Multaqa Ulama Aswaja Kab. Bandung Barat : Adili Penista Agama dan Penghina Nabi!

Cimahi, (shautululama) – Baru-baru ini, telah viral penyataan seorang anak proklamator negeri ini yang dengan terang terangan membandingkan seorang manusia biasa dengan diri mulia nan agung Nabi Muhammad SAW. Jelas statemen tersebut benar-benar melukai kaum muslimin yang beriman. Belum lagi pernyataan seorang penceramah yang juga melakukan penghinaan terhadap diri Nabi Muhammad SAW, sungguh tak pantas seorang penceramah melakukan hal demikian.

Berlatar belakang problematika tersebut, Forum Santri dan Ulama Aswaja melaksanakan kegiatan Multaqa Ulama Ahlu Sunnah Wal Jamaa’ah dengan tema Menjaga ‘Aqidah Ummat dan Mencintai Nabiyullah Muhammad SAW bertepatan pada tanggal 8 Desember 2019/ 11 Rabiul Akhir 1441. Bertempat di RM. Abah Ottey, Tegal Kawung, Cimahi.

Acara dibuka oleh sambutan pengasuh Majlis Forum Santri dan Ulama Aswaja, Habib Barli Bin Syahlan Al-Hasyim. Pada Kesempatan pembicara pertama, Ustad Hadyo memaparkan materinya. Beliau mengangkat contoh kasus penghinaan dan penistaan terhadap Islam tatkala Rasulullah masih hidup dan Rasulullah membenarkan aksi tersebut. Diantaranya seperti yang diriwayatkan Imam Muslim dalam al-Jami as-Sahih-nya dan beberapa kitab hadis lainnya, ada seorang budak yang sedang hamil. Kerjaan si budak ini selalu mencaci maki Nabi Muhammad SAW. Akhirnya karena merasa kesal dengan kelakuan si budak perempuan ini, seorang sahabat Nabi yang buta, yang merupakan suaminya, membunuh istrinya yang bekas budak tersebut.

Ketika peristiwa pembunuhan ini dilaporkan kepada Nabi, sang pembunuh tidak dihukum qishash. Dalam hadis tersebut, darahnya hadar atau sia-sia dan pembunuhnya tidak dijatuhi hukuman qishash. Dalam melaksanakan tugas mengadili dan menghukum para penghina Nabi dan penista agama adalah tugas negara yang menerapkan hukum syariah Islam, yakni khilafah.

Pada sesi berikutnya, perwakilan peserta memberikan pernyataan sikap atas kasus penghinaan atas Nabi. Diantaranya Ustad H. Efendi dari Cijerah. Beliau menyatakan bahwa saat ini kaum muslimin dirongrong dari berbagai penjuru, oleh karena itu mari kita bersatu, saling introspeksi, dan kembali lagi pada Al-Qur’an. Insya Allah kita akan terjaga.

Sesi berikutnya dilanjutkan Ustad Dedi dari DKM Al ikhlas, “Untuk mencintai Rasulullah kita bisa memulai dari yang paling sederhana yakni memulai dari diri kita sendiri”.

Kyai Mukhlis dari DKM Al Muhajir, Tegal Kawung menyampaikan nasihat bahwa jika kita cinta terhadap Rasul, maka jangan malu-malu untuk mengamalkan amalan sunnah, tunjukkan keislaman kita.

Pembicara sesi Pamungkas, Ustad Moekti Candra yang akrab disapa Abah Ottey menyampaikan penggugah semangat berjuang, “Sungguh tragis apabila seorang muslim yang tidak marah apabila mendengar Rasulullah disamakan dengn manusia biasa”. “Jangan takut, Allah bersama kita apabila kita berjuang menegakkan agama Allah ini selama kita konsisten, konsekuen, dan teguh dalam berjuang’.

Acara yang dimulai pada pukul 8 pagi ini ditutup oleh untaian doa yang dipimpin oleh Ustad Teguh Turwanto, Pimpinan Pondok Pesantren Tahfidz Mutiara Darul Qur’an, Cijamil kab. Bandung Barat. Acara berakhir pada pukul 11 siang ini ditutup dengan ramah tamah.

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Permendikbudristek No 30 Tahun 2021 Bukti Kegagalan dan Ketidakberdayaan Negara Menjunjung Nilai Agama, Moral dan Etika

Surabaya, (shautululama) – Selasa, 30 November 2021 bersama maraknya penolakan terhadap Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *