Multaqa Ulama Aswaja Probolinggo, Jatim: Khilafah Sebentar Lagi Tegak Insya Allah

Probolinggo, (shautululama) – Ahad, 8 Desember 2019, bertempat di kaki Gunung Bromo tepatnya di Musholla “Baitul Hamdi”, Alhamdulillah telah terselenggara acara Multaqa Ulama Aswaja Probolinggo yang dimulai pukul: 12.30 – 15.30. Multaqa kali ini dihadiri undangan dari kalangan Ulama, Kyai, tokoh masyarakat beserta para muhibbinnya.

Acara ini dipandu langsung oleh Al mukarrom Ustadz Pepi Kartiko.

Dalam kesempatan yang mulia tersebut, Shohibul fadhilah Al Mukarrom Ustad Ismail Pengasuh Majelis Ta’lim Al-ma’ani, selaku shohibul bait menyampaikan ucapan terima kasih kepada para ‘Alim, Ulama’, kyai, ustadz, tokoh masyarakat, serta para jama’ah, yang hadir pada acara tersebut.

Beliau juga menyampaikan harapan semoga dengan bertemunya para ‘Alim, Ulama, Kyai di tempat ini memberikan pencerahan kepada umat sehingga kecintaan kepada Rasulullah SAW semakin mantap.

Lanjut beliau, hukum orang yang mengolok-olok ajaran islam secara umum adalah kafir, dalam hal ini perlu adanya rincian yaitu jika mengolok-olok Allah, sifat-sifatNya atau nama-namaNya atau mengolok-olok Rasulullah SAW atau Al Quran, maka hal itu merupakan kekufuran. Hal itu pernah terjadi di masa Rasulullah SAW masih hidup,

Diriwayatkan dari lbnu Umar, Muhammad bin Ka’ab, Zaid bin Aslam dan Qatadah secara ringkas. Ketika dalam peristiwa perang Tabuk ada orang-orang yang berkata “Belum pernah kami melihat seperti para ahli baca Al Quran ini, orang yang lebih buncit perutnya, lebih dusta lisannya dan lebih pengecut dalam peperangan”. Maksudnya, menunjuk kepada Rasulullah SAW dan para sahabat yang ahli baca Al Qur`an.

(وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ)

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah, “Mengapa kepada Allah, dan ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”

Dan Allah berfirman

أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ

Mengapa kamu kafir setelah beriman?
Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.” [Surat Ali-Imran 106]

Shohibul fadhilah Al Mukarrom Ustad Andi Nur Rahmad menyampaikan bahwa dengan adanya penghinaan Rasulullah SAW muncul kelompok masyarakat yang marah dan menuntut para penghinanya untuk ditangkap dan juga muncul kelompok yang justru mendukungnya. Sikap inilah yang kemudian melahirkan asobiyah buta tanpa memperhatikan salah dan benar, padahal Rasulullah mengingatkan, bukanlah golonganKu orang yang melakukan ashobiyah.

Shohibul fadhilah Al Mukarrom Ustd Munif menyatakan bahwa di dalam kitab-kitab kuno, telah jelas menganggap murtad kepada orang yang menghina Rasulullah SAW dan hukumnya boleh dibunuh. Dulu ada seorang istri yang sering menghina Rasulullah SAW di depan suaminya, kemudian karena suaminya tidak terima atas hinaan itu maka istrinya dibunuh.

Tidak lama kemudian peristiwa itu didengar Rasulullah dan ternyata Rasul tidak marah atas apa yang dilakukan suami terhadap istrinya, yakni membunuh istrinya disebabkan istrinya yang sering nenghina Rasulullah SAW.

Shohibul fadhilah Al Mukarrom Ustd Ishaq, menyampaikan bahwa menghina Rasulullah itu ada kalanya menghina fisik, menghina sifat dan menghina yang lainnya.

Penghormatan terhadap fisik saja, kita harus mengagungkan, seperti terhadap janggutnya rasul, kita tidak boleh mengatakan janggutnya kabiro (besar yang tidak teratur), tetapi menggunakan “adhimah” yang berarti yang diagungkannya. Bagi orang yang terlanjur membunuh terhadap orang yang menghina Rasulullah, maka yang membunuh tidak diqishos karena darahnya halal, dia harus insyaf sebelum ditetapkan hukum oleh hakim, karena jika sudah ditetapkanya maka tetap harus dijalankan hukumnya.

Sedangkan pendapat Ibnu Taimiyah, menghina Rasulullah setelah wafat maka tidak bisa dimaafkan, umat harus marah.

Shohibul Fadhilah Al mukarrom Guz Zen, menyampaikan penghinaan terhadap Rasulullah SAW. dan ajaran islam terus terjadi di negeri ini. Tentunya kondisi ini sangat tidak disukai oleh umat islam karena para penghina berlindung di dalam sistem yang ada, sehingga kalau ditanya bagaimana supaya tidak menghina lagi, maka kita sangat nembutuhkan tegaknya daulah islam ala minhajin nubuwwah yang mampu menjaga kemuliaan islam, karena dibawah naungan sistem islamlah syariat bisa dijalankan dan kemuliaan akan terwujud, para penghina nabi akan ditangkap dan dihukum.

Semoga tidak lama lagi, khilafah segera tegak dan kita ikut andil didalamnya.
Acara ini juga dihadiri oleh :
1. Gus Zen Pengasuh Majelis Ta’lim Nurul Fikri
2. Ustd ismail, Pengasuh Majelis Ta’lim Ma’anil Qur’an
3. Ustd Ishaq, Hafidul Qur’an
4. Ustd Andi Nurrahmad, tokoh masyarakat kabupaten Probolinggo
5. Ustd, Edy, mantan sekretaris MUI tingkat Kecamatan
6. Kyai Abdul Karim, pengasuh majelis ta’lim cinta damai
7. Ustd Samadi, ta’mir masjid

Acara diakhiri tepat pukul 15.30 dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Ustad Pepi Kartiko. Alhamdulillah acara berjalan dengan baik dan lancar serta penuh kekeluargaan.

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Permendikbudristek No 30 Tahun 2021 Bukti Kegagalan dan Ketidakberdayaan Negara Menjunjung Nilai Agama, Moral dan Etika

Surabaya, (shautululama) – Selasa, 30 November 2021 bersama maraknya penolakan terhadap Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *