MULTAQO ULAMA ASWAJA NUSANTARA, Kutuk Penghina Nabi SAW, Tolak Sekularisme dan Demokrasi, Batalkan Undang-Undang Omnibus Law yang Dzalim.

Melayu (shautululama) – Tak Henti-hentinya negeri ini dirundung masalah. Sudah hampir setahun wabah Covid-19 menyerang Indonesia yang mengakibatkan kematian dan meluluh-lantakkan perekonomian. Indonesia saat ini diambang resesi. Disaat negeri ini ditimpa bencana, penguasa menikam rakyatnya dengan menerbitkan Undang-Undang Omnibus law. Untuk kesekian kalinya umat mengalami luka nestapa.

Di belahan benua lainnya tepatnya di Negara Prancis, muncul penghinaan kepada Baginda Rasulullah SAW yang didukung oleh Pemimpin Negara tersebut, Emmanuel Macron. Dibeberapa Negeri-negeri kaum muslim mengadakan aksi demonstrasi memprotes pernyataan sikap Presiden Prancis Emmanuel Macron. Para Peserta Demonstrasi menyerukan untuk melakukan boikot terhadap produk Prancis.

Menyikapi permasalahan bertubi-tubi yang menimpa negeri ini, maka pada hari minggu, 15 November 2020 para Ulama Aswaja Nusantara mengadakan agenda MULTAQO ULAMA ASWAJA NUSANTARA dengan tema, “Kutuk Penghina Nabi Saw, Tolak Sekularisme dan Demokrasi, Batalkan Undang-Undang Omnibus Law yang Dzalim. Acara diselenggarakan secara live streaming melalui kanal Youtube IDARI TV.

Acara dibuka oleh Almukarrom Tuan Guru Daeng Mukhlis, SHI sebagai MC. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Ayat suci Al Qur’an oleh Almukarrom Al-Ustadz Yazid Umar Nasution. selanjutnya Kalimatu at-Taqdim disampaikan oleh Almukarrom Buya Hidayat Ar-Rokani. Dalam kesempatan ini beliau menyampaikan pentingnya kepedulian seluruh elemen masyarakat terhadap permasalahan yang dialami umat. ‘Berharap kepada Almukarram-walmuhtaram, para Alim, para Kiyai, para Buya, para Asatidz yang hadir dan juga kepada pemirsa di channel Youtube IDARI TV, mengajak untuk tidak tinggal diam terhadap berbagai kedzoliman, penistaan dan berbagai bentuk kemungkaran yang ada’.

Selanjutnya acara dipandu oleh Rais Multaqo yaitu Almukarrom UES Al-Jadid Abu Najmi. Kalimatul Minal Ulama yang pertama disampaikan oleh Almukarrom Buya H. Yuli Hesman, S. Ag., M. Pd.I. Beliau adalah Ulama Aswaja Melayu Pasir Pangaraian-Riau. Pada momen ini beliau menyampaikan akan pentingnya para Ulama yang notabene sebagai pewaris para Nabi memiliki kecerdasan dan kepekaan dalam melihat persoalan umat. ‘Ulama harus cerdas, ulama harus punya mindset pemikiran luas, Tsaqofah Islamiyah harus ada. Ini wajib. Kenapa? Karena Rasulullah SAW pernah memberitakan kita semua bahwasanya ulama ini adalah waratsatul ‘anbiya’.

Kalimatul minal ulama selanjutnya disampaikan oleh Almukarrom Buya Ardion Husni, MA. Beliau adalah Ulama Aswaja Sumatera Barat. Beliau menegaskan bahwa idealnya para ulama harus sejalan antara perbuatan dan ilmu yang dimilikinya. Disamping itu beliau mengingatkan kembali akan keikhlasan yang harus tertanam didalam diri pala ulama. ‘Seorang ulama dalam menjalankan amanah sebagai ulama tidaklah berpengaruh terhadapnya respon makhluk apakah respon positif apalagi respon negatif. Sehingga seorang ulama ikhlas dan fokus kepada tugasnya sebagai seorang ulama, sebagai waratsatul anbiya.’ Tegasnya.

Kalimatul minal ulama berikutnya disampaikan oleh Almukarrom KH. Sohandi Al-Bantani, MA. Beliau adalah Ulama Aswaja Melayu Pekanbaru-Riau dan pimpinan Rumah Tahfidz Alfirdausi Pekanbaru. Dalam kesempatan kali ini beliau menyampaikan bahwa akar persoalan yang menimpa umat saat ini adalah bermuara kepada diterapkannya sistem kufur Demokrasi Sekulerisme yang menimbulkan fasad yang luar biasa. ‘Demokrasi jelas akidah yang mendasarinya adalah sekularisme. Sekularisme itu adalah fashluddin anil hayah, memisahkan agama yang mulia ini dari pengaturan kehidupan. Dan sekularisme ini adalah menjadi ideologi, menjadi akidah bagi orang kafir Barat.’ Pungkasnya.

Selanjutnya kalimatul minal ulama disampaikan oleh Almukarrom Tuan Guru Fakhruddin Halim. Beliau adalah Ulama Aswaja Kepulauan Bangka Belitung. Beliau mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan tentang bahaya investasi asing sebagai jalan imperialisme di bidang ekonomi. ‘Investasi ini justru menjadi jalan bagi penguasaan terhadap ekonomi negeri ini. Sumber daya alam negeri ini akan dikuasai oleh asing melalui jalan investasi tersebut. Baik asing disini pemodal-pemodal raksasa dari Eropa maupun pemodal-pemodal raksasa dari Cina’. Pungkasnya.

Kalimatul minal ulama berikutnya disampaikan oleh Almukarrom Buya Erwin S Hutabarat. Beliau adalah Ulama Aswaja dari Kepulauan Riau dan beliau adalah pengurus Majelis Ilmu An Nahdhah Kepulauan Riau. Di momen ini beliau menyeru agar umat mengutuk pemimpin negara kafir penista agama Islam pencela Nabi Muhammad SAW dan para pendukungnya. ‘Sikap umat harus marah dengan kemarahan yang besar terhadap penghinaan tersebut. Apalagi penghinaan yang dilakukan oleh salah satu majalah di Prancis yaitu Charlie Hebdo dengan memuat kembali terkait karikatur Nabi Muhammad SAW dan didukung oleh pembesarnya yaitu presiden Prancis Emmanuel Macron, tentu sikap kita marah dan mengutuk.’ Tegasnya.

Menegaskan kembali akan bahaya Undang-undang Omnibus Law, Almukarrom KH. Fahmi Shadry, Ulama Aswaja Nusantara, menyampaikan bahwa UU Omnibus Law UU Cipta Kerja adalah aturan dzalim produk Demokrasi. ‘Wewenang dari pemerintah daerah sudah banyak dihilangkan. Jadi pemerintah daerah tidak dapat memberikan sanksi karena kewenangan tersebut sudah dihapus. Kalau toh ada perusahaan ber-efek negatif kepada daerahnya, itu tergantung bagaimana kebijakan pemerintah pusat. Jadi omnibus law Ciptaker ini berpotensi kuat menciptakan kekuasaan yang sentralistik dan otoriter. Karena besarnya kewenangan yang di pemerintahan pusat, adanya potensi munculnya kroni-kroni baru disekitar lingkaran presiden.’ Tegasnya.

Selanjutnya Almukarrom Tuan Guru Sofian Rudianto, ulama aswaja Kepulauan Bangka Belitung menyampaikan nasihat kepada pemerintah dan bangsa Indonesia. ‘Kami ingin mengingatkan bahwa ketika kita diberikan amanah kepemimpinan, ketika kita diberi amanah mengurusi umat Rasulullah SAW maka kita tidak boleh menyusahkan mereka, kita tidak boleh mendzolimi mereka. Inilah akibatnya saat ketika kepemimpinan tidak berlandaskan kepada apa yang diwahyukan Allah, tidak berlandaskan kepada Al Qur’an dan Hadits, tidak berlandaskan kepada sunnah-sunnahnya Rasulullah SAW. Maka ketika kekuasaan dipisahkan dari syariat Islam maka yang terjadi adalah kedzoliman, penindasan dan penyengsaraan terhadap rakyat dan akhirnya menimbulkan kesusahan hidup bagi rakyat.’ Pungkasnya.

Kalimah minal ulama berikutnya disampaikan oleh KH. Dr. Fahmi Lukman, M. Hum. beliau adalah Ulama Aswaja Nusantara. Pada kesempatan kali ini beliau Menyeru kepada seluruh umat Islam khususnya para ulama untuk terus menerus berdakwah di jalan Allah, mengajak kepada kebaikan, demi tegaknya Syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan di bawah naungan Khilafah Rasyidah ‘alaa Minhajin Nubuwwah. ‘Tidak ada cara lain kecuali umat ini diajak kembali oleh para ulama, yang diajak dengan cara santun dan baik untuk kembali kepada Islam. Untuk kembali kepada nilai-nilai yang terdapat pada Islam, untuk kembali kepada pangkuan Allah dan RasulNya. Pada sisi lain kita pun dihadapkan kepada sekelompok ulama meskipun kecil yang mereka tidak melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Kita dorong dengan sayang. Kita dorong dengan ketakziman kita kepada mereka agar mereka kembali kepada Allah dan RasulNya agar mereka kembali untuk kemudian menyerukan yang benar itu benar, yang salah itu salah.’ Ucap beliau.

 

Kalimatul minal ulama penutup disampaikan oleh Almukarrom KH. Abu Zaydan, Lc., ME. Beliau adalah Alumnus Al-Azhar University dan Ulama Aswaja Nusantara. ‘Para ulama adalah waratsatul anbiya. Mereka punya otoritas, punya kapabilitas untuk menjelaskan Alhaq ini, yaitu Al Qur’an. Siapa lagi kalau bukan ulama. Oleh karena itu, jadilah ulama-ulama yang hanif, ulama-ulama shirothol mustaqim. Bukan ulama-ulama su’. Karena salah satu yang ditakuti oleh Rasulullah SAW selain dajjal adalah Sultan (penguasa) dan ulama su’.’ Pungkasnya.

Selanjutnya pembacaan pernyataan sikap yang dipandu oleh Rais Multaqo yang diikuti oleh seluruh peserta multaqo ulama. Kemudian pembacaan doa yang dipimpin oleh Almukarrom Tuan Guru Daeng Mukhlis, SHI menjadi penutup agenda Multaqo ulama yang dilaksanakan sejak pagi hingga siang hari.

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Khilafah yang Dirindukan, Siap Memimpin Dunia

Jakarta, (shautululama) – 3 Maret 1924, institusi pelindung dan pelayan umat Islam itu runtuh, Khilafah …