Peringatan Maulid Nabi Saw, Demokrasi adalah Sistem Penghancur Kita Umat Islam

Tamanjaya, Sumur (shautulama) – melalui peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw, warga Desa Tamanjaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, digugah agar sadar syariat Islam. Perbuatan-perbuatan yang melanggar hukum Allah SWT seperti riba, judi, konsumsi miras, agar segera ditinggalkan.

Lebih jauh lagi, sistem penghancur umat yang saat ini dijalankan oleh kalangan musuh Islam, salah satunya demokrasi menjadi bagian dari pesan pada kegiatan ini. Sehingga, diharapkan umat segera menyadari untuk meninggalkannya dan kembali menerapkan sistem Islam.

Demikian intisari Tabligh Akbar Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid At Ittihad Tamanjaya, Kecamatan Sumur, Pandeglang, Ahad (24/11) malam, dengan menghadirkan Habib Hadi bin Hamid Al Athos, ulama asal Karawang dan KH. Muhyiddin asal Bogor.

Habib Hadi menyampaikan bahwa saat ini keadaan kaum muslimin bagaikan hidangan yang diperebutkan bangsa-bangsa penjajah. Umat dipecah belah sedemikian rupa. Terlebih tidak ada pemimpin yang membela. “Ini diakibatkan karena syariat tidak tegak,” tegasnya. Beliau, mengajak kepada masyarakat untuk kembali menjadikan Islam berada dalam kewibawaannya, yakni dengan menjadikan Islam sebagai aturan kehidupan. Doktor lulusan Yordania ini pun mengingatkan, bahwa di saat umat menjadikan taqwa sebagai landasan utama hidup, maka keberkahan yang datangnya dari Allah akan dirasakan dalam kehidupan.

“Kita rasakan manisnya iman dengan taat dan taqwa. Allah pasti akan memberikan apa yang dibutuhkan tanpa disangka-sangka,” seraya menyebut penyakit umat saat ini adalah wahn, yakni cinta dunia dan takut mati.

Sementara itu, KH Muhyidin menegaskan bahwa saat ini perlu perubahan yang mendasar untuk menjadikan syariah sebagai standar kehidupan. Jika selama ini persoalan negeri ini tidak pernah selesai perlu di pertanyakan sistem yang diterapkan saat ini. “Sistem saat ini adalah demokrasi. Demokrasi asalnya dari mana? Dia lahir di Eropa. Diciptakan kaum kafir. Apakah sesuai dengan sistem yang dibuat Rasulullah?” ucapnya retoris.

“Jelas, demokrasi tidak sama dengan syariah Islam. Karena asalnya juga berbeda. Syariah dari Allah dan RasulNya, sedangkan demokrasi kapitalisme dari Aristoteles, Plato, Adam Smith, Montesque, dan lain-lain. Jelas, demokrasi tidak akan memberikan solusi, malah akan tambah memberikan masalah,” tegasnya yang disambut takbir.

Pimpinan Ponpes Annur, Pamijahan, Bogor ini mengingatkan bahwa sistem yang diterapkan di masa Rasulullah dan para sahabat bukan demokrasi, tapi Khilafah. “Apakah siap membela syariah? Siap membela khilafah? Siap memperjuangkannya?”. Pertanyaannya tersebut dijawab tegas oleh hadirin dengan tegas, “Siap!”. (*)

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Tepat!! Ulama, Tokoh, dan Muballigh Parigi Moutong Tolak Permendikbudristek

Dari Sulawesi Tengah, tokoh umat berkumpul menolak aturan yang melegalkan seks bebas. Liberalisasi kehidupan dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *