Multaqo Ulama Majlis MDF Al-Islamiy, Bebaskan Kyai Heru Ilyasa Tanpa Syarat

0
113

Majlis Daarul Fikri (MDF) Al- Islamiy, Kemang Jampang Hambulu – Bogor, 5 Oktober 2019, menyelenggarakan Multaqo Ulama. Majelis yang diasuh oleh KH. Haris Iskandar nampak selalu dihadiri oleh para Ulama, kyai, asatidz, santri dan muhibbin dari kecamatan Kemang, Parung, Ciseeng dan sekitarnya. Nampak hadir KH. Haris Iskandar (Pimpinan MDF Al-Islamiy, Kemang), Ustadz. Pupu Syaripudin (Tokoh Ulama Desa Jabon, Parung), Ustadz. Salman (Pimpinan Majlis Daarusa’adah Waru Jaya, Parung).

Dalam kesempatan Multaqo kali ini, majelis diawali dengan pembacaan dzikir dan wirid yang dipimpin oleh Ustadz Pupu Syaripudin. Dilanjutkan dengan pembacaan maulid barzanji oleh Ustadz. Salman. Dalam kesempatan itu tuan rumah KH. Haris Iskandar menyampaikan tausiyah wa al-irsyaadaat terkait pesan penting Hijrah Nabi Muhammad SAW.

KUNJUNGI INSTAGRAM KAMI

Kyai Haris menyampaikan bahwa sesungguhnya setiap perbuatan itu menghajatkan dua syarat, _Al- qashdu wa an – niyyah_ (tujuan dan niat).

“Dalam setiap perbuatan kita harus ada Al- qasdhu wal ikhlas, yakni tujuan dan ikhlas. Terkait alqashdu, Rasulullah SAW pernah bersabda ” Tidaklah seorang muslim menjenguk muslim lainnya, kecuali Allah akan mengirimkan tujuh puluh ribu malaikat, yang mendoakan dia ( orang muslim tersebut ) pada kapan saja di siang itu sampai sorenya. Dan pada waktu kapan saja, di malam itu sampai paginya.” ( HR. Ahmad : I / 118 ) Namun tentu saja kunjungan yang beroleh pahala adalah mengunjungi muslim dengan ikhlas karena Allah dan tujuan yang benar (misalnya: mengaji atau menuntut Ilmu )”_ Ujar Kyai Haris Iskandar

Adapun makna Ikhlas beliau pun menegaskan bahwa ikhlas bermakna _tasfiyatul ‘aqli ‘an mulahazahtil makhluqin_. (Memurnikan akal dari perhatian terhadap makhluk), maka orang yang ikhlas itu akal dan hatinya hanya fokus kepada Allah SWT.

“Mengapa kita harus punya tujuan dan ikhlas dalam setiap aktivitas kita? karena kita ingin menjadi Ihsan. Ihsan ilmunya adalah tasawuf. Sebagaimana Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin: Tasawuf itu fokus kepada Allah dan meremehkan (menganggap kecil) selain- Nya “, Papar Kyai Haris

Kyai Haris pun menyampaikan bahwa ketika kita memahami bahwa semuanya milik Allah, maka kita tidak akan ragu sedikitpun bahwa Allah merunkan aturan yang sempurna untuk seluruh manusia berupa Al-Qur’an. Sebagimana tidak ada keraguan sedikitpun pada kitab suci Al-Qur’an.

Sebagimana makna _al-qoshdu_ kita pun mesti mengetahui tentang _qashdu_ ( tujuan ) Muharram itu sendiri ditetapkan sebagai bulan pertama Hijriah oleh Khalifah Umar bin Khatab. Terkait momentum Hijrah, Kyai Kharis menyitir firman Allah surat Al-Isra [17]:80.

_” Firman Allah surat Al – Isra ayat 80 tersebut, Berdasarkan tafsir imam al- Qurtubi bahwa ayat ini adalah doa, …Waj’alli sulthanan nashira. Memiliki makna ; dari sisi Allah berupa hujjatun tsaabitun (hujjah yang kuat, yang menguatkan Rasulullah), pinta Nabi; Ya Allah berikan dari sisimu kekuasaan yang lebih kuat. (maknanya Rasul meminta kepada Allah). Rasul sudah tahu bahwa tidak ada kekuatan kecuali dengan sulthan (kekuasaan). Maka Rasul SAW meminta sulthanan nashira (kekuasaan yang menolong).

Maka dapat disimpulkan bahwa memohon/meminta pertolongan (thalabun nushroh) dalam dakwah terjadi bukan saat ini saja. Tetapi cara ini sudah pernah dilakukan oleh Rasulullah, saat kemaksiatan dan kedzaliman begitu masif meluas dan merajarela “_ Papar Kyai Haris

Kemudian Rasulullah meminta kekuasaan bersamaan dengan terus Istiqamah menjalankan dakwah tanpa kekerasan. Saat kemaksiatan sudah merajela maka harus ada perubahan. Perubahan dari _darul kufur_ kepada _darul Islam_, dari tempat banyaknya kemungkaran kepada tempat yang penuh ketaatan kepada Allah SWT. Kyai Haris pun menjelaskan terkait makna antara _darul Islam_ dan _darul kufur_.

“Yang disebut Darul kufur itu, negeri mayoritas muslim tapi hukumnya bukan Islam, keamanannya bukan keamanan Islam. Sedangkan Darul Islam itu adalah negeri yang diatur oleh aturan Islam dan keamanannya keamanan Islam, meski muslimnya minoritas. Dan yang penting yang harus kita yakini terkait Bisyarah (janji) Rasulullah; bahwa sungguh Darul Islam itu akan muncul kembali dengan tegaknya Khilafah atas metode kenabian”, terang Kyai Haris.

Maka keinginan untuk berubah harus terus dimiliki. Harus ada perubahan. Apalagi paham Sosialis Komunis sudah mulai masuk. Maka pemikiran ideologi sesat tersebut bukan lagi hanya dihentikan tapi harus dibuang. Ketika hal ini tidak dirubah, maka akan terus terjadi kerusakan demi kerusakan.Maka disinilah letak pentingnya kesabaran dalam meniti jalan dakwah, sabar bukan diam. Tapi sabar itu adalah _(tsubut)_ tetap/ Istiqamah dalam ketaatan.

Beliau pun mengajak jama’ah untuk memohon kepada Allah agar segera menurunkan pertolongan-Nya berupa terwujudnya _sulthanan nashira_ berupa kembali tegaknya Khilafah Islamiyyah ‘ala minhajin an-nubuwwah.

_” Mari kita berdoa memohon Kepada Allah SWT agar Dia memberikan pertolongan kepada umat Islam seluruhnya. Dan kita pahamkan umat akan pentingnya sulthanan nashira yakni tegak nya sistem Islam dalam bingkai Khilafah ‘ala minhajin an-nubuwwah. Sebagaimana Rasul selalu mengingat dan memperhatikan umatnya. Bahkan hingga ajal hendak menjemput-Nya, lisannya masih berucap ‘Ummati’. “_ Ujar Kyai Haris

Maka hanya _sulthanan nashira_ yang bisa menerapkan dan menegakkan syariah Islam seutuhnya. Intinya, ketika kita tidak memohon terwujudnya _sulthanan nashira_ dan kita tidak menjalankan aktivitas upaya untuk meraih _sulthanan nashira_ sebagimana yang pernah Rasulullah jalankan. Maka sebenarnya kita tidak menjalankan apa yang pernah Rasulullah jalankan.

Adapun terkait kriminalisasi rezim kepada salah satu ulama Aswaja Mojokerto yakni Kyai Heru Ilyasa, Kyai Haris Iskandar menegaskan bahwa Kyai Heru Ilyasa itu orangnya sangat lembut. Beliau hanya menjalankan kewajiban, mengumpulkan ulama untuk bersama-sama memperbaiki umat. Kita ini juga ingin menjalankan apa yang dijalankan oleh Rasulullah.

“KH. Heru Elyasa adalah seorang kyai yang mukhlis, kharismatik dan lembut serta kecintaan kepada negeri ini sangat mendalam. Beliau ulama yang berdakwah tanpa kekerasan, lisannya pun selalu mengandung hikmah. Tidak layak rezim mengkriminalisasi ulama seperti beliau, maka sudah seharusnya Kyai Heru Elyasa dibebaskan”, tegas KH. Haris Iskandar memberikan pernyataan sikapnya.

Selesai pemaparan materi Multaqo dan pembacaan pernyataan sikap Ulama yang hadir semua sepakat mendukung sikap politik dan dakwah Majlis MDF Al-Islamiy dengan seruan takbir yg menggema.

Acara ditutup dengan doa kafaratul majlis, ramah tamah dan musafahah para kyai, asatidz dan Muhibbin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here