MULTAQO ULAMA ASWAJA NUSANTARA DALAM RANGKA KOPDARNAS KOPBATIN, “KIPRAH ULAMA ASWAJA SELAMATKAN NEGERI, SELAMATKAN BANGSA DARI KEKEJIAN MIRAS, SAATNYA ISLAM GANTIKAN KAPITALISME DEMOKRASI-SEKULERISME DAN KOMUNISME”

Jakarta, (shautululama) – Komunitas Batu Cincin (Kopbatin), untuk yang kesekian kalinya menggelar Multaqa Ulama Aswaja sebagai bentuk kecintaan terhadap negeri dan perhatiannya terhadap persoalan negeri yang tak kunjung reda. Kobatin merupakan komunitas yang terdiri dari para ulama, kyai, pengasuh pondok pesantren dan majlis taklim dari seluruh Indonesia yang peduli terhadap perjuangan islam kaffah, sebagai solusi atas problem multidimensi yang menimpa negeri  ini. Para ulama menggunakan batu cincin sebagai wasilah untuk menyatukan perjuangan mereka.

Pada Multaqa Ulama Aswaja Nusantara yang digelar secara online, Sabtu, 13 Maret 2021, mulai 08.30 WIB hingga 12.30, panitia menghadirkan sekitar dua puluh alim ulama dari perwakilan seluruh Indonesia. Acara ini diikuti ribuan kyai pengasuh ponpes, pengasuh majlis taklim, ustad serta para muhibbinnya.  Multaqa Ulama Aswaja Nusantara ini disiarakan streaming melalui channel Youtube Baitul Khair, dan direlay beberapa media partner antara lain: Multaqa Ulama Aswaja TV (MUA TV), Kaffah Channel, Ar Rayyah TV, dll.

Shabibul Hajah, KH. Aa Hasyim Musthofa, selaku Sekjen Kobatin, pada  Multaqa Ulama Aswaja Nusantara ini mengundang sejumlah ulama pinunjul dari seluruh nusantara untuk menyampaikan kalam minal ulama. Diantarnya sebagai berikut:

  1. KH. Rokhmat S. Labib, Ulama Aswaja Jakarta
  2. KH. Muhammad Ismail Yusanto, Ulama Aswaja Nusantara
  3. KH. Heru Elyasa, Ulama Aswaja Jawa Timur
  4. Kyai Daeng Sardi Arras, Ulama Aswaja Palu, Sulteng
  5. KH Yasin Muthohhar, Ulama Aswaja Banten
  6. Al Habib Alwi bin Hamid Baraqbah, Ulama Aswaja Samarinda
  7. KH Sholeh Abdullah, Ulama Aswaja Banjarbaru, Kalsel
  8. Kyai Bustomi, Ulama Aswaja Lampung
  9. KH. Muhyiddin, Ulama Aswaja Pamijahan, Bogor
  10. KH Ali Bayanullah, Ulama Aswaja Sumedang, Jabar
  11. Kyai Abah Narko, Ulama Aswaja Yogya
  12. Kyai Encik Sofyan Rudianto, Ulama Aswaja Babel
  13. Abuya Djamal Bagindo Sati, Ulama Aswaja Sumbar
  14. Abuya Fatih Al Malawiy, Ulama Aswaja Sumut
  15. Buya Mahmud Jamhur, Ulama Aswaja Palembang
  16. Kyai Hidayat Ar Rokkaniy Al Malawy, Ulama Aswaja Pekanbaru
  17. Kyai Syamsuddin Ramadlan, Ulama Aswaja Jakarta
  18. KH Nashruddin, Ulama Aswaja Jateng
  19. KH Nashruddin, Ulama Aswaja Linggi Matallo Makassar Sulsel
  20. KH Ahmad Abu Syamil, Ulama Aswaja Ngawi, Jatim
  21. KH M Asrori Muzakki, Ulama Aswaja Jakarta

Acara multaqa dibuka oleh MC Ustad Dede Wahyudin, Ulama Aswaja Depok, lalu dilanjutkan dengan pembacaan kalam Illahi oleh Qori KH. Mahmuddin Al Hafidz, Ulama Aswaja Bekasi, yang  membaca surat Al Maidah 90-91, dan An Nuur 55-56.

Lalu dilanjutkan dengan sambutan oleh KH. Hasyim Musthofa, selaku Shaibul Hajah, menyampaikan latar belakang dilaksanakan multaqa kali ini adalah untuk mensikapi persoalan terbaru yang terjadi di negeri ini. Diantara beliau sampaikan bahwa pandemi covid yang belum jelas kapan berakhir, ekonomi yang juga membaik, akibat diterapkannya sistem kapitalisme sekuler demokrasi, ditambah dengan kebijakan terbaru legalisasi miras.

Beliau mengutip ayat alquran dan hadis yang mengharamkan miras (minuman Alkhohol), antara lain Surat Al Maidah: 90. Allah SWT berfirman:

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.” (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 90)

Lalu disampaikan hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang melaknat sepuluh orang yang berkenaan dengan khamr antara lain: Orang yang memeras, yang meminta diperaskan, peminum, pembawanya, yang dibawakan untuknya, penuangnya, penjual, yang memakan hasilnya, pembelinya dan yang minta dibelikan. (HR. Tirmidzi: 1216)

 

Lalu dilanjutkan keynote speaker (nara sumber utama), KH. Rachmat S Labib, Ulama Aswaja Jakarta. Beliau menegaskan kembali apa yang telah disampaikan oleh Shabibul Hajah tentang ancaman yang akan menimpa orang-orang yang berkaitan dengan miras (alkhohol).

Beliau menyampaikan “Presiden mencabut lampiran minuman keras (minuman alkohol) bukan karena khamar itu haram, tapi karena banyaknya orang yang menolak, mulai dari ulama, kyai, serta beberapa elemen masyarakat lainnya”.

“Jadi larangan miras dicabut bukan karena haram, tapi karena banyak yang menolak. Itulah fakta pembuatan undang-undang dalam sistem demokrasi, bahwa aturan itu dibuat berdasarkan kesepakatan mayoritas. Kalau mayoritas menolak maka aturan tersebut batal, tapi jika yang menerima mayoritas maka ditetapkan menjadi undang-undang”, tegas Kyai Labib

Oleh karena itu, ini fatal undang-undang dibuat berdasarkan kesepakatan manusia, ini bertentang dengan syariah Islam, bahwa hak membuat undang-undang ada di tangan Allah, manusia adalah pelaksananya.

Hal ini hanya terjadi dalam sistem kapitalisme demokrasi sekuler yang memisahkan urusan agama dengan urusan kehidupan. Oleh karena itu, sudah saatnya kita meninggalkan aturan produk manusia seperti ini dan beralih dengan aturan islam kaffah yang akan diterapkan oleh Khilafah.

“Hanya dengan sistem khilafah syariah islam kaffah bisa dilaksanakan secara sempurna, islam menjadi rahmatan lil alamin sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya”. Tutup Kyai Labib.

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Saatnya Islam Gantikan Sistem Amoral dan Asusila, KH Misbah Halimi Sikapi Permendikbudristek No 30 Tahun 2021

Probolinggo, Jatim (shautululama) – KH. Misbah Halimi, M.Pd, Koordinator FKU Aswaja Jombang menjelaskan Islam siap …