Multaqa Ulama dan Tokoh Umat Belitung: “Tolak Penjajahan China Lewat OBOR”

0
837

Belitung, (shautulama) – Penolakan terhadap Proyek OBOR/BRI terus bergulir termasuk di Bangka Belitung. Kali ini Forum Komunikasi Ulama Ahlul Sunnah Wal Jamaah Kabupaten Belitung menggelar Multaqo Ulama dan Tokoh Umat Belitung di Kediaman Seorang Da’i Muda Belitung, Ust Multazam Zakaria, Ahad/26/05/2019.

Acara bertajuk, “TOLAK PENJAJAHAN CINA MELALUI PROYEK OBOR/BRI” dihadiri sejumlah ulama, di antaranya Para Pengurus DMI Belitung, Ketua Yayasan Belitung Peduli yang juga Da’i Muda Belitung sekaligus sebagai tuan rumah Ust Multazam Zakaria, Pengurus IKADI Belitung, Pengurus IPHI Belitung, Pengurus Pemuda Muhammadiyah Belitung, serta sejumlah Ulama dan Tokoh Umat Belitung lainnya.

KUNJUNGI INSTAGRAM KAMI

Ust Adi selaku Koordinator Forum Komunikasi Ulama ASWAJA Belitung dalam sambutannya mengatakan bahwa proyek OBOR atau BRI ini harus kita tolak, sebab sudah sangat jelas dan terang bahwa OBOR ini merupakan salah satu alat penjajahan Tiongkok atas Indonesia.

“Kita semua harus menolak OBOR ini. Jangan biarkan negeri yang kita cintai ini kembali dijajah oleh pihak Asing dalam hal ini oleh Negara Tiongkok. Cukup sudah kita dijajah secara fisik oleh Belanda dan Jepang, saat inipun kita belum lepas dari penjajahan secara ekono mi oleh Amerika dan sekarang kita akan dijajah oleh Tiongkok. Stop penjajahan atas Indonesia! tegas Ust Adi.

Ust Sofiyan Rudianto selaku Nara Sumber dalam kegiatan ini menyampaikan bahwa OBOR adalah bentuk Kolonialisasi Cina dan merupakan bentuk debt colonialism, yakni penjajahan melalui jebakan utang. Di sisi lain proyek OBOR ini sesungguhnya adalah untuk kepentingan Cina yakni untuk memuluskan jalur perdagangan ekspor dan impor Cina.

Parahnya infrastruktur yang akan digunakan untuk memuluskan perdagangan Cina ini harus dibangun oleh Pemerintah Indonesia dari dana utang melalui proyek OBOR ini. Lebih parahnya lagi selain pinjaman tersebut berbunga, kontraktor, bahan dan tenaga kerja juga harus didatangkan dari Cina, dan jika gagal bayar maka insfrastruktur yang sudah dibangun tersebut akan diambil alih pengelolaannya oleh Cina.

Contohnya Sri Lanka yang memperoleh pinjaman sebesar USD 8 miliar (Rp. 116 Triluin). Ketika tak sanggup bayar utang, Sri Lanka harus menyerahkan 70 persen saham kepemilikan Pelabuhan Hambantota serta memberikan hak pengelolaan ke pemerintah Tiongkok selama 99 tahun.
Oleh karena itu, melihat bahayanya bagi negeri ini, maka kita semua harus menolak OBOR. Sepakat menolak OBOR? Tanya Sofiyan kepada seluruh Ulama dan Tokoh yang hadir, dan semuanya menjawab Sepakat, lalu disambut dengan takbir dari seluruh peserta yang hadir.

Sofiyan juga menjelaskan bahwa kegiatan ini dilaksanakan sesungguhnya adalah sebagai salah satu bentuk kecintaan terhadap negeri dan rakyat ini, agar jangan sampai negeri ini jatuh ke tangan para penjajah dan rakyatnya hidup dalam kesengsaraan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here