Pentingnya Kepemimpinan Dalam Islam

Makassar, (shautululama) – Majelis Kajian Islam Kaffah (Kifah) Biringkanaya, secara rutin mengadakan dirasah di berbagai masjid, salah satunya kajian rutin bulanan yang diasuh oleh Ustad Muh. Kemal Idris di Masjid Baiturrahman Sudiang, Ahad, 13 Januari 2019.

Tema kajian pada bulan Januari 2019 ini mengangkat topik “Pelajaran Penting dari Shalat Berjamaah tentang Kepemimpinan Islam”.

Setelah sekilas beliau utarakan hukum dan keutamaan shalat berjamaah, selanjutnya beliau ungkap adanya pelajaran yang senantiasa mengingatkan umat Islam akan pentingnya kepemimpinan dalam Islam.

Beberapa point yang dikomparasikan bahwa shalat berjamaah sebagai miniatur kepemimpinan Islam antara lain : pertama, shalat berjamaah adalah syiar (ajaran Islam) yang wajib ditegakkan dengan merujuk kepada HR. Abu Daud dan An-Nasai tentang celaan tiga orang di suatu kampung yang tidak melaksanakan shalat jamaah. Beliau tunjukkan betapa kepemimpinan Islam adalah syiar yang wajib ditegakkan, “tidak halal bagi tiga orang yang hidup di suatu tempat kecuali mengangkat pemimpin”, ujarnya. Hadits, beliau ungkapkan tersebut lalu ditegaskan, “untuk perkara kecil saja butuh kepemimpinan apalagi yang lebih besar”.

Kedua, shalat berjamaah menuntut kesungguhan dalam mewujudkannya seperti disebutkan dalam hadits ad-Darimi dan hadits ibnu Ummi Maktum. Demikian pula kepemimpinan Islam “tidak boleh melebihi tiga hari kosong dari kepemimpinan Islam, sehingga selama itu wajib bersungguh-sungguh mewujudkannya berdasarkan ijma sahabat”, kata beliau.

Ketiga, “Shalat berjamaah wujud persatuan dan persaudaraan muslim, demikian halnya Kepemimpinan Islam yang merupakan wadah menghimpun seluruh umat Islam tanpa melihat berbagai latar belakangnya”, jelasnya.

Keempat, merupakan tanda kehidupan umat Islam dimana adzan dikumandangkan. Beliau komparasikan ketika terjadi futuhat di salah satu bumi Allah maka tandanya adalah seruan adzan yang berkumandang sebagai tanda kehidupan Islam.

Kelima, “Shalat berjamaah memupuk keimanan dan memelihara keislaman. Maka kepemimpinan Islam puncak dari ketaqwaan, dimana dengannya akan menjaga keimanan dan keislaman umat Islam dengan penerapan Islam kaffah”, demikian penjelasan beliau.

Keenam, terselenggaranya shalat berjamaah mengharuskan adanya imam sebagaimana disebutkan dalam hadits. Kemudian beliau sampaikan “kepemimpinan Islam meniscayakan adanya imam (khalifah) untuk mengatur urusan kaum muslimin, jika untuk tiga orang saja harus ada pemimpin apatahlagi untuk perkara yang lebih besar”, tegasnya.

Ketujuh, diungkapkan bahwa sesuai HR. Bukhari, imam wajib diikuti, maka demikian juga dalam kepemimpinan Islam. Lalu beliau mendasarkan pada sabda Nabi saw “man ‘athaanii faqad’ ‘athaallah, wan ‘ahta’al ‘amiiri faqad’ ‘atha’anii” (siapa yang mentaatiku maka ia taat kepada Allah, dan siapa yang mentaati pemimpinku maka ia mentaatiku”.

Selanjutnya beliau tambahkan bahwa dalam shalat berjamaah makmum menegur bila imam salah dengan ucapan subahanallah. Dalam kepemimpinan Islam wajib bagi umat melakukan muhasabah (mengoreksi) bila imam (khalifah) keliru. Bahkan kata beliau orang yang melakukannya lalu terbunuh maka terkategori sebagai penghulu syuhada.

Lebih lanjut beliau menyampaiakan bahwa shalat berjamaah shaf laki-laki dan perempuan terpisah, maka dalam masyarakat Islam, kehidupan laki-laki dan perempuan hukum asalnya terpisah, kecuali kondisi yang mengharuskan bertemu.

Beliau mengakhiri diskusi, dengan pernyataan bahwa para khalifah adalah pemimpin Islam, dia imam shalat dan juga menjadi khatib.[kifah/hs]

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Permendikbudristek No 30 Tahun 2021 Bukti Kegagalan dan Ketidakberdayaan Negara Menjunjung Nilai Agama, Moral dan Etika

Surabaya, (shautululama) – Selasa, 30 November 2021 bersama maraknya penolakan terhadap Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *