Multaqa Ulama Aswaja Probolinggo Jatim, Hanya Islam yang Rahmatan lil Alamin

Probolinggo, Jatim (shautululama) – Alhamdulillah telah terselenggara acara Multaqa Ulama Aswaja Probolinggo di Aula Majelis Kyai Ahmad Marzuki Probolinggo, Sabtu (8/2/2020).

Acara dimulai tepat pukul 20.00 WIB. dengan pembacaan Suratul Fatihah yang dipimpin oleh ustadz Fauzi selaku pembawa acara.

Shohibul Fadhilah Al Mukarrom Kyai Ahmad Marzuki, dalam sambutannya selaku shohibul bait menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh Ulama, Para Kyai, Para Ustadz dan tokoh masyarakat serta para jamaah yang hadir pada acara ini.

Selain itu, Kyai Ahmad Marzuki yang merupakan ulama keluarga Ponpes Su’udiyah Hasyimiyah dan alumni Pondok Pesantren Tanjung, juga menyampaikan bahwa kehadiran para ulama ini merupakan kehormatan bagi keluarganya sekaligus sebagai ajang silaturrahmi antar kaum muslimin khususnya para ulama pejuang Islam.

Beliau juga berpesan bahwa Islam adalah agama yang sebenar-benarnya, yang diridhoi oleh Allah SWT sebagaimana dalam firman Allah:

اِنَّ الدِّيۡنَ عِنۡدَ اللّٰهِ الۡاِسۡلَامُ
Agama yang diterima di sisi Alla hanyalah Islam (QS. Ali Imran: 9)

Oleh karena itu, kita berislam dengan yang sebenar-benarnya, menerima islam dengan keyakinan yang penuh sehingga bisa diaplikasikan dengan amal sholih dalam kehidupan di dunia ini. Orang berislam yang didasari iman akan mampu melaksanakan islam secara kaffah dalam kehidupan ini.

Sebagai pembicara pertama shohibul Fadhilah al mukarrom Gus Su’udz Ashari, dari Majelis Ta’lim Bengkel Panahan Probolinggo, menegaskan apa yang telah disampaikan oleh shohibul bait yaitu Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW itu adalah agama yang Rahmatan Lil Aalamiin.

Islam akan mampu menjawab seluruh persoalan kaum muslimin, persoalan negara dalam meriayah rakyatnya. Beliau menbacakan firman Allah SWT:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.(QS. Al Anbiya’:107).

Totalitas dan kesempurnaan Islam tentu tidak akan tampak kecuali jika kaum Muslim mengamalkan Islam secara kâffah (total) dalam seluruh segi kehidupan. Inilah yang Allah SWT perintahkan secara tegas dalam al-Quran:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagi kalian (TQS al-Baqarah [2]: 208).

Namun kata beliau untuk saat ini islam tidak dijadikan sebagai solusi dalam menjawab persoalan kehidupan kaum muslimin, terutama oleh Negara yang mempunyai kewenangan dalam meriayah rakyat ketika rakyat menghadapi persoalan kehidupan seperti di bidang kesehatan yng akhir-akhir ini ramai tentang ‘serangan virus corona’.

Sebagai pembacara kedua Shohibul Fadhilah Almukarrom Ustadz Abu Firaz, pengasuh Majelis Ta’lim Komunitas Ahli Medis dan Konselor lebih menyoroti persoalan kaum muslimin yang akhir-akhir ini sedang hangat dibicarakan dan sedang terjadi di Negara China yaitu serangan virus corona yang mematikan.

Beliau Beliau menyampaiakan bahwa Islam memang telah memerintahkan kepada setiap orang untuk mempraktikkan gaya hidup sehat. Misalnya, diawali dengan makanan. Allah SWT telah berfirman:

فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا
Makanlah oleh kalian rezeki yang halal lagi baik yang telah Allah karuniakan kepada kalian (TQS an-Nahl [16]: 114).

Selain memakan makanan halal dan baik, kita juga diperintahkan untuk tidak berlebih-lebihan. Apalagi sampai memakan makanan yang sesungguhnya tak layak dimakan, seperti kelelawar. Allah SWT berfirman:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
Makan dan minumlah kalian, tetapi janganlah berlebih-lebihan. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan (TQS al-A’raf [7]: 31).

Dalam hal pencegahan menularnya suatu penyakit beliau mencontohkan penanganan Rasulullah SAW dalam mencegah penul

aran penyakit kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya, yaitu salah satu upaya Rasulullah saw. adalah menerapkan karantina atau isolasi terhadap penderita. Ketika itu Rasulullah saw. memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat para penderita kusta tersebut. Beliau bersabda:

‏ لاَ تُدِيمُوا النَّظَرَ إِلَى الْمَجْذُومِينَ
Janganlah kalian terus-menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta (HR Al-Bukhari).

Beliau juga mengutip riwayat lain tentang Rasulullah saw. juga pernah memperingatkan umatnya untuk jangan mendekati wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya, jika sedang berada di tempat yang terkena wabah, mereka dilarang untuk keluar.

Sebagai pembicara terakhir Shohibul Fadhilah Al Mukarrom Ustadz Indra Fakhrudin, beliau pengasuh Majelis Halqoh Taqarrub Iallah Probolinggo, menyampaikan bahwa selain memang islam telah memberikan solusi dan perhatian yang tinggi terhadap masalah kesehatan, namun yang paling penting juga adalah peran Negara dalam mengurusi rakyat yang menjadi tanggung jawabnya. Dalam hal ini penguasa punya peran sentral untuk menjaga kesehatan warganya. Apalagi saat terjadi wabah penyakit menular. Tentu rakyat butuh perlindungan optimal dari penguasanya. Penguasa tidak boleh abai. Para penguasa Muslim pada masa lalu, seperti Rasulullah saw. dan juga sebagaimana yang dilakukan Khalifah Umar bin al-Khaththab ra., dalam sebuah riwayat:

أَنَّ عُمَرَ خَرَجَ إِلَى الشَّأْمِ. فَلَمَّا كَانَ بِسَرْغَ بَلَغَهُ أَنَّ الْوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّأْمِ، فَأَخْبَرَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ‏ ‏إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْه‏.

Khalifah Umar pernah keluar untuk melakukan perjalanan menuju Syam. Saat sampai di wilayah bernama Sargh, beliau mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengabari Umar bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meningggalkan tempat itu.” (HR al-Bukhari).

Menurut beliau jika Negara betul-betul menjadikan islam sebagai solusi dalam mengurusi rakyatnya maka segala persoalan bisa diselesaikan dengan keridhoannNya, segaimana Nabi dan para shahabat mencontohkan bagaimana seharusnya penguasa bertanggung jawab atas segala persoalan yang mendera rakyatnya, di antaranya dalam menghadapi wabah penyakit menular. Beliau mengutip hadits Nabi:

مَنْ وَلَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَاحْتَجَبَ دُونَ حَاجَتِهِمْ وَخَلَّتِهِمْ وَفَقْرِهِمْ احْتَجَبَ اللَّهُ عَنْهُ دُونَ حَاجَتِهِ وَخَلَّتِهِ وَفَقْرِهِ
Siapa yang diserahi oleh Allah untuk mengatur urusan kaum Muslim, lalu dia tidak mempedulikan kebutuhan dan kepentingan mereka, maka Allah tidak akan mempedulikan kebutuhan dan kepentinganya (pada Hari Kiamat). (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

Acara ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Kyai Ahmad Marzuki pada pukul 22.00 WIB, acara berjalan dengan khidmat, penuh keakraban dan kekeluargaan.

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Tepat!! Ulama, Tokoh, dan Muballigh Parigi Moutong Tolak Permendikbudristek

Dari Sulawesi Tengah, tokoh umat berkumpul menolak aturan yang melegalkan seks bebas. Liberalisasi kehidupan dan …