Multaqa Ulama Aswaja Ndeso (Wilayah Pedalaman) Ngawi, Segera Bertaubat, Terapkan Syariat Allah dan Tegakkan Khilafah

Ngawi, Jatim (shautululama) – Sabtu malam, 11/01/2020 bertempat di Mushola Mbah Munarwan Ngawi, Jatim, Ulama Ndeso dari beberapa kampung yang jauh di pelosok desa di kabupaten Ngawi, Jatim berkumpul.

Tidak kurang 15 Ulama Ndeso. Di situ nampak Kyai Ahmad Bini yang biasa dipanggil Mbah Bini, Mbah Mardi, Mbah Modin, dan para Ulama kampung lainya yang biasa memimpin Tahlilan, Yasinan, Selamatan dan sebagainya, di kampung mereka.

Sebagai Shohibul bait, Mbah Munarwan membuka agenda dengan mengajak para Ulama untuk merenungkan kembali semua kejadian- kejadian khususnya rentetan bencana alam.

Dan bertindak sebagai pembicara tunggal di Multaqa Ulama Ndeso kali ini Ustad Ikhsan Hafidz, Pengasuh MT Yasinan dari Sidorejo, Ngawi.

Di kesempatan yang Istimewa di tempat Musholla dan suasana yang sangat bersahaja ini, Ustad Ikhsan menyampaikan bahwa.

Bencana kembali melanda. Musibah kembali menyapa. Kali ini dalam wujud banjir yang kembali hadir. Di Jakarta, Bekasi, Tangerang, Bogor dan beberapa daerah sekitar. Sebagian memicu tanah longsor. Seperti terjadi di beberapa titik di Kecamatan Sukajaya Bogor.

Semua bencana ini tentu harus disikapi secara tepat oleh setiap Muslim.
Semua itu merupakan bagian dari sunatullah atau merupakan qadha’ (ketentuan) dari Allah SWT. Tak mungkin ditolak atau dicegah. Di antara adab dalam menyikapi qadha’ ini adalah sikap ridha. Juga sabar. Baik bagi korban ataupun keluarga korban. Bagi kaum Mukmin, qadha’ ini merupakan ujian dari Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut dan kelaparan. Juga dengan berkurangnya harta, jiwa dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar (TQS al-Baqarah [2]: 155).

Orang berakal akan menjadikan sikap sabar sebagai pilihannya dalam menyikapi bencana/musibah. Ia meyakini bahwa sebagai manusia ia tak mampu menolak qadha’. Semua ini sudah merupakan ketentuan Allah SWT. Karena itu ia wajib menerima qadha’ dan takdir Allah SWT (Al-Jazairi, Mawsu’ah al-Akhlaq, 1/137).

Selain sebagai ujian, bencana apapun yang menimpa seorang Mukmin, besar atau kecil, sesungguhnya bisa menjadi wasilah bagi penghapusan sebagian dosa-dosanya. Rasulullah saw. bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Tidaklah seorang Muslim tertimpa musibah (bencana) berupa kesulitan, rasa sakit, kesedihan, kegalauan, kesusahan hingga tertusuk duri kecuali Allah pasti menghapus sebagian dosa-dosanya (HR al-Bukhari dan Muslim).

Tentu, dosa-dosa terhapus dari orang yang tertimpa musibah jika ia menyikapi musibah itu dengan keridhaan dan kesabaran (Lihat: Ibn Qudamah al-Maqdisi, Mukhtashar Minhaj al-Qashidin, 1/272; As-Samarqandi, Tanbih al-Ghafilin, 1/255).

Dan bisa jadi bencana ini merupakan azab, dalam bahasa al-Quran, merupakan akibat dari dosa dan kemaksiatan manusia. Allah SWT berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan akibat perbuatan tangan (kemaksiatan) manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan (kemaksiatan) mereka itu agar mereka kembali (ke jalan-Nya) (TQS ar-Rum [30]: 41).

Belio mengingatkan ketika Khalifah Umar ra. dalam Mengatasi Bencana. Imam al-Haramain (w. 478 H) menceritakan bahwa pada masa Umar ra. pernah terjadi gempa bumi. Khalifah Umar ra. segera mengucapkan pujian dan sanjungan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Saat itu bumi sedang berguncang keras. Khalifah Umar ra. lalu memukul bumi dengan cambuk sambil berkata, “Tenanglah engkau, bumi. Bukankah aku telah berlaku adil kepadamu.” Seketika bumi pun behenti berguncang.
Imam al-Haramain menjelaskan mengapa hal itu bisa terjadi. Sebabnya, Khalifah Umar ra. adalah Amirul Mukminin secara lahir dan batin. Beliau adalah khalifah Allah bagi bumi dan penduduknya (Yusuf al-Nabhani, Jami’ Karamat al-Awliya’, 1/157—158).

Demikianlah, ketakwaan Khalifah Umar ra. sebagai pemimpin sanggup menjadikan bumi “bersahabat” dengan manusia.
Sebaliknya, dosa dan kemaksiatan yang terjadi hari ini, khususnya yang dilakukan oleh penguasa, bisa menyebabkan bumi terus berguncang. Saat menafsirkan QS ar-Rum ayat 41 di atas, Imam Ibnu katsir mengutip pernyataan Abu al-Aliyah terkait perusakan bumi. Kata Abu al-Aliyah:

مَنْ عَصَى اللَّهَ فِي الْأَرْضِ فَقَدْ أَفْسَدَ فِي الْأَرْضِ لِأَنَّ صَلَاحَ الْأَرْضِ وَالسَّمَاءِ بِالطَّاعَةِ

Siapa saja yang bermaksiat kepada Allah di bumi maka sungguh ia telah merusak bumi. Sungguh kebaikan bumi dan langit adalah dengan ketaatan (kepada Allah SWT) (Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, 6/320).

Segera Bertobat! Ust Iksan Hafidz menyeru.
Karena itu satu-satunya cara untuk mengakhiri ragam bencana ini tidak lain dengan bersegera bertobat kepada Allah SWT. Tobat harus dilakukan oleh segenap komponen bangsa. Khususnya para penguasa dan pejabat negara. Mereka harus segera bertobat dari dosa dan maksiat. Juga ragam kezaliman. Kezaliman terbesar adalah saat manusia, terutama penguasa, tidak berhukum dengan hukum Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Siapa saja yang tidak memerintah/berhukum dengan hukum yang telah Allah turunkan, mereka adalah para pelaku kezaliman (TQS al-Maidah [5]: 5).

Dan Tobat terutama harus dibuktikan dengan kesediaan mereka untuk mengamalkan dan memberlakukan syariah-Nya secara kâffah dalam semua aspek kehidupan (pemerintahan, politik, hukum, ekonomi, pendidikan, sosial, dsb). Jika syariah Islam diterapkan secara kâffah, tentu keberkahan akan berlimpah-ruah memenuhi bumi.

Setelah Ust Ikhsan Hafidz menyelesaikan pemaparan belio, Mbah Munarwan meminta kepada para semua Ulama Ndeso untuk segera menyeru dan mengajak kepada jamaah di kampung masing² untuk segera bertaubat dan berusaha menjalankan Syariat Islam secara Kaffah. Mengapa? Karena penerapan hukum Islam atau syariah Islam secara kâffah adalah wujud hakiki dari ketakwaan. Ketakwaan pasti akan mendatangkan keberkahan dari langit dan bumi, sebagaimana firman-Nya:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Andai penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan membukakan untuk mereka keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) sehingga Kami menyiksa mereka sebagai akibat dari apa yang mereka perbuat (TQS al-Araf [7]: 96).

Setelah di tutup, para Ulama Ndeso meninggalkan mushola Mbah Munarwan dengan tertip.

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Ulama Aswaja Palu Sulteng, Permendikbudristek No 30 Tahun 2021 Melegalkan Seks Bebas

Palu, Sulteng (Shautululama) – Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permen Dikbudristek) Nomor 30 Tahun …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *