Multaqa Ulama Aswaja Melayu Barru (Bangka Belitung, Riau dan Kepulauan Riau): Saatnya Islam Menjadi Kiblat Peradaban Dunia

Bangka Belitung, (shautululama) – Selasa 19 Mei 2020 bertepatan dengan 26 Ramadhan 1441 H Ulama Aswaja Rumpun Melayu Bangka Belitung, Riau dan Kepulauan Riau menggelar Multaqo Ulama Aswaja melalui daring (dalam jaringan). Kegiatan yang juga disiarkan melalui channel youtube MUA TV & Info Umat ini dimulai pukul 09.00 hingga 12.00 WIB.

Dalam Multaqo Aswaja Melayu BARRU (Bangka Belitung, Riau dan Kepulauan Riau) dihadiri para Ulama, Kiyai, Pimpinan Pondok Pesantren serta Organisasi Masyarakat Islam Rumpun Melayu Bangka Belitung, Riau dan Kepulauan Riau diantaranya adalah : KH. Abdul Wahid (Ulama Riau), Ustadz Lurizal Ahmad Lutfi (Ulama Babe), Ust. UES Al Jadid Abu Najmi (Ulama Riau), Ustadz M. Khairul Faizin (Ketua MUI Bangka Tengah, Babel), Ustadz Abu Khalil (Ulama Kepulauan Riau), Ustadz Muhammad Iqbal (Ulama Kepulauan Riau), KH.Abu Zaydan, Lc,ME (Alumni Al Azhar, Ulama Riau), Ustadz Firman Saladin (Ulama Bangka Belitung), Ust. Hidayat Ar Rokani (Ulama Bangka Belitung), Ust Irwan (Pimp. Pondok Pesantren Hidayatullah Babel), Ust Bambang Irawan (Ulama Belitung, Babel) dan Ustadz Daeng Mukhlis (Ketua Ikatan Da’I Riau), serta menghadirkan dua orang pembicara yakni Ustadz Sofiyan Rudianto (Ketua Koordinator Forum Kajian Tokoh Umat Babel) dan KH. Ahmaad Junaidi At Thoyibi (Ulama Nasional).

Para ulama membahas persoalan penting yang sedang dihadapi dan melanda ummat manusia di penjuru dunia yaitu virus corona atau COVID 19. Kebijakan yang tidak tepat dalam penanganan corona (virus covid19) serta lambatnya dalam penyelesaian wabah ini, dampak yang ditimbulkan pasca virus covid 19 serta cara penanganan yang tidak tepat dalam penyelesaian wabah covid 19 termasuk bagaimana munculnya peradaban islam pasca wabah corona ini menjadi pembahasan para Ulama yang mewakili Rumpun Melayu Bangka Belitung, Riau dan Kepulauan Riau.

Tema besar dalam kegiatan Multaqo ini adalah “Masa Depan Dunia Pasca Wabah Corona, Menyongsong Terwujudnya Peradaban Islam”.

Mewabahnya corona (covid 19) ini tidak lain dikarenakan lambannya penanganan serta gagalnya penanganan wabah oleh ideologi kapitalisme sekuler. Sistem yang sekarang ini dijalankan oleh negara bangsa (nasionalisme) benar-benar telah gagal dalam memberikan perlindungan kepada ummat manusia.

Mengawali acara Host yang dipandu oleh Ustadz Fajri,M.Pdi menyampaikan ucapan terimakasih atas keikutsertaan para alim ulama dalam acara Multaqo Ulama Aswaja Melayu Barru. Diawali dengan pembacaan kalam ilahi dan dilanjutkan dengan kalimah at taqdim yang disampaikan oleh Ustad Muhammad Sofyan selaku shohibul hajat.

Beliau memberikan ucapan terima kasih atas keikutsertaan para ulama yang mewakili daerahnya masing-masing serta menyampaikan kalimah pembuka terkait asal mula munculnya wabah corona serta begitu cepatnya penyebran virus corona sehingga negara-negara barat pun kelimpungan dalam menangani wabah ini. Ada suatu harapan bagi ummat islam pasca wabah corona yaitu dengan munculnya peradaban islam.

Kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian kalimah al hikmah pertama yang disampaikan oleh Ustadz Sofiyan Rudiyanto yang menjelaskan terkait dengan fakta-fakta akan melemahnya peradaban kapitalisme ini pasca wabah corona, mengutip pernyataan dari ibnu khaldun bahwa hancurnya suatu peradaban dan munculnya peradaban baru salah satunya bisa disebabkan oleh wabah atau penyakit yang menyerang ummat manusia secara luas.

Beliau juga menyampaikan betapa lemah dan rapuhnya sistem atau ideologi kapitalisme dalam menyelesaikan wabah ini sehingga menimbulkan dampak kerusakan yang begitu besar dan luas, baik dari sisi korban yang meninggal, kerusakan ekonomi, politik dan kehidupan sosial masyarakat.

Oleh karenanya, bisa dikatakan bahwa sisitem kapitalisme telah gagal dalam mengatasi wabah corona ini. Semoga wabah ini menjadi wasilah hancurnya peradaban kapitalisme dan terwujudnya peradaban baru terbaik yakni peradaban Islam.

Kalimah al hikmah kedua disampaikan oleh seorang Ulama Aswaja DKI Jakarta, KH. Ahmad Junaidi At Thayyibi yang menyatakan bahwa ulama memiliki peran yang sangat tinggi dalam melakukan perubahan di tengah-tengah ummat manusia.

Selain penyampaian kalimah al hikmah, acara juga dengan diisi dengan penyampaian kalimah minal ulama yang disampaikan oleh para ulama yang mewakili daerahnya masing-masing diantaranya KH. Abdul Wahid (Ulama Riau) yang menyampaikan bahwa setiap masa kehidupan manusia selalu akan mengalami perubahan dan pergantian. Perubahan dan pergantian harus menuju kepada perubahan yang baik berdasarkan tuntutan syariat. Dilanjutkan oleh KH.Abu Zaydan,Lc (Ulama Riau) beliau menyampaikan bahwa dibalik hancurnya peradaban kapitalisme akan tegaknya kembali khilafah sebagai pemersatu ummat.

Kalimah minal ulama berikutnya disampaikan oleh Ustadz Muhammad Iqbal (Ulama Kepulauan Riau) yang menceritakan bagaimana keterkaitan ke Khilafahan yang ada di Timur Tengah dengan kerajaan-kerajaan yang ada di nusantara termasuk Melayu. Begitu eratnya hubungan tersebut sehingga nusantara bisa dipersatukan oleh ajaran Islam, munculnya kesultanan Islam Perlak, Kesultanan Islam Demak, Kesultanan Islam Ternate dan Tidore sampai kerajaan islam yang ada di Papua. Semuanya bisa bersatu dalam sistem islam, maka sebuah keniscayaan islam pun akan kembali bersatu dalam satu negara.

Ust Firman Saladin (Ulama Babel) dalam kalimah minal ulamanya menyampaikan bahwa untuk mewujudkan peradaban Islam dalam naungan Khilafah maka dibutuhkan perjuangan dari umat, lebih-lebih para Ulama.

Namun, perjuangan ini tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, tapi harus dilakukan secara berjama’ah. Oleh karenanya, penting adanya sebuah kutlah yang fokus perjuangannya adalah mewujudkan tegaknya Islam dan itu haruslah kutlah yang idiologis dan berlandaskan akidah Islam.

Disinilah pentingnya Ulama dan umat secara bersama-sama bahu membahu bergabung dalam kutlah yang seperti ini dan berjuang bersama-sama di dalamnya untuk mewujudkan tegaknya Islam, tegaknya Khilafah Islamiyah.

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Permendikbudristek No 30 Tahun 2021 Bukti Kegagalan dan Ketidakberdayaan Negara Menjunjung Nilai Agama, Moral dan Etika

Surabaya, (shautululama) – Selasa, 30 November 2021 bersama maraknya penolakan terhadap Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, …