Multaqa Ulama Aswaja Kab. Bogor, Hukum Mati Bagi Penghina Nabi, Batalkan Omnibus Law UU Ciptakerja

Bogor, (shautululama) – Masih dalam suasana khidmat momentum Maulid Nabi Muhammad SAW. Umat Islam mendapat cobaan yang sangat berat. Di Indonesia DPR dan Pemerintah dengan jumawa telah mengesahkan Undang-undang dzalim, yang mendapat protes oleh seluruh elemen masyarakat di seantero negeri, yaitu Undang-undang Omnibus Law Ciptakerja

Masih dalam suasana pandemi yang penanganannya carut marut dan nyata di hampir seluruh dunia, kewajiban setiap pemerintahan untuk mengurusi rakyatnya, dilaksanakan dengan parameter UNTUNG RUGI materi semata, sebagaimana ciri khas kapitalisme yang saat ini diemban banyak negara termasuk di Indonesia. Belum lagi Prancis, yang untuk kesekian kalinya secara terus terang menyatakan penghinaannya kepada Rasulullah SAW. dengan dukungan Presiden Prancis terhadap Majalah Charlie Hebdo yang menerbitkan kembali karikatur yang menghina Nabi.

Hal ini mendapat reaksi keras dari para Ulama di Nusantara, yang secara beriringan menggelar Multaqo Ulama Aswaja di berbagai wilayah se Indinesia. Begitupun dengan Kab. Bogor pada sabtu 14 November 2020, Majlis Islam Kaffah sebagai Shohibul Hajah menghadirkankan para ulama se Kabupaten Bogor dalam MULTAQO ULAMA ASWAJA KABUPATEN BOGOR dengan tema, “Kutuk Penghina Nabi SAW, Tolak Undang-Undang Omnibus Law yang Zalim Produk Demokrasi”.

Acara yang dilaksanakan secara daring melalui channel YouTube Bogor Berkah dimulai pukul 08.30 hingga 11.30

Acara dimulai dengan pembacaan tawashul yang dipimpin oleh Kiyai Usman Kamaludin, ulama Aswaja Citeureup. Selanjutnya Ust. Hasanudin membuka acara tepat pukul 09.30 WIB, dilanjut dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh Ust. Bilal.

Sambutan shohibul hajah al mukarom KH. Adhi Maretnas menyampaikan, sudah sepantasnya para ulama memiliki kepedulian terhadap berbagai permasalahan yang terjadi di tengah-tengah umat. Dakwah saat ini yang dibutuhkan umat adalah dakwah siyasi, agar umat memahami kondisi terkini umat islam dan ajarannya, tidak terkecuali, apa yang terjadi di Prancis dengan kasus penghinaan Nabi, juga masalah UU Cipta Kerja. Hal ini menjadi fokus bagi ulama mangajak umat agar bisa mencerna secara jernih akar masalah semua itu, yakni ditinggalkannya Islam.

Rois Multaqo Ust. Yusdian Syahwani memimpin sesi acara kalimah minal ulama dengan memberikan kesempan pertama kepada KH. Ikhwabul Hakim, Ulama Aswaja Ciomas yang menyampaikan bahasan dari para ulama bahwa telah menjadi ijma’ bahwa hukuman bagi penghina Nabi adalah hukuman mati, beliau juga mengajak utk menunjukkan kemarahan atas penghinaan tersebut, jika tidak maka seperti keledai sebagaimana Imam Syafi’i mengatakan Habib Sayid Alwi Bin Mukhsin Al Khirid, Ulama Aswaja Sukaraja melanjutkan kalimah minal ulama dengan mengingatkan peran ulama sebagai pewaris Nabi bagaikan darah dalam tubuh yang mengalirkan kebaikan keseluruh tubuh umat, menyampaikan islam secara kaffah dan memperjuangkannya tanpa tergiur perhiasan dunia yang menggiurkan

KH. Harun Ar Rasyid, Ulama Aswaja Ciomas, menyinggung tentang Omnibus Law, UU Cipta kerja yang banyak disebut sebagai undang-undang piring kotor dan undang-undang siluman produk demokrasi yang melahirkan kesyirikan massal. Beliau juga menyinggung program investasi rezim yang merupakan jalan penjajahan orang kafir atas kaum muslimin

Kiyai Arif B Iskandar, Ulama dari Bantar Kambing menyatakan bahwa, berulangnya penghinaan terhadap Nabi serta kezaliman lainnya karena pintu masuknya tidak ditutup yakni demokrasi. “Selama pintu demokrasi tidak ditutup, maka akan masuk segala kezaliman dan kesyirikan” ungkap beliau yang mengakhiri kalimahnya dengan mengajak para ulama untuk berjuang melanjutkan kehidupan islam dengan menegakkan khilafah.

Kyai Usman Kamaludin, Ulama Aswaja Citeureup, mengingatkan, Sunnah Rasul yang sampai saat ini belum dilaksanakan adalah kepemimpinan islam. Para ulama harus semangat mendakwahkan khilafah hingga kehidupan islam kembali berlanjut agar dapat menghilangkan kezaliman dan kesyirikan

Ulama Aswaja Kasepuhan Bogor dari Gunung pancar, Kiyai AA Syamri, menyampaikan bahwah fitnah terbesar zaman ini bernama demokrasi. Jika para ulama berdiam diri maka akan mendapat laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia. Ulama harus mendzahirkan kebenaran agar kesyirikan dan kezaliman tdk merajalela

Aqwal Ulama dipungkasi oleh KH. Muhyidin, Ulama Aswaja Pamijahan, yang mengupas maqolah ulama tentang Khilafah

Acara diakhiri dengan doa agar Allah menolong para ulama yang tengah berjuang bersama umat menegakkan khilafah. Doa dipimpin oleh Ki Sarmili Yahya, Ulama Aswaja Parung.

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Saatnya Islam Gantikan Sistem Amoral dan Asusila, KH Misbah Halimi Sikapi Permendikbudristek No 30 Tahun 2021

Probolinggo, Jatim (shautululama) – KH. Misbah Halimi, M.Pd, Koordinator FKU Aswaja Jombang menjelaskan Islam siap …