Multaqa Ulama Ngayogyakarta Hadiningrat: “Kembalikan Peran Ulama Sebagai Penjaga Warisan Nabi”

Yogyakarta, (shautululama) – Pembahasan pertama multaqa ulama kali ini, Sabtu, 20 Oktober 2018, adalah tentang takrif, batasan ulama dan yang seharusnya dilakukan ulama dalam mencari solusi problematika umat. Ditambah rezim saat ini menampakkan pola refresifnya terhadap aktivitas para ulama yang lurus dan konsisten dalam menyerukan syariat Islam.

Ustadz Abdurrahim menjelaskan kriteria ulama berdasarkan Q.S. Al Fatir (35:28) “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah diantara hamba-hambaNya hanyalah Ulama”.

Berdasarkan ayat tersebut seorang disebut ulama adalah berdasarkan kualitas ketaatan dan keimanan seseorang kepada hukum Allah. Bukan berdasarkan gelar pendidikan atau banyaknya kitab yang dikaji atau melihat jumlah santri yang dimiliki.

Bila seseorang memiliki gelar pendidikan, banyaknya kitab yang telah dikaji dan jumlah santri yang dimiliki ternyata tidak memiliki ketaatan dan keimanan kepada hukum Allah maka seseorang tersebut sudah keluar dari ketentuan ‘Ulama.

Dalam kitab majmu’ al fatawa, jilid 7 hal 239, juga disebutkan “Siapa saja yang merasa takut kepada Allah SWT, mereka adalah seorang yang ‘Alim.

Ustadz Abdurahim juga memaparkan kondisi umat yang hidup dalam tatanan Negara saat ini di segala aspek kehidupan seperti politik, ekonomi, sosial dan budaya saat ini sangat jauh dari tatanan hukum Allah SWT. Hal ini merupakan tanggung jawab para ‘ulama.

Pembahasan kedua dipaparkan oleh Ustadz Ipul Bahri, Mudir Ponpes At-tasnim, tentang kedzaliman yang dilakukan oleh rezim kepada persekusi ‘ulama dan upaya-upaya masif pengaburan standar ‘Haq dan kebathilan sesuai pola pikir kepentingan rezim.

Padahal Allah SWT sudah menentukan standarisasi tentang Haq dan Bathil. Selain itu untuk memuluskan aksinya, rezim menggandeng para ulama yang hanya mementingkan kepentingan pribadi untuk melegitimasi aksi rezim dalam menipu umat dan mengaburkan standar ‘Haq dan bathil tersebut.

Para ulama yang berpihak kepada rezim sudah diperingatkan Allah SWT pada Q.S. Hud : 113, tentang ancaman Allah kepada mereka. Sungguh perbuatan rezim justru akan menimbulkan perpecahan umat.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, ustadz Ipul memaparkan bahayanya pemimpin seperti rezim saat ini, bila terpilih kembal. Beliau memaparkan bagaimana solusi Islam dalam memilih pemimpin dan bagaimana menjalankan negara yang berdaulat dan mulia dengan menerapkan syariat Islam dan Khilafah.

Acarapun dilanjutkan dengan diskusi hangat dan tanya jawab dengan hadirin yang terdiri dari masyarakat, ulama dan asatidz dari wilayah Yogyakarta. Salah satunya adalah tentang bagaimana kondisi lingkungan tempat tinggal seorang penanya dipenuhi oleh kemaksiatan yang mendapat izin dari Pemda, saat masyarakat menyampaikan keberatan malah dianggap sebagai ‘pengganggu’.

Setelah diskusi acara dilanjutkan dengan pembacaan doa dan ramah tamah (ABQ/hs)

#UlamabersamaHTI
#KhilafahAjaranAhlussunnahWaljamaah
#HaramPilihPemimpinDzalim
#HaramPilihPemimpinAntiIslam
#HaramPilihPemimpinIngkarJanji
#HaramPilihPemimpinAntekAsingAseng
#JanganPilihPemimpinGagal

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Permendikbudristek No 30 Tahun 2021 Bukti Kegagalan dan Ketidakberdayaan Negara Menjunjung Nilai Agama, Moral dan Etika

Surabaya, (shautululama) – Selasa, 30 November 2021 bersama maraknya penolakan terhadap Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *