Multaqa Ulama Aswaja Jakarta, Kebangkitan Kembali Komunisme di Indonesia Jelas-Jelas Nyata

Jakarta, (shautululama) 16 oktober 2021 bertepatan dengan 9 Rabiul Awal 1443 H, bertempat di Ma’had Darul Mawahid, Srengseng, Jakarta Barat, lebih dari 30 ulama, muballigh dan asatidz baik offline maupun online, dan Asatidz Ahlus Sunnah Wal Jamaah berkumpul dalam acara Multaqa Ulama Aswaja Jakarta dengan Tema Mewaspadai dan Menolak Bahaya Laten Komunis.

Acara yang disiarkan secara langsung melalui video streaming tersebut berjalan lancar selama dua setengah jam.

Acara dimulai dengan sambutan shohibul hajah yang disampaikan oleh KH Saifudin Zuhri, beliau adalah Ulama Aswaja kebayoran Lama, Jakarta selatan.

Beliau menyampaikan tentang isyarat yang mulai tampak tentang adanya kebangkitan komunisme. Isyarat ini terlihat jelas bagi orang orang yang cerdas dan mau berfikir. Beliau menyebutkan bahwa Ulama dan Kyai adalah orang yang mampu memahami isyarat kebangkitan komunis.

Oleh karena itu, diharapkan mereka mampu memperingatkan umat agar senantiasa waspada terhadap segala upaya kebangkitan komunisme serta memberi pesan kepada penguasa agar tidak memberi ruang terhadap kebangkitan komunisme.

Acara berikutnya dilanjutkan dengan penyampaian kalimah minal ulama. Kalimah minal ulama yang pertama disampaikan oleh Kyai Zaenal Afwan, beliau adalah Pembina Majlis Taklim Nurul Afwan Cipayung Jakarta Timur.

Beliau menyampaikan bahwasanya komunis adalah kemusyrikan dan iman merupakan benteng bagi kaum muslim agar tidak terpengaruh oleh kekafiran. Maka Ulama diharapkan menjadi benteng penjaga iman umat sebab orang–orang kafir senantiasa berusaha mengeluarkan kaum muslim dari jalan cahaya yaitu islam.

Kalimah minal ulama yang kedua disampaikan oleh singa podium yaitu Kyai Nur Alam MA dari Ma’had Mus’hab bin Umar Cipondoh Tangerang. Beliau mengingatkan terkait pembantaian ulama dan santri diberbagai negeri ini adalah bukti kekejaman komunis, kekejamannya tidak bisa dilupakan oleh anak negeri ini.

Maka segala bentuk upaya pengaburan sejarah yang berusaha menghapus rekam jejak kesadisan PKI harus ditentang. Beliau juga mengingatkan agar kita menjadi Firqatun Najiyah suatu kelompok yang diselamatkan dari segala tipu daya musuh-musuh Allah SWT selama meniti jalan yang ditempuh Rasulullah SAW.

Mustahil kita bisa memenangkan pertarungan jika kita menyelisihi Rasulullah dalam hukum dan pemerintahan.

Kalimah minal ulama berikutnya yaitu yang ketiga disampaikan oleh ulama karismatik dari Tangerang Selatan KH DR Mawardi Thohir MSc, Pembina Majlis Dzikir An Nahdzoh, Tangerang Selatan. Beliau memaparkan bahwa komunis di berbagai negara selalu menggunakan cara–cara yang keji untuk berkuasa, kebangkitan komunisme di Indonesia jelas-jelas nyata, dengan bukti banyak ulama yang diintimidasi dan dihina.

Umat islam akan selamat hanya dengan menjalankan syariat islam dan syariah islam akan terjaga hanya dengan tegaknya khilafah

Kalimah minal ulama yang ke emapt disampaikan oleh ustadz Khoirul Anwar, beliau adalah Pembina Majlis Taklim Alfatih 1453. Beliau menjelaskan tentang 3 idiologi di dunia, yang pertama adalah kapitalisme yang lahir dari rahim sekulerisme yaitu memisahkan agama dari kehidupan dan kapitalisme disebarkan dengan metode imperialisme dan ideologi yang kedua adalah komunisme yang lahir dari rahim atheisme atau tidak bertuhan, sehingga pantas saja mereka sangat memusuhi ulama. Ideologi yang ketiga adalah islam, islam mengatur sistem kehidupan, mengatur hubungan manusia dengan tuhanya, mengatur manusia dengan manusia yang lain serta mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri.

Kalimah minal ulama yang kelima disampaikan oleh Syaikh Dhous Syam yang merupakan ulama dari Sudan. Beliau memaparkan materi dengan menggunakan bahasa Arab, beliau mengingatkan umat islam untuk menjadi umatan wasathon yaitu umat yang terbaik yang menjalankan hukum-hukum Allah SWT dan tidak mengikuti komunisme dan kapitalisme.

Kalimah minal ulama yang ke enam disampaikan oleh habib kholilullah Al habsy, beliau adalah pimpinan Majlis Rothibul Hadad Duren Sawit, Jakarta Timur. Beliau menyampaikan kalimah minal ulama secara online, bahwasanya komunisme dan kapitalisme adalah biang kerusakan umat, umat dijauhkan dari tatanan agama, komunisme dan kapitalisme menjauhkan negeri ini dari negeri yang baldatun thoiyibatun warabbun ghofur.

Oleh karena itu, menjadi kewajiban ulama untuk menjaga umat tanpa takut adanya ancaman. Kalimah mianal ulama yang terakhir disampaikan oleh Ustadz Abu Umar. Beliau adalah pimpinan Pondok Pesantren Nuqthotul Irthikaz, Cijeruk Tangerang Selatan. Beliau menyampaikan bahwasanya berdirinya khilafah akan meniadakan komunisme dan kapitalisme.

Demikianlah Multaqa Ulama berjalan dengan khidmat dan penuh semangat diakhiri dengan pembacaan pernyataan sikap ulama yang menyatukan sikap para ulama untuk menolak komunisme dan berjuang menegakkan khilafah sebagai institusi yang akan menjaga aqidah umat Islam.

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Sudah Saatnya Negeri Kita Terapkan Islam Secara Kaffah

Parigi, Moutung, Sulteng (shautululama) – Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbudristek) No 30 tahun 2021 …