Multaqa Ulama Aswaja Pesisir Selatan, Maulid 1442H, Tegas Menolak UU Ciptakerja, UU Dzalim Produk Demokrasi

Tulungagung, Jatim (shautululama) – Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja yang baru disahkan, tak hanya mengundang polemik, juga penolakan dari berbagai elemen masyarakat, termasuk para ulama. Jumat malam (30/10), penolakan tegas itu disuarakan oleh para ulama aswaja pesisir selatan. Para ulama ini memandang UU Omnibus Law Cipta Kerja banyak mengandung mudarat dan zalim. Hal itu disampaikan dalam Multaqo Ulama Pesisir Selatan yang digelar secara daring dan disiarkan langsung melalui kanal Youtube Dakwah Kita.

KH dr. Muhammad Ali Syafi’udin, Pengasuh MT Mata Hati Tulungagung, memandang kepemimpinan rezim kali ini morat-marit. Rezim sepertinya tak siap dengan semua kondisi yang terjadi. Terlihat dari penanganan pandemik Covid 19 yang amburadul, juga ketidaksiapan rezim menghadapi ancaman resesi ekonomi. Saat rakyat belingsatan menghadapi pandemik, rezim justru sibuk membuat kesepakatan hukum yang menzalimi mereka. Banyak UU zalim pun lahir dari kesepakatan itu. Terhangat, UU Omnibus Law Cipta Kerja yang penuh polemik dan kontroversi diam-diam disahkan.

Sementara, Kyai Dr. Fahrul Ulum, Pengasuh MT. Trenggalek, yang juga akademisi itu, memandang berharap kesejahteraan dalam sistem kapitalis saat ini, sangat mustahil. Yang ada, rakyat akan makin menderita dan sengsara. Hak-hak pekerja akan terabaikan. Berbeda dengan sistem Islam yang akan memenuhi hak-hak pekerja secara layak dan berkecukupan. Tak hanya memenuhi kebutuhan primer sandang, pangan, dan papan, juga kebutuhan sekunder yang menjadi hak mereka.

Hal lain ditambahkan oleh KH Abah Jufri Ali, pengasuh MT al Hikmah Blitar, menurutnya negara berkewajiban menjaga, melindungi, dan menjamin kesejahteraan rakyat. Bukan justru sebaliknya, dengan kewenangannya membuat undang-undang yang mendzalimi dan menyengsarakan rakyat.

Hal ini tampak gamblang dalam UU Omibus Law Cipta Kerja yang sama sekali tak membela hak rakyat. Abah Jufri mengingatkan penguasa, pengabaian terhadap hak-hak rakyat akan berujung pada kesengsaraan dan penderitaan pedih di akhirat kelak. Penguasa Barat seenaknya menghina marwah junjungan kita Nabiullah, dimana umat Islam rela mati demi kemuliaan beliau. Hanya satu cara untuk membela marwah beliau yakni tegaknya khilafah islami yang  menjadi junnah bagi marwah dan simbuk simbul islam.

Multaqo Ulama Aswaja Pesisir Selatan yang digelar secara daring ini juga menghadirkan pembicara lainnya, seperti KH Abah Imron, Pengasuh MT al-Hikmah Binangun, Blitar; Kyai Mufidz, Pacitan; Kyai Suyani, Pengasuh MT al Mubari’, Tulungagung; Kyai Sahal, Pengasuh MT al Muttaqin, Tulungagung; Kyai Muslih, Pacitan; dan KH Abah Muhajir, Pengasuh MT al Hijrah, Blitar. Tepat pukul 22.00 WIB kegiatan ini ditutup oleh pernyataan sikap yang dibacakan oleh Kyai Bisri Mustofa, pengasuh MT Fikrul Mustanir, Rejotangan, Tulungagung. (*)

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Permendikbudristek No 30 Tahun 2021 Bukti Kegagalan dan Ketidakberdayaan Negara Menjunjung Nilai Agama, Moral dan Etika

Surabaya, (shautululama) – Selasa, 30 November 2021 bersama maraknya penolakan terhadap Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, …