Pilih Pemimpin yang Menerapkan Syariat Islam

Kepanjen, Malang (Shoutul Ulama) – Majelis Dzikir wa Taklim Ihya’ul Qulub Kabupaten Malang, Ahad pagi, 20 Jumadil Ula 1440H/27 Januari 2019 menyelenggarakan Multaqo ‘Ulama dengan tema, “Memilih Pemimpin Menurut Ajaran Rasulullah SAW” bertempat di Hotel Santana Syariah, Kepanjen. Acara dihadiri ulama, pengasuh pondok pesantren dan majelis taklim, asatidz dari berbagai penjuru kabupaten Malang.

Di awal forum Multaqo, Kyai Musthafa, Pengasuh Majelis Taklim Raudhatuth Thullab Dampit, sebagai narasumber memberikan garis merah, “Meskipun hari ini temanya tentang memilih pemimpin, kita tidak akan secara khusus membahas masalah Pilpres.”  Sontak pernyataan ini disambut tawa ringan para ulama yang hadir, mengingat akhir-akhir ini kalangan politisi saling adu-tarik dukungan dari kalangan ulama dengan harapan meraih dukungan suara terbanyak, sebab ulama dianggap memiliki pengaruh yang besar di masyarakat.

Beliau juga menegaskan posisi strategis ulama, “Ulama adalah panutan umat, rujukan masyarakat, bahkan secara faktual merupakan pemimpin hakiki di tengah-tengah masyarakat”.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ

“Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda radhiallahu ‘anhu)

Karakter alamiah ulama adalah hamba Allah yang mendapat anugerah serta kemuliaan dari-Nya, kemuliaan “faqqih fiddiin” yakni menguasai ilmu agama di atas rata-rata umat, serta mengemban amanah sebagai pewaris para nabi.

Karena posisi penting itulah maka ulama memiliki peran besar untuk memberikan pemahaman dan pencerahan kepada umat tentang tata cara memilih pemimpin yang benar.

Selanjutnya, narasumber menjelaskan peran penting ulama lainnya yaitu mengontrol dan mengoreksi kekuasaan, sebagaimana dicontohkan ulama-ulama shalih terdahulu.

MEMILIH PEMIMPIN MENURUT ISLAM

Kyai Mustafa lalu menjelaskan pentingnya aspek kepemimpinan dalam ajaran Islam salah satunya ditunjukkan oleh Ijma’ Sahabat yang menunda pemakaman Rasulullah saw untuk fokus sesegera mungkin mengangkat pengganti beliau saw sebagai pemimpin. Padahal pemakaman jenazah merupakan salah satu perkara yang harus disegerakan pelaksanaannya dalam Islam.

Terkait kriteria pemimpin yang layak dipilih, narasumber menegaskan hanya memberikan kisi-kisi terhadap sosok yang layak dipilih oleh umat, sebab tak ingin pembahasan terjebak ke politik praktis saat ini.

Kriteria yang dimaksud sesuai tuntunan hukum Islam, calon pemimpin antara lain dia haruslah seorang laki-laki yang beragama Islam, berakal, dewasa, mampu berlaku adil, tidak fasiq, dan beberapa kriteria “afdhaliyat” lainnya menurut ajara Nabi SAW.

Di poin syarat harus adil inilah seorang muslim haram mengangkat atau memilih calon pemimpin yang fasik, zhalim, dan derifatnya seperti gemar berdusta, ingkar janji, tidak bertanggungjawab, sering melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar syariat atau menodai ajaran agama.

Namun yang paling penting digaris bawahi adalah pemimpin itu haruslah dipilih untuk menerapkan aturan Islam dalam seluruh aspek kehidupa. Inilah yang jarang dibahas dalam forum-forum ulama pada umumnya.

Oleh karenanya, dibutuhkan institusi yang kompatibel, sebab mustahil umat Islam dapat memilih pemimpin yang mampu menerapkan aturan Islam secara kaffah dalam segala aspek kehidupan, sementara sistem politik sekuler yang sekarang diterapkan justru berfungsi mengkerdilkan, bahkan mendelegitimasi peran ulama dan umat Islam dalam kancah politik untuk diterapkannya Islam. Tidak lain yang di maksud adalah institusi Khilafah berdasar metode kenabian.

KHATIMAH

Acara dilanjutkan dengan sesi diskusi hangat oleh para ulama dan asatidz yang hadir. Diskusi antara lain terkait kondisi kontemporer menghadapi peta politik yang ada agar umat tidak salah melangkah. Pada kesempatan itu disampaikan testimoni dari Kyai Zawawi, ulama dan tokoh kabupaten Malang.

Acara ditutup dengan pembacaan do’a dan foto bersama narasumber, dan para ulama serta asatidz yang hadir. (far/hs)

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Permendikbudristek No 30 Tahun 2021 Bukti Kegagalan dan Ketidakberdayaan Negara Menjunjung Nilai Agama, Moral dan Etika

Surabaya, (shautululama) – Selasa, 30 November 2021 bersama maraknya penolakan terhadap Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *