SAATNYA UMAT ISLAM MENJADI TUAN (FA’IL), JANGAN MAU MENJADI KACUNG (MAF’UL) LAGI

0
1080

[Ngopi bareng Darrunahdlah]

Bandar Lampung, (shautululama) – Majelis Ta’lim Annahdlah menggelar acara “Ngobrol Pemikiran Islam (Ngopi), Amalkan Syariat Islam Kaffah” yang bertajuk “Doa Adalah Senjata Orang Mukmin” dilaksanakan pada pukul 20.30 bertempat di Markaz Annahdlah – Bandar lampung, Jum’at (28/6/2019).

KUNJUNGI INSTAGRAM KAMI

“Pemimpin yang tidak menerapakan hukum Allah, sejatinya adalah boneka negara kapitalis Barat atau sosialis Timur”, buka Kyai Bustomi Al-Jawy mengawali acara Ngopi kali ini.

Palu MK sudah diketok, keputusan pengadilan hukum buatan manusia sudah selesai. Umat ada yang senang dan ada pula yang sedih. Rasa senang karena junjungannya menang atau gembira karena mendapat jatah jabatan yang menggiurkan, bagi yang sedihpun beragam, sedih karena idolanya gagal berlenggang dan ada pula yang sedih melihat saudaranya terlalu polos berjuang di gelanggang yang mustahil menghasilkan kebangkitan umat Islam.

“Dalam situasi yang semakin menyedihkan ini, doa adalah senjata paling ampuh bagi orang-orang mukmin“, kata Kyai Bustomi.

Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa memang doa adalah senjata ampuh kita, akan tetapi karena Allah mencipatakan dunia ini menggunakan prinsip kausalitas, sehingga doa kita harus beriringan dengan perjuangan dengan metode dan cara yang tepat.

“Jika dihadapan kita ada anjing dan babi, tidak mungkin kita berdoa pada Allah ‘ Yaa Allah, mana yang harus saya makan terlebih dahulu ?’, betul kan ? “ tanya beliau retoris.

Kemudian beliau melanjutkan bahwa siapapun pemimpin yang tidak mau dan tidak mampu menerapkan hukum Allah tidak layak untuk didukung, begitupun sistem politik demokrasi yang pada hakikatnya adalah mendaulatkan manusia sehingga berhukum bukan pada hukum Allah, wajib untuk dicampakkan.

“Persatuan umat memang semakin meningkat, hanya jika tidak didasarkan karena Islam dan bertujuan pada kebangkitan Islam dan kaum muslimin, maka persatuan umat akan dimanfaatkan para pegiat demokrasi, sehingga jangan berharap umat akan bangkit seperti dahulu“, tegas beliau.

Menjelang akhir beliau menegaskan bahwa umat Islam itu harus menjadi fa’il ( pelaku ), bukan maf’ul (objek) dan yang menjadi pembeda keduanya adalah tujuan, ma’ful tidak memilik tujuan sehingga dikontrol musuh kesana- kemari nurut-nurut saja.

“Kita harus menjadi pelaku kebangkitan Islam dan kaum muslimin, tiada kebangkitan tanpa diterapkannya hukum Allah, dan hanya Institusi Khilafah yang mampu menerapkan hukum Allah secara kaffah“, pungkas beliau.

Pembacaan doa oleh Mang Erwan menandakan acara Ngopi ini telah berakhir yang kemudian para jama’ah melanjutkan menikmati kopi yang telah tersedia dan foto bersama.[rr]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here