Multaqo Ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah Bandung, “Disintegrasi Haram dan Berbahaya”

Bandung, (shautululama) – Kembali para ulama dan tokoh masyarakat di Kabupaten Bandung bermajelis dalam acara Multaqo Ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah, 15 September 2019.

Lebih dari 70 ulama dan tokoh berbondong-bondong menghadiri acara yang diselenggarakan bakda isya. Mereka hadir semata-mata karena dorongan ketaqwaan dan kepedulian terhadap nasib umat, membicarakan topik yang sangat krusial yaitu disintegrasi yang dalam pandangan haram dan berbahaya.

Acara dibuka oleh shahibul bait, Ustadz Zamzam, yang memaparkan latar belakang adanya Multaqo Ulama ini sebagai wasilah untuk meraih Ridho Alloh SWT serta jalan menuju tegaknya syariah secara menyeluruh.

Hadir pula para pembicara para ulama dan tokoh yaitu Kyai Dr. TB Chaeru, Kyai Nashruddin, Ustadz Encang, Ustadz Dede Ruslan, Ustadz Ir. H. Salam Hidayat, serta ustadz Farid Hilman. Mereka bergantian memaparkan secara rinci bagaimana fakta terkait disintegrasi yang tengah dialami oleh negeri ini, serta bagaimana solusinya dalam pandangan Islam.

Kyai Dr. TB Chaeru memaparkan bahwa penjajahan gaya baru itu bukan secara militer, tetapi dengan meliberalkan sistem politik, hukum, ekonomi serta pelayanan publik. Menurut beliau, akumulasi dari faktor-faktor tersebut menjadi pemicu disintegrasi

Kyai Nashruddin dari Cileunyi mengajak ummat untuk bersatu dan tidak terpecah belah. Persatuan umat Islam yang didapatkan harus dipandang sebagai kenikmatan dari Allah SWT, tambah beliau.

Sementara Ustadz Encang mengingatkan para ulama bahwa dalam kondisi ancaman disintegrasi seperti saat ini, maka ulama harus banyak mengadakan pertemuan untuk membahas permasalahan umat selanjutnya mengajak kepada kesatuan umat. Ulama jangan duduk manis dan jangan takut untuk berjuang karena sejatinya yang diharapkan adalah meraih kesyahidan.

Ustadz Dede Ruslan menyampaikan bahwa Rasulullah Saw meninggalkan ilmu, bukan harta. Dengan ilmu warisan Rasul yang dipegang para ulama, pemimpin yang adil, kedermawanan orang-orang kaya, dan do’a orang-orang faqir; keempat hal itu menjadi pilar penopang tegaknya Islam.

Ustadz Farid Hilman mengingatkan bahwa seadil-adilnya hukum adalah syariat Allah, bukannya hukum buatan manusia yang selamanya tidak pernah adil.

Ulama dari Dayeuhkolot Ustadz Ir. H. Salam Hidayat, menambahkan bahwa adanya disintegrasi disebabkan tidak adanya keadilan dalam masalah politik, ekonomi, dan hukum, dan pangkalnya adalah sistem demokrasi. Sehingga solusinya adalah meninggalkan sistem demokrasi dan beralih pada satu-satunya sistem yang merupakan aturan dari Allah SWT Yang Maha Adil, yaitu syariat Islam.

Terakhir, para ulama dan tokoh membacakan pernyataan sikap yang pada intinya menolak bentuk disintegrasi atau terpecah-belahnya ummat karena merupakan sesuatu yang diharamkan, dan Islam memiliki solusi untuk menyatukan ummat dalam satu institusi yang menerapkan syariat Allah secara menyeluruh, yaitu Daulah Khilafah a la Minhajin Nubuwwah.

Setelah itu, acara ditutup dengan doa oleh Ustadz Iwan Setiawan, dan para ulama dan tokoh pun beramah-tamah sebelum kembali ke tempat tinggalnya masing-masing.

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Ulama Aswaja Palu Sulteng, Permendikbudristek No 30 Tahun 2021 Melegalkan Seks Bebas

Palu, Sulteng (Shautululama) – Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permen Dikbudristek) Nomor 30 Tahun …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *