Saatnya Umat Sadar Bahwa Solusi Problem Mereka Hanya Islam

Pangkalpinang, (shautululama) – Sejumlah Tokoh Umat Bangka Belitung nampak hadir dalam acara Focus Grup Discussion yang diselenggarakan oleh Forum Kajian Tokoh Umat Babel di Warkop Bubur Shanghai Kampung Opas Kota Pangkalpinang, Selasa (31/12/2019).

Acara yang bertajuk Diskusi Refleksi Akhir Tahun, Refleksi 2019 – Prediksi 2020, (Politik – Hukum – Ekonomi – Dakwah – Keumatan) dihadiri oleh tiga orang dari empat orang pembicara yang diundang yaitu Ustadz Fadillah Sabri (PW Muhammadiyah Babel), Ustadz Firman Saladin (Aktivis Dakwah Babel), Ustadz Sofiyan Rudianto (Koordinator Forum Kajian Tokoh Umat Babel), adapun Didit Srigusjaya (Ketua DPRD Babel) berhalangan hadir karena ada kegiatan di luar kota.

Sebagai peserta juga hadir para Tokoh Babel seperti H. Zulkarnain Syamsuddin (Tokoh Senior Babel/Mantan anggota DPRD Babel), H. Rasyid Ridho (Ketua DMI Babel), H. Rijal Ahmad (Koordinator Front Melayu Bangka Belitung Bersatu), Habib Salim Al Haddad (Ketua FPI Pangkalpinang), Zamhari (mantan anggota DPR Bangka Tengah), Ust. Edward (Ketua IKPM Gontor Babel), Ust Najib (alim senior Pondok Pesantren Gontor), dan lebih dari 30 tokoh undangan lainnya.

Pada awal acara yang dimoderatori oleh Benny Adzan Firmansyah ini para peserta dihangatkan dengan pemutaran video pembuka yang menggambarkan secara ringkas rapot merah Indonesia selama 2019 dan dilanjutkan dengan sambutan Tuan Rumah dari Koordinator Forum Kajian Tokoh Umat Babel yaitu Sofiyan Rudianto.

Ustadz Firman Saladin mengawali sesi pertama dengan mengupas rapot merah 2019 di bidang ekonomi, dimana semakin menggunungnya utang negara yang mencapai Rp 5.581 Triliun, kebangkrutan beberapa BUMN, kesenjangan kesejahteraan dan masalah BPJS.

Kemudian Pembicara Kedua yaitu Ustadz Sofiyan Rudianto mengungkap permasalahan politik seperti terjadinya indikasi pelanggaran pemilu hingga terdapat 121.993 laporan masalah pemilu, evaluasi DPR 2014 -2019 yang banyak menjadi tersangka korupsi, masuknya penjajahan Cina melalui Proyek OBOR/BRI dan investor asing/aseng lainnya yang dapat menjadi ancaman bagi kedaulatan Indonesia.

Dalam bidang ideologi, beliau menyoroti isu radikalisme yang dijadikan alat untuk menyerang ajaran Islam, misalnya mengenai Rencana penghapusan/pemindahan ajaran islam tentang Khilafah dan Jihad pada pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dan tuduhan radikal bagi para aktivis dakwah yang ingin memperjuangkan syariat Islam dan mengamalkan ajaran Islam kaffah.

Selanjutnya dalam dunia islam, sepanjang tahun ini, penderitaan umat Islam masih terjadi dimana-mana, seperti tahun-tahun sebelumnya. Palestina, Rohingya, Suriah, Yaman, Turkistan Timur (Uyghur), dan di beberapa lainnya dimana jika Umat Islam minoritas mereka mendapatkan perlakuan keji, didzalimi bahkan dijajah dan diusir dari tanah dan tempat tinggal mereka.

Pada akhir paparannya, Ustadz Sofiyan Rudianto menyimpulkan pula bahwa sebab kerusakan-kerusakan yang terjadi seperti di atas telah diberitakan oleh Allah dalam Al Qur’an Surat Ar Rum ayat ke 41 yaitu : “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Tak kalah menarik, Pembicara Ketiga Ustadz Fadillah Sabri menyampaikan datanya bahwa memang terjadi kejanggalan dan pelanggaran kepada muslim di negeri China. Beliau juga menyampaikan bahwa Babel merupakan propinsi kedua terendah ekonominya. Menurut beliau sebenarnya yang terjadi di negeri ini bukan Radikalisme, tapi adalah kesenjangan ekonomi dan sosial yang terlampau jauh jaraknya, hal ini lah yang harus diperjuangkan bersama-sama, tidak bisa sendiri-sendiri. Beliau juga mengingatkan bahwa Muhammadiyah tidak membenarkan toleransi yang kebablasan, seperti mengikuti peribadatan dalam gereja.

Setelah ketiga pembicara menyampaikan paparannya, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan tanggapan. Pada kesempatan pertama H. Zulkarnain Syamsudin (Tokoh Senior Bangka Belitung yang juga salah satu Tokoh Perjuangan Pembentukan Propinsi Babel) menyampaikan tanggapannya. Beliau mengungkapkan bahwa musuh besar bagi kapitalisme dan komunisme saat ini adalah Islam.

Beliau juga menyayangkan banyaknya utang negara melalui BUMN karena akan banyak menyita harta kita. Beliau juga berpendapat bahwa Pancasila adalah filosofi bangsa yang sebenarnya ditekankan penerapannya kepada penyelenggara negara, tetapi sekarang ini penerapannya sudah melenceng jauh.
Pada kesempatan berikutnya, Zamhari (Tokoh Bangka Belitung, yang juga pernah menjadi anggota DPRD Bangka Tengah) pun mendapatkan giliran untuk berbicara. Beliau dengan semangatnya mengungkap bahwa dalam hal politik Babel ini mayoritas adalah muslim tapi anggota DPR/DPD dari Babel malah kalah jumlah dengan non muslim.

Berikutnya tanggapan dari Ustadz Najib (alumni senior Pondok Pesantren Gontor) mengingatkan, “Bahwa Nasrani dan yahudi tidak akan rela kepada kamu (kaum muslimin), sebelum kamu mengikuti mereka, bukan agamanya tapi tata cara kehidupannya baik itu ekonomi, politik, sosial, ekonomi dan lain sebagainya. Sejak orde lama, orde baru hingga orde reformasi kita memakai sistem ala montesque yaitu trias politika, eksekutif, yudikatif dan legislatif, hasilnya bagaimana, sampai sekarang Indonesia malah semakin terpuruk, hancur babak belur karena kita tidak mengikuti apa yang dari Allah SWT. Jadi kesimpulannya metode yang paling baik ialah metode dari Sang Khalik.”

Dalam sesi diskusi berikutnya, Firman Saladin menyampaikan harapannya diselenggarakan diskusi ini adalah ingin membangun sebuah kesadaran kolektif bahwa negeri kita ada masalah, dan mengajak agar kita rapatkan barisan dan tanggalkan egosentris keorganisasian kita. Lebih lanjut beliau mengingatkan tidak ada solusi selain islam yang bisa mengatasi permasalahan problematika kehidupan dan tentu tidak hanya sampai disini dan jangan lelah dalam berdiskusi, sampai umat sadar bahwa solusi problematika kehidupannya itu adalah islam.

Ustadz Fadillah Sabri pun kembali menyampaikan bahwa ada satu kata yang tidak ada dalam Pancasila maupun UUD 1945 yaitu kata Jujur. Sebab syarat adil itu adalah jujur, tidak akan bisa adil bila tidak jujur, selama kejujuran tidak ada, jangan berharap ada keadilan. Beliau pun mengatakan hanya orang bodoh yang menganggap negeri ini tidak sakit, maka kita harus menolong agama Allah ini. Siapa yang akan menolong agama Allah, yaitu orang-orang yang diteguhkan dimuka bumi dalam hal ini adalah pemimpin, mereka lah yang diberikan tanggungjawab untuk menolong agama Allah.

Diakhir sesi Ustadz Sofiyan menyampaikan, jangan bosan berdiskusi, karena bangsa yahudi pun bisa mendirikan negara israel diawali dengan konferensi-konferensi, diskusi dan dialog. Beliau juga menyampaikan mengenai prediksi 2020, bahwa Selama kehidupan kita mengacu kepada kapitalism selama Islam tidak diterapkan maka di tahun 2020 tidak akan banyak perubahan terhadap negeri ini bahkan bisa jadi negeri ini akan semakin hancur. Disampaikan juga prediksi dari NIC (National Intelligence Council’s sebuah lembaga yang berkudukan di AS) dalam prediksinya menulis bahwa 2020 akan tegak kembali Khilafah. Acarapun diakhiri serta ditutup dengan doa dan dilanjutkan ramah tamah bersama Pembicara dan seluruh peserta yang hadir.

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Dalam Islam Kedaulatan Hanya Milik Allah

Surabaya, (shautululama) – Ahad, 21 November 2021, telah berlangsung Multaqa Ulama Aswaja Surabaya Raya dengan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *