Multaqa Ulama Aswaja Riau, Tekad Ulama Selamatkan Negeri dari Bencana, Adu Domba Sesama Anak Bangsa dan Kedzaliman

Riau, (shautululama) – Para Ulama Aswaja Riau menyelenggarakan agenda besar dalam sebuah forum Multaqo Ulama Aswaja Riau pada Ahad, 31 Januari 2021. Dengan mengangkat tema: “Peran Strategis Ulama Cinta Negeri, Selamatkan Umat dari Bencana Melanda Negeri, Waspada Adu Domba Umat, Tolak Kedzaliman dan Terapkan Islam Kaffah”. Acara  dimulai dari pukul 08.00 via link Zoom Meeting dan Live Streaming di channel YouTube Melayu Bersyariah.

Multaqa ini dihadiri oleh para Ulama Aswaja Riau dari Pimpinan Pondok Pesantren dan Pengasuh Majelis Ta’lim yang ada di Riau. Ada juga beberapa Ulama yang hadir dari luar Riau. Ustad Rizki Abu Atho’ selaku rois jalasah membuka acara multaqo lalu dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ustadz Yazid Umar Nasution.

Kemudian, dilanjutkan dengan sambutan (kalimatul taqdim) shahibul hajat oleh Ustadz Yadi Isman, dengan memaparkan berbagai problematika negeri ini, mulai dari bencana alam yang bertubi-tubi melanda negeri, juga kedzhaliman penguasa yang tak terkendali serta menjelaskan peran Ulama dan arah tujuan perjuangan harus jelas.

Acara multaqo dipandu oleh rois multaqo Ustad UES Al Jadid Abu Najmi.  Beliau menyapa para ulama yang mendapatkan ihtirom untuk menyampaikan kalam minal ulama satu per satu melalui ruang zoom.  Lalu mempersilahkan KH Abu Zaydan, Lc, M.Sy, menyampaikan kalam minal ulama pertama.

KH Abu Zaydan, Lc, M.Sy menjelaskan mengenai peran para Ulama adalah mewarisi segala yang bersumber dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, yakni mewarisi aqidah, pendidikan, politik, hukum-hukum, sanksi-sanksi di dalam Islam dan berbagai bentuk syariat lainnya. Tentu tidak hanya diwarisi, tapi didakwahkan kepada seluruh manusia.

Kemudian kalam minal ulama berikutnya disampaikan oleh Tuan Guru (TG) Daeng Muhklis Arifin, salah satu Pengasuh Sekolah Tahfidz Khairu Ummah Pekanbaru. Beliau mengutarakan mengenai peran Ulama sebagai pewaris Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sangat dibutuhkan peran dalam menuntaskan persoalan negeri ini. Untuk itu, ulama harus bangkit, bergerak, bersuara, jangan diam, ilmu itu harus disampaikan ke umat dan jangan mencampur adukkan antara al-haq dan al-bathil.

Lalu, Ustadz Abu Azzam menjelaskan bahwa kita kaum muslimin harus jujur dan mengakui bahwa persoalan negeri ini tidak hanya bencana banjir saja, namun banjir bencana. Ada bencana alam, bencana ekonomi, bencana sosial dan bencana-bencana lainnya. Kesemuanya itu mestinya menjadi muhasabah bagi kita semua, khususnya penguasa hari ini, agar bertaubat kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa dan menerapkan Syariat Islam secara kaffah dalam kehidupan.

Namun yang terjadi, segala bentuk bencana tersebut belum menjadi sebuah penyadaran kepada umat, apalagi penguasa negeri ini. Buya Sirjon Al-Faqih mengatakan bahwa disinilah pentingnya dakwah yang dilakukan oleh setiap muslim. Khususnya para Ulama untuk menyampaikan Islam, melakukan amar ma’ruf nahi munkar secara berkelanjutan tanpa henti.

Dakwah harus dilakukan tanpa berhenti, apalagi kondisi kaum muslimin kian hari semakin jauh dari ajaran Islam. Hal ini dipaparkan oleh KH. Sohandi Al-Bantani, bahwa umat hari sangat memprihatinkan. Akibat serangan politik yang digencarkan oleh dunia barat yang ingin melemahkan ghiroh Umat Islam, khususnya para Ulama.

Beliau membocorkan sebuah strategi politik dunia Barat oleh Rand Corporation. Sebuah lembaga think tank Amerika Serikat, bahwasanya untuk menghancurkan Islam, kaum muslim harus dibagi menjadi empat kelompok: 1) kelompok fundamentalis, 2) kelompok Tradisionalis, 3) kelompok modernis, dan 4) kelompok sekularis.

Di mana, keempat kelompok tersebut saling dibenturkan dengan tujuan memecah belah umat Islam. Sehingga, Umat Islam bisa mereka kendalikan dengan sekehendak hati mereka.

Ustadz Muhammad Faisal Nasution dari Rokan Hilir menjelaskan bahwa “umat Islam saat ini seperti tubuh yang organ-organnya dimutilasi. Disekat oleh ikatan nasionalisme kebangsaan. Berpecah dan bercerai-berai dalam menyikapi persoalan yang menimpa kaum muslimin, seharusnya Umat Islam disatukan oleh Aqidah Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah”.

Namun, mungkinkah dalam sistem saat ini umat Islam bisa bersatu dalam beraqidah dan taat pada syariat Islam?.

Ustadz Asnul Umair Siregar memamarkan bahwa sistem demokrasi tidak akan bisa melahirkan pemimpin yang taat pada syariat Islam. Karena asas dari sistem ini adalah sekularisme, yakni pemisahan antara agama dengan kehidupan, pemisahan antara agama dengan negara.

KH. Fahmi Shadry mengungkapkan bahwa fakta buruk sistem demokrasi, sejatinya yang berdaulat bukanlah rakyat, namun para pengusaha atau kaum kapitalis. Bisa dilihat fakta dalam penerapan sistem demokrasi itu, muncullah biaya yang sangat mahal, sehingga para cukong bermain mendukung para calon pemimpin. Secara otomatis, bentuk dukungan tersebut akan melahirkan kebijakan yang berpihak kepada pemilik modal, bukan kepada rakyat. Seperti lahirnya beberapa Undang-Undang yang berpihak kepada para kapitalis, seperti UU Omnibus Law, UU Minerba, dan lain sebagainya.

Berdasarkan fakta itu, Ustadz Abu Kanaya Al-Bankali menjelaskan bahwa demokrasi adalah sistem kufur yang bukan dari Islam, yang mustahil rakyat, atau umat Islam akan sejahtera, apalagi bersatu. Umat Islam hanya bisa disatukan oleh sebuah sistem yang diajarkan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, yakni sistem Islam telah beliau wariskan, yakni Khilafah.

Sejalan dengan pernyataan Ustadz Abu Kanaya Al-Bankali tersebut, Buya Hidayat Ar-Rokani menambahkan bahwa dengan berdirinya Daulah Islamiyah yakni Khilafah Rasyidah ‘alaa Minhaj an-Nubuwwah, maka perintah Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa yakni syariat Islam secara kaaffah dapat diterapkan secara sempurna, mulai dari hablumminallah, hablum minafsi wa hablumminannas.

 

Inilah peran ulama yang selalu berada di garda terdepan dalam memperjuangkan (dakwah Islam), memahamkan umat untuk kembali menerapkan Islam secara kaaffah dalam kehidupan baik secara pribadi, keluarga, masyarakat maupun negara, dengan mewarisi seluruh warisan Rasulullah Shallaahu ‘alaihi wa Sallam, yakni hadirnya sebuah institusi formal Khilafah Islamiyah.

Kenapa ulama sebagai garda terdepan? Buya Usman Asy-Syafi’i menegaskan bahwa Ulama adalah manusia yang paling takut kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa, dan Ulama adalah orang yang paling mengetahui tentang persoalan agama ini. Untuk itu, para ulama mestinya gencar mendakwahkan penerapan Khilafah Islamiyyah.

KH. Ahmad Junaidi Ath-Thayyibi sebagai penyampai aqwal terakhir menjelaskan, “Untuk itu, sudah semestinya arah perjuangan dakwah para Ulama adalah penerapan Syariat Islam secara Kaaffah dalam institusi formal Khilafah Rasyidah ‘alaa Minhaj an-Nubuwwah.

Beliau menegaskan, untuk menambah keyakinan umat Islam bahwa Khilafah Utsmaniyyah dengan nusantara memiliki hubungan yang erat, dahulu pernah menyatu dalam penerapan Islam Kaffah.”

Berdasarkan fakta sejarah disampaikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam pidatonya pada Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-6 di Yogyakarta sudah usai pada Rabu (12/2). Acara yang dihadiri berbagai tokoh Islam tersebut dibuka Wapres Jusuf Kalla dan ditutup Presiden Jokowi. Sri Sultan menyampaikan bahwa ada hubungan erat Keraton Yogyakarta dengan Kekhalifahan Utsmani di Turki. Beliau menambahkan bahwa Kekhalifahan Utsmani adalah kesultanan terakhir yang membawahi seluruh kerajaan umat Islam di dunia runtuh pada 1924.

Pada 1479, Sultan Turki mengukuhkan Raden Patah (Sultan Demak pertama) sebagai Khalifatullah ing Tanah Jawa, perwakilan kekhalifahan Islam (Turki) untuk Tanah Jawa, dengan penyerahan bendera Laa ilaah illa Allah berwarna ungu kehitaman terbuat dari kain Kiswah Ka’bah, dan bendera bertuliskan Muhammadurrasulullah berwarna hijau. Duplikatnya tersimpan di Kraton Yogyakarta sebagai pusaka, penanda keabsahan Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat wakil Kekhalifahan Turki.

Oleh karena itu, KH. Ahmad Junaidi Ath-Thayyibi melanjutkan bahwa Khilafah adalah ajaran Islam, dan bahkan disepakati oleh Ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah sebagai Taajul Furudh, yakni mahkota kewajiban. Allah SWT berfirman yg artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sungguh Aku akan menjadikan di muka bumi khalifah…” (TQS al-Baqarah [2]: 30).

Saat menafsirkan ayat di atas, Imam al-Qurthubi menyatakan bahwa wajib atas kaum Muslim untuk mengangkat seorang imam atau khalifah. Para ulama juga sepakat dalam penerapannya. Imam Ibnu Hazm juga mengatakan, “Mayoritas Ulama Ahlus-Sunnah, Murjiah, Syiah dan Khawarij bersepakat mengenai kewajiban menegakkan Imamah (Khilafah). Mereka juga bersepakat, bahwa umat Islam wajib mentaati Imam/Khalifah yang adil yang menegakkan hukum-hukum Allah di tengah-tengah mereka, dan memimpin mereka dengan hukum syara’ yang dibawa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam.” (Ibnu Hazm, Al-Fashl fî al-Milal wa al-Ahwâ’ wa an-Nihal, IV/87).

Pernyataan sikap yang disampaikan oleh Ustadz Fadli Al-Indragiri bersama para Ulama Aswaja Riau dengan menegaskan beberapa pernyataan, di antaranya adalah wajib mengelola alam dengan benar sesuai syariat Islam, dan sesuai siklus bencana. Wajib hukumnya bagi kaum muslimin dan pemimpin untuk taat pada syariat Allah subhaanahu wa Ta’aalaa, wajib pemimpin muslim menjaga persatuan dan haram hukumnya melakukan perpecahan, menghentikan semua bentuk kedzhaliman yang terjadi di negeri ini.

Acara ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh ustadz Wendi Pranata.()

 

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Permendikbudristek No 30 Tahun 2021 Bukti Kegagalan dan Ketidakberdayaan Negara Menjunjung Nilai Agama, Moral dan Etika

Surabaya, (shautululama) – Selasa, 30 November 2021 bersama maraknya penolakan terhadap Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, …