Multaqa Ulama Aswaja Kab. Bandung: Pengingkaran Khilafah, Pengingkaran Terhadap Syariah

Bandung, (shautululama) – Puluhan Ulama Kabupaten Bandung Mengecam Penistaan terhadap Nabi Muhammad saw. dan Menyeru Penerapan Syariah Islam

Dinginnya malam yang disertai rintik hujan sama sekali tak terasa, tertutupi membaranya ghirah puluhan ulama dalam Multaqa Ulama Aswaja Kabupaten Bandung, Ahad (15/12/2019).

Multaqa yang diselenggarakan Forum Ulama Aswaja Kabupaten Bandung ini mengangkat isu nasional terkait beberapa tokoh publik yang melakukan penistaan terhadap Nabi Muhammad saw.

Multaqa ini dimulai sejak shalat isya berjamaah di tempat penyelenggaraan acara di daerah Pacet. Para ulama kemudian disuguhi jamuan makan malam bersama oleh shohibul bait sebelum memasuki kembali ruangan utama.

Acara ini dibuka oleh pembawa acara dan pembacaan ayat suci al-Qur’an yang merdu oleh ustadz Hari Rizkiyanto.

Shohibul Hajat Ustadz H. Endin kemudian memberikan kata sambutan selamat datang kepada para ulama dan tokoh yang hadir. Beliau bercerita di usianya yang ke-81 ini, sebetulnya sudah sejak dulu beliau bercita-cita untuk memperjuangkan tegaknya Daulah Islam yang beliau kenal dari Fiqih Islam, tulisan Prof. Sulaiman Rashid.

Baru di tahun 2013 lah H. Endin mengenal para pejuang syariah khilafah serta mengetahui secara detail bagaimana thariqah yang diajarkan baginda Rasulullah saw. untuk menegakkan Daulah Khilafah.

Narasumber pertama yang berbicara malam itu adalah Ustadz Abdul Barr, Peneliti Raudhah Tsaqafiyah Jawa Barat. Beliau menjelaskan tafsir Ali Imran ayat 31 bahwa kecintaan sejati kepada Allah dan Rasul-Nya harus dibuktikan dengan mengikuti setiap ajaran yang dibawa Rasul. Jika tidak, maka seseorang tersebut pantas digelari sebagai kaadzibun (pendusta).

Ustadz Abdul Barr melanjutkan dengan menjelaskan kecintaan kita terhadap Allah dan Rasul-Nya merupakan satu dari tiga syarat jika kita ingin mendapatkan nikmat iman yang sesungguhnya. Selain itu, kita tidak boleh mencintai seseorang kecuali karena Allah dan membenci kembali kepada kekufuran setelah Allah mengangkatnya dari kemaksiatan yang pernah kita lakukan.

Penistaan dan perendahan terhadap Nabi Muhammad saw. merupakan dosa besar, yang ini hari dilakukan oleh sebagian orang. Bahkan dengan lancangnya mengatakan bahwa jika saat Rasulullah kecil terdapat pohon jambu di tempat beliau, maka beliau akan maling jambu sebagaimana anak kecil pada umumnya.

Ustadz Abdul Barr menjelaskan bahwa perendahan terhadap Nabi saw, jika dilakukan oleh orang kafir maka ia diganjar dengan hukuman mati, kecuali jika dia bertaubat maka gugur hukuman tersebut.

Namun jika pelaku perendahan terhadap Nabi saw. itu seorang muslim, maka sekalipun ia bertaubat hukum mati tidak gugur, begitu pendapat yang juga diyakini oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Narasumber kedua adalah Ustadz Wahid Abu Hisyam, yang menjelaskan ironi yang begitu luar biasa dimana Indonesia ini memiliki jumlah kaum muslim begitu banyak, tapi justru Nabi Muhammad dihina oleh saudara muslim ktia sendiri.

Menurut beliau, penghinaan terhadap Nabi saw. akan terus ada selama sistem negara yang diadopsi berdasarkan aqidah sekulerisme. Pengingkaran kewajiban penegakkan Khilafah sebagai solusi bagi setiap persoalan umat terkategori pengingkaran terhadap syariat Islam itu sendiri, karena penegakkan khilafah merupakan bagian dari syariat Islam.

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Tepat!! Ulama, Tokoh, dan Muballigh Parigi Moutong Tolak Permendikbudristek

Dari Sulawesi Tengah, tokoh umat berkumpul menolak aturan yang melegalkan seks bebas. Liberalisasi kehidupan dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *