Pesan Multaqa Ulama Aswaja Parung Bogor Jabar, Saatnya Ulama Bersama Umat Tegakkan Khilafah

Bogor, (shautululama)  – 2020 Tahun Umat Islam : Keutamaan Rajab dan Bersatunya Ulama Menyambut Tegaknya Khilafah Islamiyyah. Majlis Saung Ma’rifat (MSM), Desa Waru Jaya, Parung – Bogor, Sabtu 19 Rajab 1441H/14 Maret 2020, telah menyelenggarakan Multaqa Ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah. Meski sempat diguyur hujan namun tidak menyurutkan ghirah para ‘alim Ulama, kyai, asatidz, dan muhibbin dari kecamatan Parung, Ciseeng, dan Kemang untuk hadir memenuhi undangan shahibul Majlis, al-Mukarram Ki Sarmili Yahya.

Tampak hadir diantaranya Ki Sarmili Yahya (Pimpinan Majelis Saung Ma’rifat), Kyai Arief. B Iskandar (Pimpinan Pon-Pes. Daarunnahdloh, Bogor), (KH. Haris Iskandar (Pimpinan Majelis Daarul Fatih, Kemang), Kyai Syukri Abu Ameera, M.A (Pimpinan Majelis Hadharah Islamiyyah, Parung), K.H. Mirham (Tokoh Ulama, Ciseeng), Kyai Budi Santoso, M.M (Majelis Qobuliyah, Ciseeng) Ustadz. Salman (Pimpinan Majelis Daarussa’adah, Parung), Ki. Sadeli (Sesepuh Desa Waru Jaya), Ustadz Abu Yusuf (Tokoh Masyarakat, Ciseeng), Ustadz. Ibrohim Ali (Sesepuh Desa Waru Jaya), Ustadz. Abu Ziyad Taqy (Pegiat Sosial dan Dakwah, Parung), Ustadz Arief Aziz (aktivis dakwah, Parung) dan muhibbin lainnya.

 

Acara dimulai ba’da Isya dengan diawali pembacaan dzikir dan shalawat (maulid Nabi) yang dipimpin oleh Ustadz. Cecep Zarkoni dan Ustadz. Ropi, dilanjutkan dengan sambutan Pimpinan Majelis Saung Ma’rifat.

Dalam kalimah taqdimnya Ki Sarmili menyampaikan rasa Ta’dzimnya kepada para _’alimul Ulama wal muhibbin_ yang hadir pada acara Multaqo Ulama yang penuh berkah dan fadhilah, beliau pun mengutarakan tujuan diadakannya acara Multaqo Ulama Aswaja (Ahlussunnah Wal Jama’ah) yang bertepatan dengan Bulan Rajab 1441 H kali ini.

“Adapun tujuan diadakannya Multaqa Ulama ini, diantaranya: Pertama, memperingati bulan Rajab yang penuh dengan keutamaan, dimana banyak peristiwa penting bersejarah bagi Umat Islam seperti Isra’ wal mi’raj. Kedua, Menjalin silaturahmi dan ukhuwah antara Ulama dan Muhibbin. Ketiga, Menjalin persatuan diantara Ulama dan Muhibbin dalam mengemban tugas mulia yakni mendakwahkan Islam. Keempat, Menyamakan cita-cita luhur diantara para ‘alimul Ulama dan Muhibbin untuk bersatu mewujudkan cita-cita yang tinggi (uluwwul himmah) disisi Allah SWT, yakni menegakkan agama Islam, termasuk menegakkan kembali Khilafah Islamiyyah ‘ala minhajin nubuwwah. Karena wajib hukumnya bagi umat Islam mempunyai pemimpin yaitu Imamah atau Khalifah. Disinilah pentingnya ulama bersatu berjuang di jalan dakwah menyambut tegaknya Khilafah Islamiyyah ” Tutur Ki Sarmili Yahya.

Adapun al-Mukarram shahibul fadhilah Kyai Arief B. Iskandar (Pimpinan PP. Daarunnahdloh, Bogor) menyampaikan tausiyah Multaqa terkait Fadhilah bulan Rajab dan Saatnya Ulama Bersatu Menyambut tegaknya Institusi kepemimpinan Islam, Khilafah Islamiyyah.

Terkait keutamaan bulan Rajab beliau mengingatkan kembali momentum penting bersejarah bagi umat Islam, baik yang membahagiakan maupun yang menyedihkan. Setelah sebelumnya beliau mengutip pula firman Allah surat al Isra’ [17] ayat:1.

“Diantara peristiwa penting yang membahagiakan bagi umat Islam (sekaligus penghibur bagi Rasul) adalah peristiwa Isra wal Mi’raj. Dalam Isra wal mi’raj terdapat peristiwa penting yaitu perintah shalat lima waktu, shalat merupakan simbol ketundukan seorang hamba dihadapan Allah SWT, shalat adalah ibadah, ibadah hakikatnya adalah merendahkan dan menghinakan diri dihadapan Allah, tunduk terhadap apa saja yang diperintahkan.

Salah satu simbolnya adalah sujud, betapa kepala tentu layak dimuliakan oleh sesama manusia. Namun ketika sujud betapa kepala berada pada posisi terendah. Maka bagi orang yang paham hakikat shalat, mereka tidak akan sombong dihadapan Allah. Tapi hari ini kita saksikan banyak manusia khususnya umat Islam, justru mereka merendahkan diri di dalam shalat, tapi menyombongkan diri dihadapan Allah SWT” Kyai Arief memaparkan.

Adapun peristiwa yang menyedihkan bagi dunia khususnya umat Islam, yang terjadi pada bulan Rajab tepatnya pada tahun 1924, adalah runtuhnya Khilafah Islamiyyah Turki Utsmani, sejak saat itu Umat Islam dunia tiada lagi memiliki pemimpin yang mampu memberikan keamanan dan pertolongan, hingga hari ini.

Beliau pun menyampaikan bahwa sistem Demokrasi bukan hanya mensejajarkan posisi manusia dengan posisi Tuhan, tetapi menempatkan manusia diatas Tuhan.

“Dalam istilah sekarang Ayat Konstitusi diatas ayat Suci. Inilah hakikatnya manusia termasuk umat Islam dan khusunya penguasa hari ini menyombongkan diri dihadapan Allah. Padahal jelas hak membuat hukum itu hanya ada pada Allah SWT ” Tegas kyai Arief.

Terkait rusaknya sistem Demokrasi ini Beliau pun mengutip firman Allah surat At-Taubah [9] : 31.

ٱتَّخَذُوٓا۟ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَٰنَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ ٱللَّهِ

“Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) telah menjadikan para Rahib dan para pendeta mereka sebagai tuhan selain Allah … ” (TQS. At-taubah [ 9 ] : 31)

Dalam tafsir langsung dari Rasulullah SAW, yang dikutip oleh para mufassir. Saat itu dikisahkan ada Adi bin Hatim mengenakan salib menghadap Rasulullah SAW saat akan masuk Islam, dibacakan ayat tersebut kepada Adi bin Hatim.

 

Namun Adi bin Hatim membantah, “Di agama Nasrani tidak pernah menyembah pendeta kami dan rahib – rahib kami ” tapi kemudian Rasul balik membantah ” Bukankah ketika para pendeta kalian, para rahib – rahib kalian menghalalkan apa yang telah Allah haramkan. Atau sebaliknya kalian ikuti ” Maka Adi bin Hatim pun menjawab ” Betul ya Rasulullah ” Maka kata Rasulullah ” Itulah bentuk penghambaan, penyembahan kalian terhadap para pendeta kalian “

Kyai Arif pun menuturkan bahwa hari ini memang bukan para pendeta atau para rahib yang mengharamkan yang halal, menghalalkan yang haram. melainkan para penguasa, para wakil rakyat. Dan ketika kita tunduk patuh pada aturan hukum apapun yang dibuat mereka, hakikatnya saat itulah kita sedang mempertuhankan mereka.

“Intinya Demokrasi adalah sistem yang mengajarkan manusia menyembah kepada sesama manusia. Maka saat ini kita saksikan kekacauan demi kekacauan terjadi di zaman kebohongan ini, yang bohong dibenarkan, sebaliknya yang benar malah didustakankan. Saat ini yang nyata – nyata benar malah dimusuhi, malah dipersekusi seperti ajaran Islam khilafah. Sedangkan artis berfoto telanjang malah tidak dipersoalkan, ini zaman yang kebolak – balik ” turur Kyai Arief B. Iskandar.

Beliau pun menegaskan sebagian makna yang terkandung dalam Shalat.

“Peristiwa penting dalam Isra dan Mi’raj yang paling banyak teringat dibenak umat Islam adalah perintah shalat, tapi apakah mereka memahami makna shalat ? disinilah tugas para ulama dan asatidz menyampaikan kepada Umat makna daripada Shalat, Shalat adalah bentuk ketundukan kepada Allah, maka kita harus membawa bentuk ketundukan itu di luar shalat. Apa artinya kita tunduk di dalam shalat, tetapi kita banyak membantah di luar shalat. Penguasa kemudian banyak melakukan kemaksiatan, padahal kita hidup lebih banyak di luar shalat” tegas Kyai Arief. B Iskandar

Kebanyakan orang maksiat, melanggar hukum justru di luar shalat. Penguasa shalat dan taat ketika shalat tetapi membangkang di luar shalat dengan membuat aturan – aturan yang menyalahi Islam.

Persoalan umat ini demikian beragam, dan tidak ada solusi kecuali dengan syariah Islam, dan syariah Islam tidak akan tegak kecuali dengan sistem Khilafah. Hari ini sistem demokrasi telah menyebabkan marakya korupsi, perbuatan amoral dan tindakan kriminalitas. Sistem demokrasi inilah yang menimbulkan banyak kerusakan, maka aneh ketika seorang muslim diajak untuk kembali kepada syariah, malah menolak bahkan memusuhi.

Kyai Arief pun menegaskan peran penting Ulama sebagai orang yang terdepan dalam menegakkan Islam.

” al- Ulama warasatul anbiya_, ulama adalah pewaris para nabi, bahkan salah satu riwayat mengatakan bahwa Ulama itu tidak ada bedanya dengan para nabi kecuali dalam hal tugas kenabian. Artinya peran dan tugas para nabi dan Ulama sama, yakni menyampaikan risalah dan menegakkan syariah. Ulama tentunya juga mempunyai ciri khas, sebagaimana termaktub dalam surat Fathir.
Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para “Ulama… (TQS. Surat Fathir [35]: 28) Ulama itu bukan yang banyak ilmu, hafal banyak hadits, tetapi ulama adalah mereka yang memiliki rasa takut kepada Allah SWT” tegas Kyai Arief.

Kyai Arief berharap para ulama, asatidz yang hadir pada Multaqa ini menjadi orang – orang yang terdepan dalam membela Islam, meski tantangan di depan semakin berat. Suatu ketika Saydina Abu bakar Ash-Shiddiq, Khalifah pertama berkata : “Dakwah itu tidak akan memajukan ajal dan tidak akan mengurangi rizki”, kita berdakwah akan mati tidak berdakwah juga akan mati.

“Maka, di zaman Demokrasi yang penuh dengan kebohongan ini kita harus memiliki sikap; Pertama, Berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Assunnah. Kedua, supaya umat tidak terkecoh dengan tokoh atau ulama yang tidak lurus, Maka kita harus menjelaskan kepada umat mana yang halal dan mana yang haram. tidak boleh seorangpun menyatakan halal dan haram kecuali harus berdasar ilmu, dalam makna harus bersumber dari Al-Qur’an, sunnah, ijma dan qiyas.

Kalau bukan ulama siapa lagi yang akan berjuang menegakkan Islam, tentu ulama yang lurus. Rasul berjanji akan datang _khilafah ala minhaj annubuwwah atsaaniyah_

Rasulullah bersabda :
” ثم تكون خلافة على منهاج النبوة ”

“Kemudian akan datang sistem khilafah atas metode kenabian ” (H.R. Ahmad)

“Tentu sikap kita bukan sekedar membenarkan apa yang dijanjikan oleh Rasulullah berupa kemenangan, tapi yang lebih penting adalah bagaimana sikap kita dalam menyambut kemenangan itu”, Papar Kyai Arief B. Iskandar Pimpinan PP. Daarunnahdloh, Bogor.

Adapun kalam ulama selanjutnya disampaikan oleh Kyai Syukri Abu Ameera dan K.H. Mirham.

“Di malam ini kita masih diberi kesempatan untuk menyuarakan perjuangan menegakkan kembalinya khilafah setelah 99 tahun diruntuhkan oleh kemal At-taturk, semoga tidak lama lagi khilafah akan kembali tegak, sebagaimana sabda Rasulullah bahwa setiap seratus tahun ada _Mujaddid_ yang akan mengokohkan kembali risalah Islam. Hari ini kita saksikan ketika khilafah tidak ada, umat Islam dibantai dimana -mana, mereka dihinakan dan dibunuh serta dianiaya dan mereka tidak bisa berharap kepada siapa pun, sesungguhnya imam (Khalifah) adalah perisai. Saat ini betapa kita butuh kepada Khalifah tersebut, semoga hal ini menumbuhkan kesadaran bagi kita akibat tidak adanya pemimpin. Maka berkumpulnya ulama pada malam ini, semoga menjadi hujjah bagi kita untuk bahu membahu bersama – sama memperjuangkan kembalinya Khilafah ala minhajin nubuwwah. Semoga _himmah_ (cita cita) tinggi kita ini tidak ada habisnya hingga tegaknya khilafah ” Tegas Kyai Syukri

Sedangkan K.H. Mirham menyampaikan Kalam ulama penutup terkait pentingnya berfikir untuk agama.

“Malam ini malam sangat bahagia meski diiringi guyuran hujan, ini rahmat yang dikaruniakan Allah SWT dimana kita bisa saling silaturahmi. Disini kita sama – sama memikirkan agama, dikatakan barang siapa berfikir sesaat untuk agama maka keutamaannya seperti beribadah 70 tahun. Semoga aktivitas berfikir kita pada malam hari ini untuk keberlanjutan agama Islam walaupun penuh dengan rintangan dan kesulitan, mudah – mudahan kita diberikan kemudahan oleh Allah SWT. Agama Islam ini adalah pedoman hidup untuk kebahagiaan dunia dan akhirat, maka malam ini kita sama – sama berfikir bagaimana Islam ini dijadikan pedoman untuk umat manusia, dan Islam terus berlanjut kepada generasi – generasi setelah kita ” Tutur Kyai Mirham

Multaqa Ulama Ahlussunnah wal jama’ah Parung, Bogor di Majelis Saung Ma’rifat berlangsung khidmat dalam suasana keakraban, acara ditutup dengan doa, dilanjutkan dengan ramah tamah dan musafahah diantara Ulama, kyai, asatidz dan muhibbin. [A.Zyd]

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Permendikbudristek No 30 Tahun 2021 Bukti Kegagalan dan Ketidakberdayaan Negara Menjunjung Nilai Agama, Moral dan Etika

Surabaya, (shautululama) – Selasa, 30 November 2021 bersama maraknya penolakan terhadap Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, …