Multaqa Ulama Aswaja Melayu-Riau: “Ulama Melayu Siap Pimpin Perubahan Menuju Islam”

Melayu, (shautululama) – Sebagai bentuk ihtimam terhadap persoalan negeri ini, para ulama di Melayu-Riau menggelar Multaqa Ulama Aswaja, Kamis, 16 Juli 2020 secara daring. Multaqa kali ini melibatkan ulama, kyai, habaib, pengasuh ponpes maupun tokoh masyarakat yang ada di kawasan Melayu-Riau dengan topik bahasan “Menatap Masa Depan Dunia Pasca Corona”. Topik ini diambil karena sistem kapiltalisme demokrasi yang digunakan untuk menggelola negara ini, dari waktu ke waktu tidak menampakkan perubahan kearah perbaikan. Tapi justru semakin terpuruk, dengan hutang ribawi yang terus bertambah hingga batas yang sulit dilunasi negara. Disisi lain, negara nampaknya mulai menggantungkan harapan kepada negara China, hal ini nampak dengan kebijakan yang dikeluarkan. Padahal sejatinya negara China adalah negara bangkrut yang nampak compang-camping mengdapi bawah covid yang berasal dari sana.

Oleh karena itu, para ulama Melayu-Riau menawarkan konsep Islam, dengan sistem khilafahnya sebagai solusi untuk mengatasi krisis multidimensi negeri ini. Dengan syariah Islam di bawah naungan khilafah, negara ini akan menjadi negara yang mandiri, berdaulat dan rakyatnya hidup aman sejahtera. Demikian kutipan press release yang diperoleh redaksi shautululama.

Acara Multaqa ulama Melayu Riau ini diawali dihadiri sejumlah ulama terpilih di kawasan Melayu Riau, yang masing-masing didaulat oleh panitia untuk menyampaikan kalam minal ulama. Diantara ulama Melayu yang hadir antara lain: KH. Buya Azwir Ibnu Aziz
Ulama Aswaja Melayu Deli, Ustad Hidayat Ar Rokani, S.H.I, ME, Sekretaris Ikatan Dai Riau, Ustad Abu Kanaya Al Bankali, Pembina Ma’ahad Hasanah Kampar, Buya Sirjan Al Faqih, S.Pd.I, Mudir Ma’had Uwais Al Qorni, KH. Yuli Hesman, S.Ag, M.Pd. Mudir Ma’had Tahfidz Al Izzah, Ulama Aswaja Rokan Hulu, KH. Sohandi Al Bantani, MA, Mudir Ma’had Tahfidz Al Firdausi, Pekanbaru, Ustad Ues Al jadid Abu Najmi, Founder Yuksegera Hijrah, TG. Yadi Isman, SE.ME, Pembina Yayasan Mutiara Islam, TG. Usman Asyfii, S.Pd.I, Mudir Ma’had Khoiru Ummah Pekanbaru, KH. Abu Zaydan, Lc, ME.Sy, S.Pd.I, Mudir Ma’had Lisanul Arab dan Tahfidz Al Faluna, Pekanbaru, TG. Daeng Mukhlis, S.H.I, Ketua Ikatan Dai Riau (Idari),Kyai Syamsuddin Ramadhan, Ulama Aswaja Jakarta, dll.

Acara diawali dengan sambutan oleh Ustad Hidayat Arrokani, S.HI, M.E, Sekretaris Ikatan Da’I Riau (IDARI), selaku shohibul hajat. “Bagi Orang Melayu, Islam bukan sesuatu yang asing, Islam bukan sesuatu yang tabu. Orang melayu identik dengan Islam. Hal ini tampak dari falsafah yang digunakan, “Adaik Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah, Syarak Mangato Adaik Mamakai”. Adat dan budaya Melayu bersumber dari Al Qur’an dan As-sunnah”.

Lanjut beliau, bagi orang Melayu, berbicara persoalan syariah merupakan hal yang biasa. Mereka akan menolak segala sesuatu yang bertentangan dengan Islam. Bagi mereka hanya Islamlah yang harus dijadikan tolok ukur benar dan salah. Maka wajar jika orang Melayu akan menolak segala paham isme-isme yang bertentangan dengan syari’ah Islam. Bagi orang Melayu, keberadaan paham seperti ini merupakan sesuatu yang tabu, sesuatu aib jika diamalkan dan harus DITOLAK dari bumi Melayu.

Berbicara persoalan Islam Rahmatan Lil’alamin, tidak akan terwujud kecuali Islam diterapkan secara totalitas, secara kaffah seperti yang disebut dalam Surat Al Baqarah ayat: 208.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”

Islam totalitas tidak akan bisa dijalankan kecuali dengan institusi. Institusi itu bernama Khilafah. Saat ini Islam hanya diterapkan dalam bentuk ibadah ritual belaka. Maka, suatu perkara yang sangat penting untuk mewujudkan institusi yang akan menjalankan Syariah Islam secara kaffah, yakni Khilafah ‘ala manhaj Nubuwwah.

Lalu dilanjutkan dengan kalam minal ulama, oleh KH. Yuli Hesman, S.Ag. M.Pd
Mudir Ma’had Tahfizh Al-Izzah dan Ulama Azwaja Rokan Hulu. Beliau menyampaikan, “Meraih Ketaqwaan Pasca Ramadhan 1441H di tengah wabah Corona” Taqwa adalah puncak dari Syariat Allah. Banyak pesan yang disampaikan oleh Allah dan RasulNya berkenaan dengan taqwa. Di tengah pandemi ini, umat Islam harus meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT. Lantas, apa hubungan Taqwa dengan COVID-19?

Allah menciptakan manusia untuk mengabdi kepadaNYa. Allah berikan fasilitas dimuka bumi ini berupa makanan, minuman, pakaian, kendaraan. Maka kita akan menemukan ada orang yang diberi fasilitas lebih, dan ada yang sekedarnya. Fasilitas tersebut diberikan Allah untuk digunakan dalam mengabdi/tunduk kepada Allah SWT. Semuanya akan diminta pertanggungjawaban. Pengabdian tersebut terwujud dalam bentuk taqwa. Taqwa itu sendiri adalah melaksanakan PerintahNYa dan meninggalkan LaranganNya.

Dalam pengertian lain, definisi taqwa dapat dilihat melalui dialog antara Ubay bin Kaab dengan Umar bin khattab Ra, umar mengatakan bahwa taqwa itu seperti berjalan di daerah yang banyak berduri, tentu kita akan hati-hati pada saat menempuh jalan tersebut. Intinya, taqwa itu adalah kehati-hatian.

Hubungan COVID-19 dengan taqwa adalah bahwa segala sesuatu yang terjadi dialam semesta ini sudah tercatat di Lauhul Mahfuz. Adanya pandemi ini merupakan Qada dari Allah SWT. Maka, bagi orang yang beriman dan bertaqwa, ia akan kembali kepada Allah, menyerahkan diri terhadap segala ketepan Allah SWT. Ia akan meningkatkan ibadah dan ketaqwaannya memohon kepada Allah agar Allah mengangkat wabah ini karena hanya Allahlah yang berkuasa.

Kalam minal ulama berikutnay disampaikan oleh, Ustad Ues Al Jadid Abu Najmi, Founder Komunitas #YukSegeraHijrah.  Beliau menyampaikan, peran Ulama sebagai waratsatul anbiya dalam memahamkan umat bahwa sistem demokrasi bukan ajaran Islam Warisan Rasulullah SAW

Dewasa ini Dunia, dan terkhusus Indonesia dihadapkan kepada persoalan dan masalah yang bertubi-tubi. Azab dan musibah tak henti-hentinya menimpa negeri ini. Dengan pemikiran yang mendalam dan cemerlang, dapat kita ketahui akar persoalan dunia dan Indonesia saat ini adalah disebabkan penerapan Sistem Demokrasi kapitalis di seluruh belahan bumi. Namun sangat sayangkan, banyak dari kaum muslim dan para ulama terjebak didalam perangkap demokrasi. Dimana mereka mengatakan bahwa demokrasi berasal dari Islam karena Islam mengajarkan adanya musyawarah dalam dalam pengambilan pendapat, dan demokrasi esensinya adalah musyawarah dan mufakat. Apakah sesederhana itu definisi dari Demokrasi???

Berkenaan dengan demokrasi, tidak satupun kita temukan di Alqur-an, Assunnah, Ijma’ sahabat bahkan dikitab-kitab mu’tabar para ulama sekalipun tidak ada yang meriwayatkan bahwa demokrasi berasal dari Islam. Ini jelas mengindikasikan bahwa demokrasi bukan berasal dari Islam.

Demokrasi merupakan sistem kufur. Asas yang mendasari dari demokrasi adalah meletakkan kedaulatan ditangan rakyat (Asyyadatu li’ sya’bi). Artinya menyerahkan kepada manusia untuk menentukan halal dan haram dan memberikan wewenang untuk mengatur seluruh urusan manusia. Seharusnya kedaulatan itu hanya milik Allah (Asyyadatu li’ syar’i).

Disamping itu, demokrasi melahirkan paham kebebasan, yang mencakup kepada 1) kebebasan berpendapat, yang menjadikan seseorang bebas untuk menghina orang lain,  2) kebebasan berkepemilikan yang berdampak kepada bebasnya individu-individu yang memiliki modal untuk menguasai kepemilikan umum, 3) Kebebasan Beragama, yang artinya sesorang bebas untuk keluar-masuk agama dan paham ini juga berkontribusi banyaknya lahir agama baru dan ajaran sesat, 4) Kebebasan bertingkah-laku, dimana seseorang bebas mengekspresikan dirinya tanpa ada intervensi dari pihak manapun.

Dan paham ini sukses merebaknya pergaulan bebas tanpa memperhatikan norma-norma yang ada. Melihat fasad luar biasa yang ditimbulkan oleh demokrasi, maka sudah sepantasnya kita mencampakkan demokrasi disamping pada hakikatnya demokrasi bukan berasal dari Islam. Dan sudah seharusnya ulama berada di garda terdepan untuk mendakwahkan kepada umat akan kerusakan yang ditimbulkan oleh demokrasi dan berjuang bersama-sama umat untuk tegaknya Izzul Islam Wal muslim dalam naungan daulah Khilafah Islamiyah.

Acara yang disiarkan secara online melalui channel youtube Melayu Bersyariah ini, bisa disaksikan oleh masyarakat dari seluruh penjuru tanah air. Para ulama berikutnya secara bergantian menyampaikan pandangannya terkait kondisi negeri ini dan solusi yang mereka tawarkan untuk perubahan yang lebih baik.

 

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Saatnya Islam Gantikan Sistem Amoral dan Asusila, KH Misbah Halimi Sikapi Permendikbudristek No 30 Tahun 2021

Probolinggo, Jatim (shautululama) – KH. Misbah Halimi, M.Pd, Koordinator FKU Aswaja Jombang menjelaskan Islam siap …