Peringatan Maulid Nabi Saw 1440H, “MT Al Hamidy Pasuruan, Semoga Kalimat Tauhid yang Menjadi Kalimat Terakhir yang Kita Ucapkan sebelum Ajal Menjemput”

Pasuruan, (shautululama) – Alhamdulillah, Senin, 19 November 2018, Majelis Taklim Al Hamidy dapat menyelenggarakan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1440 H, dengan lancar, bertempat di Masjid Al Hamidy Kalisat Rembang Pasuruan.

Sehabis sholat Maghrib nampak seluruh jamaah laki laki, perempuan, tua, muda bahkan anak anak nampak memadati Ruang Masjid Al Hamidy

Tepat pukul 18.30 acara dimulai dengan pembacaan sholawat maulid diba’ yang dipimpin Ustad Khoirul Umam. Setelah selesai pembacaan sholawat, pembawa acara Ust. Mas’ud, S.Pd.I mempersilahkan Ust. Khoirul Huda, S.Ag. untuk menyampaikan tausyiyah peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw.

Dalam peringatan Maulid kali ini Ust. Khoirul Huda, selaku pengasuh Majelis Taklim/Takmir Masjid Al Hamidy, mengawali dengan membacakan firman Allah SWT:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Artinya : Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Akhir serta banyak menyebut Allah (TQS al-Ahzab [33]: 21).

Jadi menurut beliau, jika kita ingin mendapatkan rahmat dan ridho dari Allah SWT, maka harus menjadikan Nabi Muhammad Saw. sebagai uswatun Hasanah. Yakni dengan meneladani beliau secara totalitas, dengan cara senantiasa bepegang teguh kepada Al Qur’an dan sunnah RasulNya (Al Hadits).

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw.

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya”. (H.R. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi)

Jadi dua perkara inilah yang harus dijadikan sebagai pedoman dalam mengatur kehidupan ini, yaitu Al Qur’anul Karim dengan cara menerapkan secara kaffah.

Sebagaimana firman dalam surah Al Baqarah : 208. Serta sunnah RasulNya.

Di akhir acara beliau sangat bersyukur bahwa ghirah ummat islam mulai tumbuh, contohnya adalah seluruh ruang masjid dan “cocok” (nampan) yang dibawa oleh para jama’ah dipenuhi dengan Al liwa’ dan dan Ar Rayah (bendera Tauhid). Ini membuktikan kecintaan para jama’ah kepada Kalimat dan Bendera Tauhid.

Kemudia beliau membacakan sabda nabi Muhammad Saw.

كَانَتْ رَايَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْدَاءَ، وَلِوَاؤُهُ
أَبْيَضَ

“Rayah Rasulullah Saw berwarna hitam dan Liwa beliau berwarna putih”

Kemudian beliau mengambil Satu bendera warna hitam dan mengangkatnya, kemudian bertanya kepada para jamaah.
Ini apa namanya???
Ar royah!!! Takbir Allahu Akbar!!!
Kalau yang ini yang berwarna putih apa ini namanya???
Al liwa’!!! Takbir Allahu Akbar!!!

Semoga kalimat tauhid inilah yang menjadi kalimat terakhir yang kita ucapkan sebelum ajal menjemput kita, aamiin.

Kemudian beliau menutup acara dengan pembacaan do’a yang diamini oleh para jama’ah. (red/hs)

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Permendikbudristek No 30 Tahun 2021 Bukti Kegagalan dan Ketidakberdayaan Negara Menjunjung Nilai Agama, Moral dan Etika

Surabaya, (shautululama) – Selasa, 30 November 2021 bersama maraknya penolakan terhadap Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *