NASEHAT MULTAQO ULAMA ASWAJA KOTA BOGOR , SELAMATKAN INDONESIA DARI MUSIBAH dan BENCANA DENGAN TERAPKAN ISLAM KAFFAH

Bogor, (shautululama)-  Ahad, 17 Jumadil 1442H/31 Januari 2021 , berkumpul ratusan ulama, kyai- asatidz, habaib mengikuti sebuah agenda akbar Multaqo Ulama Aswaja Kota Bogor. Acara yang bertajuk “PERAN STRATEGIS ULAMA CINTA NEGERI, SELAMATKAN UMAT DARI BENCANA MELANDA NEGERI, WASPADA ADU DOMBA UMAT, TOLAK KEDZALIMAN, TERAPKAN ISLAM KAFFAH”. (https://youtu.be/XSFyVISpLf8)

Hal ini meneguhkan ihtimam para ulama terhadap kondisi umat dan negeri ini, sebagai bentuk keimanan kepada Alloh SWT dan kecintaan pada negeri ini.  Di latarbelakangi bulan Rajab yang yang penuh kemuliaan, diberikan banyak kemenangan kepada kaum muslimin ketika kaum muslimin menerapkan syariat Islam secara kaffah dalam bingkai Khilafah. Namun di bulan Rajab pula khilafah diruntuhkan oleh antek-antek kafir penjajah, maka sejak itulah kaum muslimin berada dalam kemunduran serta nestapa.

Di negeri ini awal Januari, bencana melanda baik di darat, di laut maupun di udara, mulai dari pesawat jatuh, banjir, longsor dan gempa bumi yang seolah tiada berhenti. Ditenggarai selain karena faktor alam juga adanya kesalahan dalam pengelolaan sumber daya alam yang cenderung hanya untuk keuntungan oligarki asing dan aseng, serta tidak mempertimbangkan siklus bencana sehingga menimbulkan penderitaan dan korban, baik harta maupun jiwa. Contoh temuan banjir Kalimantan dan longsor di Jawa Barat, akibat ugal-ugalannya kapitalisme dan sosialisme dalam mengeksploitasi hutan tanpa melihat akibatnya.

Selain itu, juga fenomena kriminalisasi dan persekusi serta kedzaliman terhadap para ulama dan aktivis Islam masih terjadi dan juga beberapa kasus seperti kasus pembunuhan terhadap aktivis Islam yang belum selesai. Di tengah kondisi carut marut penanganan pandemi yang entah kapan akan berakhir serta kondisi ketidakjelasan vaksin yang semakin menunjukkan bahwa kapitalisme-demokrasi dan sosialisme tidak mampu menangani hal ini. Bahkan yang terjadi adalah mereka memanfaatkan untuk mengeruk keuntungan.

Semakin merebak dan meluasnya pandemi justru dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi dan kelompok, terbukti korupsi terjadi justru ketika masyarakat membutuhkan bantuan, tercatat korupsi bansos, korupsi jiwasraya. Korupsi Asabri dan lain-lainnya semakin mempertegas hal ini.

Di tengah situasi seperti ini, ketika seharusnya masyarakat bersatu padu, terbitlah PerPres No. 7 tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme, yang berisi tentang “Polisi” melatih sipil untuk mewaspadai terorisme dan ekstrimisme. Banyak para pengamat menyayangkan dan melihat serta kekwatiran terjadi saling curiga yang ini akan berdampak pada terjadinya friksi yang semakin parah di masyarakat, maka wajib waspada terhadap hal ini.

Ini semuanya membutuhkan penjelasan dakwah Islam. Dakwah menuju kepada perubahan harus diserukan sebagai bentuk kecintaan kita, pada negeri kita dan sebagai bentuk tanggung jawab untuk menjaga keutuhan negeri Islam yang terbesar ini. Bukan hanya itu, dakwah ini juga menunjukkan secara visual ihtimamnya ulama terhadap masalah umat Islam di negeri ini.

Maka arah perjuangan dakwah  harus jelas, yakni untuk terapkan syariat Islam secara kaffah, ini adalah satu-satunya solusi.  Perkara ini tidak bisa tidak, harus digawangi oleh ashab al fa’aliyyah al haqiqiyyah.

Para Ulama sebagai ‘uyunul ummah dan min akhyaril ummah harus berada di garda terdepan.  Sebagai ikon perjuangan dakwah ini, adalah para ulama Aswaja yang telah “janban bi janbin”, bahu membahu, suka dan duka bersama dalam dakwah yang mulia ini.

Multaqa ulama Aswaja Bogor, dimulai oleh shohibul fadhilah almukarram KH. Eddy Wanto. Sebagai MC, beliau menyapa para muhadlir yang ada di room zoom dan pemirsa yang menonton tayangan langsung.

Kemudian berlanjut pada pembacaan ayat suci Al Qur’an yang dibaca shohibul fadhilah almukarram kyai Budi Abdurrahim dari Majlis Asy Syifa membacakan surat al A’raf ayat 94-100.

Kemudian dilanjutkan kalam dari shohibul hajah, shohibul fadhilah almukarram Kyai Faturahman, Mudir Ma’had Inqilabiy. Beliau menggambarkan latar belakang diadakannya multaqo, karena kondisi negeri ini yang ditimpa bencana di awal tahun ini, dan juga carut marut penanganan pandemi serta kasus korupsi yang melanda negeri.

Selain itu, beliau mengajak untuk waspada terhadap terbitnya Pepres no 7 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulanan Ekstrimisme Berbasisi Kekerasan yang Berujung Teorisme, yang dikhawatirkan menimbulkan friksi semakin tajam di tengah masyarakat. Secara fakta lebih banyak ditujukan manajemen konflik yang mempertahankan kekuasaan sehingga bisa mengarah dan menyasar siapa saja yang kritis terhadap kebijakan dzalim dari rezim.

Pada kesempatan berikutnya, shohibul fadhilah almukarram KH. Umar Siddiq, dari Ponpes Daruts Tsaqofah, menegaskan tentang kewajiban amar ma’ruf nahi munkar bagi ulama. Dimana ulama mengemban amanah dakwah, dimana dakwah yang harus membuahkan sebuah kesadaran dan membangun kesadaran agar umat sadar dan berupaya menerapkan syariah.

Ulama tidak boleh membiarkan kerusakan dan kedzaliman terus berlangsung, sebagai pewaris nabi menjadi tugas dan tanggung jawab para ulama untuk membenahi negeri sehingga menjadi negeri yang dirahmati Alloh SWT. Beliau mengingatkan setiap diri kita untuk melihat apakah perbuatan tersebut baik atau buruk. Jika baik maka lanjutkan dan ketika buruk maka hentikan, sekaligus beliau mengingatkan penguasa untuk menghentikan kedzaliman yang dilakukan terhadap kaum muslim.

Shohibul Fadhilah almukarram KH. Amirudin, Majlis Khoiru Ummah, kemudian menyampaikan kalam dengan memulai sebuah ungkapan untuk direnungkan. Setiap yang dibangun atas landasan kebatilan, maka buahnya adalah kerusakan, demokrasi yang merupakan buah dari sekularisme adalah kebatilan yang berbuah kerusakan dan kesengsaraan. “Demokrasi adalah sistem yang rusak”, tegas beliau. Beliau mengajak para ulama untuk meyakinkan bahwa perjuangan penegakan syariah dan khilafah adalah janji pasti dari Alloh SWT.

Shohibul fadhilah almukarram KH. Anwar Iman dari Majlis Lentera Dakwah, kemudian menyampaikan kewajiban kesatuan dalam aqidah dan kesatuan negara dalam Islam, karena rasul saw melarang mengangkat lebih dari satu pemimpin.

Bahwa umat Islam hidup dalam tatanan kehidupan yang tidak sesuai dengan Islam, bahkan kapitalisme – sekularisme telah gagal dalam memberikan kesejahteraan dan gagal dalam menghadapi pandemi. Beliau mengajak para kyai-ulama untuk bersinergi dan berkontribusi dalam perjuangan penegakan Islam dan sudah saatnya mencampakkan kapitalisme dan sosialisme.

Shohibul fadhilah almukarram Kyai Sunardi dari Majlis Rumah Ukhuwah, menyampaikan bahwa penerapan sistem demokrasi memberikan kapitalis mengeruk kekayaan alam negeri ini. Sistem ini menghasilkan pemimpin yang dzalim dan korup karena ketika prosesnya disesuaikan dengan keinginan para pemilik modal yang telah menggelontorkan dana untuk memenangkannya dalam proses pemilihan.  Hal ini tentu saja menimbulkan kesengsaraan dan ini menegaskan kepada kita untuk mencampakkan demokrasi.

Shihibul Fadhilah almukarram Kyai Iwan Januar dari Majlis Udati Fatimah beliau mengkritisi terkait terbitnya peraturan presiden untuk melakukan pengawasan terhadap ekstrimisme, beliau menyoroti batasan yang belum jelas terkait ekstrimisme sehingga berpotensi menimbulkan konflik yang akan menimbulkan kondisi Negara yang tidak sehat, ditengah kondisi yang seharusnya masyarakat bersatu, malah mebuat sesuatu yang bertentangan dengan hal tersebut, beliau mengingatkan para kyai dan asatidz untuk mengingatkan penguasa bahwa Islam bukan ancaman bahkan merupakan kebaikan, sehingga prepress ini kontrakdiktif dan bertentangan dengan kenyataan dan jelas bertentangan dengan ajaran Islam yang akan berujung menjadikan negeri ini semakin terpuruk dan jauh dari keberkahan. Dan hanya dengan Islam negeri ini akan menjadi negeri yang baldatun toyyibatun warobbun ghofur. Bahwa satu-satunya solusi adalah kembali kepada Islam.

Shobibul Fadhilah Al Mukarram Syaikh KH. Ahmad Afif sesepuh ulama Bogor beliau memulai dengan membacakan surat ar Rum:41 yang menggambarkan bahwa semua kerusakan didaratan dan dilautan adalah akibat ulah manusia, dan bencana merupakan peringatan dari Alloh SWT untuk manusia agar kembali kepada Islam. Beliau menggambarkan bahwa semua itu karena ketidak taatan terhadap syariat Alloh SWT. Beliau pun mengingatkan pula dengan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar yang ini merupakan kewajiban seluruh kaum muslimin terutama para kyai, dan menggunakan lisan mulia para ulama. Beliau menggambarkan bahwa kerusakan itu bisa dinilai dari dua sisi yakni sisi ilmiah yakni perbuatan manusia merusak alam, dan yang kedua adalah secara syari’iyyah karena manusia banyak berbuat maksiat dan tidak ada amar ma’ruf nahi munkar didalamnya. Beliau mengajak untuk kembali kepada syariat Islam dan berjuang untuk kemuliaan Islam serta memanfaatkan umur yang masih ada untuk perjuangan ini. Beliau mengingatkan semua bahwa malaikat Rokib dan Atid selalu menyertai kita dalam perjalanan kehidupan ini.

Shohibul Fadhilah almukarram Kyai Syamsuddin Ramadhan, Ulama Aswaja Jakarta, mengajak untuk istiqomah dalam perjuangan ini sampai kemenangan menjadi milik kaum muslim.

Beliau menggambarkan betapa dunia sudah jenuh terhadap penerapan sistem kapitalisme-demokrasi. Sebuah survey di 28 negara menyampaikan kejenuhan ini. Disisi lain sosialisme dan komunisme, ketika diterapkan membuat masyarakat yang menyengsarakan. Termasuk dinegeri ini para anasir komunisme membuat kebijakan di negeri ini menjadi dzalim. Dalam hal penanganan covid, membuat semakin tidak terkendali. Dan menunjukkan nasionalisme rapuh. Beliau mengajak kembali kepada Islam yang akan memberikan rahmat dan keberkahan yang luar biasa. Sistem terbaik dan sempurna adalah Islam dan kepada sistem khilafah yang merupakan warisan nabi Muhammad saw yang telah diteruskan oleh para Khulafaur Rasyidin setelah beliau wafat. Dan secara fakta dunia membutuhkan sistem ini. Beliau mengajak para kyai-asatidz untuk memberikan penyadaran kepada umat yang pertama mayarakat dan Negara yang rusak, menyadarkan umat bahwa masyarakat dan Negara ini dibangun atas aqidah yang bathil, kedua sistem pengganti dari sistem bobrok, sistem Kapitalisme dan Sosialisme menuju pada sistem khilafah dengan menerapkan hukum Alloh SWT.  Dengan penyadaran ini umat akan bergerak saling bahu membahu untuk menuju perubahan kearah Islam.

Selanjutnya Shohibul Fadhilah al Mukarram Kyai Arif B Iskandar dari ponpes Darun Nahdhoh beliau mengutip surat as Syura ayat 30, yang artinya “dan tidaklah musibah apapun yang menimpa kalian merupakan perbuatan kalian sendiri” atau dengan kata laian sebab kemaksiatan manusia itu sendiri. Beliau pun mengutip hadist rasul saw yang menguatkan hal ini. Akibat kemaksiatan manusia lah yang menyebabkan kerusakan dan penderitaan dan hanya dengan syariat Islam lah akan mendapatkan barokah dan rahmat dari Alloh Swt dan ini adalah tugas para ulama. ulama harus menjadi garda terdepan dalam perjuangan ini. Beliaupun mengingatkan dengan kalam dari Imam al Ghazali ra. “bahwa manusia yang dengan dekat dengan kenabian adalah ahli Ilmu dan mujahid” untuk itu para ulama wajib menjadi garda terdepan karena mereka paling tahu tentang kebenaran dan kemakrufan. Ulama harus melakukan amar ma’ruf terhadap kemungkaran dan melakukan perubahan terhadap hal tersebut. Beliau juga mengingatkan apa yang dikatakan Imam al Ghozali dalam kitab Ihya ulumiddin “Penguasa adalah penguasa rakyat dan Ulama adalah penguasa dari para penguasa” maka ulama paling bertanggung jawab ketika penguasa tidak menerapkan syariat. Sebagaimana pula dalam kalam yang lain “bahwa rusaknya rakyat karena rusaknya penguasa dan rusaknya penguasa adalah karena rusaknya ulama”.

Shohibul Fadhilah al Mukarram Kyai Muhibuddin dari Majlis Halawatul Iman menegaskan bahwa diamnya para ulama menyebabkan dan memberikan pengaruh sangat besar terhadap kerusakan yang terjadi, beliau mengutip sebuah hadist yang menggambarkan bahwa ketika tidak ada amar ma’ruf nahi munkar maka aka nada azab Alloh SWT. Alhamdulillah beliau menyampaikan banyak ulama yang sudah kembali memperjuangkan khilafah. Beliau menggambarkan kembali tentang kewajiban menegakkan khilafah, mengutip surat al Baqoroh ayat 30, beliau menegaskan penegasan Imam al Qurtubi terkait ayat ini bahwa semua ahli ilmu sepakat tentang wajibnya menegakkan khilafah dan ini merupakan sebuah keutamaan perjuangan sebagaimana digambarkan oleh Imam Ibnu Hajar al Haitsami dalam al Muhriqoh, menegaskan bagaimana ijma shabat menegaskan hal ini. Dan Imam ibnu Khaldun pun menegaskan hal ini. Beliau menegaskan bahwa agama dan kekuasaan adalah seperti saudara kembar, yang tidak boleh dipisahkan, maka Islam akan bisa diterapkan secara sempurna dalam sistem yang telah diwariskan Rasulullah saw yakni Khilafah Islamiyyah ‘ala minhajin nubuwwah.

Dan hal ini beliau menegaskan bahwa Khilafah adalah janji Alloh swt dan merupakan ajaran Islam bahkan ajaran ahlu sunnah waljamaah. Ketika khilafah tegak maka kaum muslim bisa diselamatkan dan menjadi junnah atas seluruh umat..

Terakhir acara kalam ditutup dengan pembacaan pernyataan sikap dan seruan ulama dalam multaqo ulama aswaja kota Bogor oleh KH. Anas Nasrullahdari Majlis Ikhwanur Rasul.

Acara kemudian diakhiri dengan Do’a oleh shohibul fadhilah almukarram KH. Tatang Muchtar dari ponpes Miftahul Fallah.

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Saatnya Islam Gantikan Sistem Amoral dan Asusila, KH Misbah Halimi Sikapi Permendikbudristek No 30 Tahun 2021

Probolinggo, Jatim (shautululama) – KH. Misbah Halimi, M.Pd, Koordinator FKU Aswaja Jombang menjelaskan Islam siap …