Penerapan AlQuran Meniscayakan Adanya Khilafah

Banjarmasin, (shautululama) – Kecintaan umat Islam di Banjarmasin terhadap Al Quran, tak dipungkiri lagi. Meski dalam suasana wabah, mereka mengadakan peringatan Nuzulul Quran dengan memanfaatkan sarana daring (online).

Peringatan Nuzulul Quran yang diselenggarakan oleh Komunitas Benua Syariah ini menghadirkan beberapa ulama di Kalimantan Selatan, antara lain: Guru Wahyudi Ibnu Yusuf, Mudir Ma’had Darul Ma’arif, Banjarmasin, Guru Luthfi bin Fakhruddin, Pengasuh Majelis Baitul Quran, Tapin, Kyai Baihaki Al Munawar, Pengasuh Majelis Taklim Nidaul Khair, Banjarmasin, Kyai Firman Saladin, Pengasuh Majelis Pulang, Assa’ah, Pangkal Pinang, Babel.

Peringatan Nuzulul Quran daring ini dilaksanakan Sabtu, 9 Mei 2020, dengan dipandu host Ustad Fahmi Ibnu Suwandi.

“Di antara kemuliaan Ramadan, adalah turunnya Alquran di bulan tersebut. Sayangnya, kitab suci umat Islam ini belum sepenuhnya dimuliakan, lantaran banyak hukum di dalamnya yang tidak bisa diterapkan, akibat ketiadaan Khilafah”, demikian disampaikan oleh Guru Wahyudi Ibnu Yusuf, Pimpinan Ma’had Darul Ma’arif Banjarmasin, saat menjadi narasumber ketiga, di Dialog Peringatan Nuzulul Quran 1441 H.

Lebih lanjut, beliau sampaikan, “Di antara contohnya, adalah siapa yang bisa menghukum para pemurtad, akibat keluar dari agama Islam? Individu? Keluarganya? Atau sebuah organisasi Islam”?, tanya beliau.

“Para ulama sepakat, yang boleh melakukannya, yaitu adalah sulton (imam), atau ad-daulah, nah dalam konteks inilah ternyata, negara harus hadir dalam penjagaan aqidah umat, ini satu contoh interaksi manusia dengan Robnya,” jawab Guru Wahyudi dari kediamannya, yang terhubung secara langsung.

Selain itu tambah Guru Wahyudi, adalah siapa yang bisa memberikan sanksi kepada kaum muslimin yang tidak puasa? Tidak salat? Semuanya tidak lain adalah penguasa.

“Termasuk apa yang disebutkan oleh Guru Lutfi tadi (narasumber pertama, red), yakni dalam perkara hudud, hukum potong tangan bagi pencuri misalkan, kemudian hukum cambuk bagi penzina ghoiru muhson, dan rajam bagi penzina muhson,” tegas Guru Wahyudi.

Belum lagi menurut Guru Wahyudi terkait politik luar negeri, hingga penghapusan riba, yang semuanya meniscayakan hadirnya sebuah negara.

“Jadi poin pentingnya, kalau ditanyakan, bisakah menerapkan Alquran secara totalitas (kaffah) tanpa negara, hampir, hampir mustahil,” jelas Guru Wahyudi.

Lalu negara apa yang dimaksud di atas? Guru Wahyudi tegaskan sambil mengutip pendapat Imam Al-Mawardi dari kitab Al- Ahkam As-Sultoniyah, bahwa Negara tersebut adalah Khilafah.

Negara ini menurutnya telah diwariskan Nabi Muhammad Saw., yang kemudian dilanjutkan para khalifah hingga sekitar 1.300 tahun kemudian.

Dan sekarang, institusi penerap Alquran tersebut memang sudah tidak ada, dan diajak Guru Wahyudi untuk bersama menegakkannya lagi, dengan mencontoh gerak dakwah Rasulullah Saw.

Peringatan Nuzulul Quran kali ini terbilang pertama diadakan secara daring, seiring upaya pencegahan mewabahnya virus corona, sehingga tidak memungkinkan diadakan secara tatap muka fisik.

Namun tetap diikuti banyak ulama, tokoh dan jamaah, bahkan se-Indonesia, yang juga disiarkan melalui media sosial youtube.

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Saatnya Islam Gantikan Sistem Amoral dan Asusila, KH Misbah Halimi Sikapi Permendikbudristek No 30 Tahun 2021

Probolinggo, Jatim (shautululama) – KH. Misbah Halimi, M.Pd, Koordinator FKU Aswaja Jombang menjelaskan Islam siap …