberdayaan Negara Menjunjung Nilai Agama, Moral dan Etika

Surabaya, (shautululama) – Selasa, 30 November 2021 bersama maraknya penolakan terhadap Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, …