MULTAQO ULAMA ASWAJA MDF PARUNG – BOGOR : TOLAK KRIMINALISASI KYAI HERU ELYASA

Parung, Bogor (shautululama) – Majlis Darul Fikri (MDF) Al-Islamy Pondok Udik – Hambulu, Parung – Bogor, Sabtu malam Ahad 25 Dzulhijjah 1440H / 24 Agustus 2019 telah menyelenggarakan Multaqo Ulama Aswaja Parung Bogor. Multaqo dimulai setelah isya’, dihadiri oleh jama’ah dari kalangan Ulama, Kyai, asatidz dan Muhibbin wilayah Kemang, Parung, Ciseeng dan sekitarnya.

Hadir dalam multaqo ulama, yang penuh suasana ukhuwah dan keakraban ini antara lain: Shahibul bayt Al – Mukarram KH. Haris Iskandar (Pimpinan MDF Al-Islamy), Kyai Sukriyanto (Ulama Parung, Dosen UMJ Ciputat), Ki Sarmili (Pimpinan Majlis Saung Ma’rifat, Parung), Kyai Dr. Ahmad Sastra (Cendekiawan Muslim, Dosen Pasca Sarjana, Bogor), dan beberapa asatidz serta muhibbin lainnya.

Sambutan sekaligus pemateri pertama disampaikan oleh Shahibul bayt, Al – Mukarram KH. Haris Iskandar, beliau menyampaikan terkait tujuan diadakannya multaqo dan sikap seorang muslim terhadap persekusi dan kriminalisasi ulama.

“Multaqa ini bertujuan dalam rangka momentum kemerdekaan dan menyikapi kriminalisasi terhadap ulama, Alfaqir ingat perkataan Imam Ahmad bin Hambal; idza ‘arafa ar-rajul nafsahu fama yanfauhu kalaam an-naas (jika seseorang mengenal dirinya, maka perkataan seseorang tidak akan bermanfaat baginya). Jika kita mengetahui diri kita, maka kita akan berjalan dengan apa yang telah kita pahami. Akan terus belajar dan amalnya juga harus sesuai dengan apa yang telah dipelajari ” tegas Kyai Haris

Terkait teladan ahlul Ilmi, Kyai Haris menyitir perkataan Khalifah Ali bin Abi Thalib dalam Kitab at-Tibyan fi adab hamalat al-Qur’an, Karya Imam Nawawi;
“Wahai para pengemban Ilmi , berbuatlah denga ilmu itu “Dalam kitab Tazkiyatunnufus, Amir assami berkata bahwa Ia pernah dipanggil “wahai al-‘Alim ” Amir assami berkata : “Sesungguhnya orang Alim adalah man yakhsyallaha (orang yang takut kepada Allah SWT). Seorang ‘alim itu memiliki ilmu dan Ia mengamalkan ilmunya karena takut kepada Allah “.

Dalam Al-Qur’an disebutkan : “innama yakhshyallaha min ‘ibadihil Ulama” Diantara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama (Q.S Fatir [35] : 28 ). Ulama adalah jamak dari kata ‘Alim, Orang dikatakan ‘Alim ( berilmu ) adalah jika orang tersebut hanya takut kepada Allah. Menyitir pendapat Ibnu Abbas, dalam kitab Tafsir at-Thabari terkait frase ‘alladziina ya’lamuuna …’ orang yang berilmu itu adalah bahwa bagi dirinya hanya Allah SWT diatas segalanya. Maka orang yang takut kepada Allah, Ia hanya fokus pada Allah saja.

Para ulama adalah ‘warasatul anbiya’, pewaris para nabi.
Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan Dinar dan dirham melainkan mewariskan llmu. Maka para ‘alim ulama ketika mendapatkan ilmu, akan bertemu dengan orang – orang yang benci terhadap ilmu yang diturunkan berdasarkan Wahyu. Maka tak heran ada yang menolak syariah, menolak khilafah sebagai ajaran Islam dan menolak beragam jalan kebenaran.

Padahal yang mengusir penjajah dari negeri ini adalah para ulama dengan kalimat takbirnya, para ulama lah yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini dari serangan penjajahan. Ironisnya banyak yang merayakan kemerdekaan ini dengan perbuatan hura – hura tak bermakna, ini menandakan negeri ini belum merdeka secara Kaffah.

Kyai Haris pun menyampaikan fakta bahwa negeri ini belum merdeka adalah banyak persekusi dan kriminalisasi terhadap ulama. Diantarnya: Kriminalisasi Ustadz. Alfian Tanjung, Habib Rizieq, Habib Bahar bin Smith, KH. Heru Elyasa dan yang baru – baru ini kasus pelaporan terhadap Ustadz. Abdul Shomad. Disamping itu seringnya aktivitas dakwah dihadang dan dihalang-halangi oleh mereka yang benci terhadap Islam.

“Orang-orang yang benci syariah dan khilafah akan terus menghalang-halangi laju dakwah. Kyai Heru Elyasa itu kyainya para kiyai, beliau adalah ulama pejuang syariah dan khilafah tapi dikriminalisasi rezim. Dengan adanya kriminalisasi ulama, menunjukan bahwa negara ini belum merdeka. Mereka yang mengaku telah merdeka berarti belum paham apa itu merdeka yang hakiki, merdeka yang sebenarnya adalah bila Islam tegak dalam bingkai Khilafah ala minhajin nubuwwah” Ujar Kyai Haris.

Adapun Ki Sarmili (Pimpinan Majlis Saung Ma’rifat) penyampai materi kedua, menyampaikan akan pentingnya makna kemerdekaan hakiki.

“Apakah kita sudah merdeka ? kita telah melihat di banyak media bahwa Kyai Heru Elyasa dizalimi karena memperjuangkan dakwah Islam kaffah, maka sejatinya negeri ini belum merdeka.  Merdeka itu bukan bebas dari hukum Allah, negeri ini merdeka baru hanya katanya, sebab baru hanya bebas dari penjajahan fisik. Penjajahnya diusir tetapi hukum kafirnya masih diambil sebagai pedoman hidup. Sekarang kita tidak boleh diam terus kumandangkan perjuangan dakwah syariah hingga tegaknya khilafah. Siapapun orangnya yang menghalangi dakwah harus kita hadapi meski taruhannya nyawa “_ tegas Ki Sarmili.

Ki Sarmili juga menyampaikan pentingnya ‘Wala tamu tunna Illa waantum muslimin’ Janganlah anda mati kecuali dalam keadaan muslim. Beliaupun menegaskan bahwa hancurnya Indonesia bukan dengan khilafah tetapi dengan sistem demokrasi kapitalis saat ini. Orang yang takut kepada manusia maka akan berani kepada Allah, ini persis sebagaimana halnya dalam Demokrasi. Maka mumpung masih hidup, terus Istiqomah perjuangkan dakwah syariah dan khilafah.

Menurut beliau NKRI itu ulama yg membentuk bukan Soekarno. Kemerdekaan itu tidak lepas dari perjuangan para ulama; Diponegoro, Imam Bonjol, Kyai Sentot. Tetapi aneh sekarang banyak penerusnya para ulama sedang dipersekusi.

“Islam harus kita pertahankan dan jangan pernah takut. Tidak ada ikhtilaf dikalangan ulama dalam menegakkan Khilafah. Kita doakan Kyai Heru Elyasa agar tabah dan bersabar menghadapi persekusi penguasa ini. Sekarang demokrasi sudah sekarat. Jangan putus asa dan jangan mundur, teruslah berjuang” papar Ki Sarmili Yahya menutup materinya.

Sedangkan Kyai. Dr. Ahmad Sastra pemateri ketiga. Menyampaikan
Betapa penting membiasakan tradisi membaca dan menulis sebagaimana para ulama.

“Penting bagi kita untuk mewariskan ilmu, Rasulullah itu memiliki sekretarisnya 40 orang ketika menulis wahyu. Kitab-kitab ditulis berikut syariahnya, banyak kitab tafsir ditulis dan banyak juga ditulis kitab ringkasannya, seperti kitab ringkasan tafsir Ibnu katsir. Pertanyaannya kenapa banyak ulama yang menulis kitab? Maknanya Ilmu itu harus ditulis”,  terang Kyai Ahmad.

Beliaupun menegaskan bahwa mewariskan ilmu itu salah satu kebiasaan mulia ulama zaman dahulu.

“Kita tidak kenal dengan Hujjatul Islam Imam Al – Ghazali tetapi mengenal ilmu-ilmu yang beliau pernah tulis dalam banyak kitab. Maka jika kita bicara keulamaan, maka kita harus membiasakan tradisi ilmu untuk kejayaan Islam. Wariskan ilmu dengan menuliskannya, Maka kita akan lebih lama mewariskan ilmu dalam bentuk tradisi keilmuwan, berjuang terus jangan pernah takut” tegas Kyai. Dr. Ahmad Sastra. Salah satu Dosen dan penulis produktif.

Adapun materi terakhir disampaikan oleh Kyai Syukriyanto (Dosen UMJ Ciputat). Beliau menyampaikan tausiyah terkait dengan momentum Hijrah, kemerdekaan dan penolakan kriminalisasi terhadap Ulama, KH. Heru Elyasa.

Beliau menyitir salah satu ayat Al-Qur’an, Allah SWT berfirman, “Bersegeralah kembali kepada Allah, sungguh aku pemberi peringatan yang nyata dari Allah untuk kalian” (TQS. Adz- Dariyat [51] : 50 ) dan sabda Rasulullah yang menyatakan; Al-hijratu man hajara ala ma naha ‘anhu, hijrah itu berpindah dari apa saja yang dilarang Allah.

“Dalam rangka menyongsong tahun baru hijrah. Jadikanlah momentum hijrah itu sebagai upaya introspeksi, Ittaqullah haytsuma kunta. Hari ini sejauhmana kita menempatkan sebagai orang yang bertakwa, apakah kita dalam kondisi maksiat atau taat kepada Allah. Jika kondisi kita masih dalam kemaksiatan, sejatinya kita belum hijrah ” Kyai. Syukri memaparkan.

Beliau pun menegaskan bahwa kondisi umat Islam saat ini berada dalam kondisi hukum Islam belum ditegakkan. Maka kita sebagai pengemban dakwah bagaimana mengimplementasikan ayat ‘fafirruu ilallah ‘ (bersegeralah menuju kepada Allah) QS. Adz- Dariyat ayat 50 tersebut. Kita berharap umat ini dalam waktu dekat akan berubah. Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan ‘ kebatilan yang tertata dengan baik akan mengalahkan kebenaran yang tidak tertata’ . Maka shaf umat ini harus ditata dan dirapihkan lagi, yang penting adalah Istiqomah, apa saja yang tidak Istiqomah maka akan hilang.

“Apakah hari ini, kita siap memposisikan diri kita siap untuk fafirru ilallah ? Jika kita hanya siap sebatas ‘ perasaan ‘ tetapi tidak mau turun dan bergerak untuk dakwah, berarti sebenarnya kita belum siap ” ujar Kyai. Syukriyanto

Terkait persekusi terhadap KH. Heru Elyasa ulama Aswaja Mojokerto, beliau menyatakan sikapnya.

“KH. Heru Elyasa adalah ulama pejuang syariah dan khilafah. Bagi sebagian besar orang yang membenci beliau menganggap kyai Heru Elyasa itu seperti Nabi Nuh A.S yang menyeru perintah sang khalik, Nabi Nuh itu dipersekusi oleh kaum kafir penentang dakwahnya, bahkan tidak dipercayai oleh anaknya sendiri. Jadi jika kita atau ulama dipersekusi hari ini, sejatinya adalah pengulangan sejarah. Kyai Heru Elyasa sedang diuji dengan level ujian para Nabi, sebagaimana Nabi Nuh, A.S, Nabi Musa, dan Nabi – Nabi yang lainnya ” tegas Ustadz. Syukri .

Adapun terait momentum kemerdekaan, beliau menyatakan bahwa merdeka itu keluarnya manusia dari beragam bentuk kedzaliman – kedzaliman menuju Islam kaffah.

Acara Multaqo Ulama Aswaja MDF Parung – Bogor ditutup dengan doa, dilanjutkan dengan ramah tamah dan musafahah Ulama, Kyai, asatidz dan Muhibbin. [A.Zyd]

 

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Saatnya Islam Gantikan Sistem Amoral dan Asusila, KH Misbah Halimi Sikapi Permendikbudristek No 30 Tahun 2021

Probolinggo, Jatim (shautululama) – KH. Misbah Halimi, M.Pd, Koordinator FKU Aswaja Jombang menjelaskan Islam siap …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *