Multaqa Ulama Aswaja Surabaya, Hukum Allah SWT di Atas Semua Konstitusi dan Hukum Produk Manusia

Surabaya, (shautululama)  – Yayasan Al Kamil, telah melaksanakan Multaqa Ulama Ahlussunnah wal Jamaah Surabaya, dengan tema “Menjaga Kemulyaan Al Qur’an”. Jumat, 28 Pebruari 2020 bertepatan dengan 6 Rajab 1441 Hijriah.

Acara dibuka dengan pembacaan Al-Qur’an surat Al Hijr ayat 1-15, oleh Ustadz Deden. Acara malam hari ini dihadiri undangan yang terdiri dari Ulama, Kyai, Assatidz dan tokoh masyarakat Surabaya.

Sambutan hangat mengawali acara disampaikan oleh ustadz Muhammad Sugiono mewakili Shohibul Hajat dari Ketua Yayasan Pesantren Al Kamil Surabaya. Beliau sangat menghargai kehadiran para undangan dalam rangka berkumpul bersama membicarakan perkara yang mulia yaitu terkait masalah umat. Karena masyarakat kini marak melakukan perkara yang diharamkan oleh Allah SWT misal pinjaman yang mengandung riba dan lain sebagainya. Beliau berharap semoga dengan acara tersebut dapat membangkitkan kaum muslimin sehingga Khilafah ala minhajinnubuwah segera terealisasi tegak dan para undangan termasuk bagian dari yang menegakkannya.

Sambutan berikutnya yang tak kalah hangat dan penuh semangat disampaikan oleh KH. Abdul Kholiq, Ketua Forum Umat Islam Bersatu Surabaya. Beliau yang sering mendapati halangan dan rintangan dalam menyampaikan kebenaran Islam memberi semangat kepada para undangan untuk berani dan terus menyampaikan Al Qur’an dan As Sunnah. Tantangan menyampaikan kebenaran tersebut bahkan datang dari pemerintah.

Menurut beliau kini orang Islam mengaku orang Islam tapi ngawur, mulai dari pernyataan Agama adalah musuh Pancasila sampai usaha mengganti Assalamu’alaikum dengan salam Pancasila. Dalam perang pemikiran tersebut beliau berpesan kepada para undangan untuk tetap berkumpul dengan orang-orang sholeh dan saling memberi nasehat.

Memasuki sesi taushiyah diawali oleh Ustadz Wajdi Abdul Wahid, Pengasuh Majelis Cinta Al Qur’an dengan tema “Al Quran dan Kemulyaannya”. Beliau mengingatkan bahwa umat Islam ini dimulyakan Allah SWT karena Al Qur’an. Bahkan benda pun bisa dimulyakan karena Al Qur’an. Bagaimana kita memberlakukan Al Qur’an menentukan bagaimana derajat kita. Bahkan seorang professor pun bisa jatuh derajatnya ketika tidak menjadikan Islam sebagai yang tertinggi. Maka dari itu sudah selayaknya semua orang bertanya bagaimana dirinya memberlakukan Al Qur’an. Jika kita mencintai Al Qur’an maka kita termasuk orang yang mencintai Allah SWT.

Beliau menjelaskan, jika kita mencintai Allah maka kita akan mentaati Allah, jika kita mencintai Al Qur’an maka selayaknya kita mengikuti petunjuk yang ada di dalam Al Qur’an. Khilafah institusi yang wajib ada untuk melaksanakan seluruh hukum-hukum yang ada dalam Al Qur’an

Taushiyah berikutnya disampaikan oleh KH Khoiri Sulaiman, Pengasuh Ma’had Darul Mustofa, menyampaikan tema “Kitabullah Di atas Konstitusi”. Tema ini beliau angkat tidak lain karena baru-baru ini ada seorang tokoh pemerintahan yang secara terang-terangan menyampaikan bahwa konstitusi itu di atas hukum agama. Padahal semua aspek kehidupan seorang muslim itu harus berhukum pada hukum Al Qur’an.

Dalam surat Al Maidah, beliau menjelaskan bahwa barang siapa orang yang tidak mau berhukum dengan hukum Islam karena menurut mereka lebih jelek dari pada hukum buatan manusia maka dihukumi kafir. Pesan beliau kepada para Kyai dan Assatidz adalah kita harus tetap mengembalikan Al Qur’an dan As Sunnah sebagai sumber hukum yang tertinggi. Dan sistem pemerintahan yang mampu untuk melaksanakan dan menjaga Al Qur’an dan As Sunnah sebagai sumber hukum yang tertinggi tersebut adalah khilafah.

Taushiyah penutup disampaikan Ustadz Assadullah, Pengasuh Majelis Hikmah Kalam Ilahi dengan tema “Al Qur’an, Solusi dan Petunjuk Bagi Manusia”. Rasulullah mewariskan dua perkara yaitu Al Qur’an dan Sunnah Rasul. Ketika kaum muslimin terutama para ulama menyampaikan dan berpegang pada Al Qur’an dan As Sunnah maka mereka tidak akan tersesat dan menyesatkan manusia. Maka seharusnya mereka menyebarkan warisan Rasul tersebut dan bukan yang lain. Sebagai petunjuk, dalam surat Al Baqarah ayat 185.

Beliau menjelaskan bahwa Al Qur’an adalah petunjuk hidup bagi seluruh manusia bukan hanya untuk orang yang beriman saja. Dalam surat Isra disebutkan bahwa Al Qur’an juga sebagai petunjuk yang paling lurus. Tidak diambilnya Al Qur’an sebagai petunjuk akan menghasilkan permasalahan misalnya ketimpangan ekonomi di masyarakat, karena pengelolaan sumber daya alam yang tidak berdasarkan aturan Islam. Dalam hal pemerintahan, dengan berpegang dengan Al Qur’an maka yang muncul adalah penguasa memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat. Hal tersebut merupakan penjelasan mengenai pemecahan problem hidup manusia menggunakan aturan Islam.

Tidak terasa Multaqa Ulama tersebut berlangsung hingga larut malam dan akhirnya ditutup dengan doa bersama dipimpin oleh Ustadz Mudjiburrohman dan dilanjutkan dengan sesi foto bersama. (MA)

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Ulama Aswaja Palu Sulteng, Permendikbudristek No 30 Tahun 2021 Melegalkan Seks Bebas

Palu, Sulteng (Shautululama) – Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permen Dikbudristek) Nomor 30 Tahun …