Multaqa Ulama Aswaja Gresik, “Cinta Nabi, Cinta Syariah, Bela Nabi, Rindu Khilafah”

Gresik, (shautululama) – Mensikapi fenomena yang berkembang di Indonesia, khususnya penistaan agama oleh Sukmawati, sejumlah ulama, kyai dan ustad di Gresik menyelenggarakan Multaqa Ulama, Jumat, (29/11/2019).

Multaqa yang dilaksanakan bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi Saw ini, dihadiri lebih dari 50 orang, yang terdiri dari ulama, kyai, ustad serta pengasuh majelis taklim yang ada di kawasan Gresik Utara.

Sebagai bahan pembahasan multaqa kali ini mengambil tema, “Cinta Nabi Cinta Syariah, Bela Nabi, Rindu Khilafah”. Pemilihan tema ini berkaitan dengan kasus penistaan agama oleh Sukmawati, serta peringatan maulid.

Setelah diawali dengan pembacaan ayat suci AlQuran, dilanjutkan dengan sambutan dari shahibul hajah, Ustad Haris Abu Awwah,

“Bagi penghina Rasul dalam pandangan Islam, maka hukumnya dibunuh”, tegas Ustad Haris mengawali sambutannya

Beliau pun mengisahkan, ada seorang wanita yang menghina Rasul, setelah diingatkan oleh suami yang buta, namun tetap ngotot melanjutkan ocehannya, maka suami yang buta ini mengambil pedang dan ditebaskan ke istrinya hingga tewas. Kasus ini didengar oleh Nabi Muhammad, maka nabi pun bertanya kepada kaum muslimin, siapa yang telah membunuh istrinya? Lelaki ini pun dengan merasa ketakutan menghadap Rasulullah, tapi Rasulullah tidak menghukumnya, Rasul membenarkan sikap lelaki ini.

“Inilah pentingnya khilafah, dengan khilafah tak ada lagi penistaan ajaran Islam, penghinaan terhadap Rasulullah. Karenanya Cinta Nabi harus Cinta Syariah, dan Rindu Khilafah”, tutup ustad Haris mengakhiri sambutannya.

Acara selanjutnya kalimat minal ulama yang dipandu oleh Kyai Imam Subahar dengan menghadirkan KH. Sofiyanto, KH Rodhi Maskur, Kyai Muhib Hamid, KH. Abdul Wahab.

KH. Abdul Wahab, dalam tausiyahnya menyampaikan, “Rasulullah manusia istimewa dan luar biasa yang dibimbing oleh wahyu. Beliau telah ditunjuk oleh Allah sebagai suritauladan bagi umat manusia”, ungkap Kyai Wahab mengawali tausiyahnya.

Lanjut beliau, “karenanya tidak layak membandingkan dengan manusia biasa, apalagi menyatakan, “mana yang lebih berjasa, apakah yang mulia Muhammad atau Soekarno sang proklamator”. Ini sama saja dengan merendahkan Rasulullah Muhammad. Atas penistaan agama ini, maka pantas bagi Sukmawati dipenjara, terlebih ini bukan yang pertama kali bagi Sukmawati melakukan penistaan agama”, ungkap Kyai Wahab.

Kyai Wahab pun mengajak para jamaah agar bersemangat untuk mencintai Rasulullah, dengan mencintai syariah yang dibawa Rasulullah, termasuk memperjuangkan khilafah yang akan melaksanakan syariah dengan kaffah, sebagaimana para khulafaur rasyidin, yang meneruskan pelaksanaan syariah di masanya hingga dilanjutkan para khalifah-khalifah berikutnya”

KH Sofiyanto, pemateri berikutnya, menyampaikan, “Baginda Rasulullah Saw orang yang dimulyakan di dunia, maka Sukmawati laknatullah, harus dihukum atas ucapannya yang lancang, yang merendahkan Rasulullah”, ungkap Kyai Sofiyanto

“Kalau nabinya dihina, ajaran islam dihina diam saja, sama saja dengan orang tidak beriman”, tegas Kyai Sofiyanto.

Lebih lanjut, Kyai Sofiyanto, memaparkan, “Cinta Rasul, cinta syariah, termasuk cinta khilafah karena khilafah adalah sistem pemerintahan warisan Rasulullah, bukan demokrasi”.

Kyai Muhib, menyampaikan tema Khilafah Sistem Pemerintahan Modern. Dalam pemaparan materinya, Kyai Muhib mengutip pendapat ilmuwan Barat, William Durant yang mengagumi peradaban islam dalam sistem khilafah.

“Sistem khilafah telah melahirkan peradaban modern bagi manusia, peradaban Islam telah menyatukan umat manusia dari berbagai wilayah, peradaban Islam telah melahirkan kesejahteraan bagi umat manusia”, ungkap Kyai Muhib

Namun saat sistem khilafah tidak ada lagi seperti saat ini, maka peradaban manusia menjadi sangat rendah. Orang seenaknya menghinakan ajaran Islam, bahkan orang yang memperjuangkan ajaran Islam dituding radikal, Rasulullah dihinakan, tidak ada yang menjaga.

Oleh karena itu, tegas Kyai Muhib, “kehadiran peradaban islam sangat dibutuhkan saat ini, melalui tegaknya khilafah, maka akan melahirkan peradaban Islam, yang akan memanusiakan dan mensejahterakan umat manusia”

Kyai Rodhi Masykur, sebagai pemateri terakhir mengulas tentang hukuman bagi penghina nabi. Beliau menyampaikan, “Saat orang-orang munafik yang menghina Nabi itu menyanggah/mencari2 alasan, bahwa mereka melakukan itu hanya sekedar bercanda (main-main dan senda gurau), sebenarnya Allah sudah membantah dalam Al-Quran,

لَا تَعۡتَذِرُواْ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَٰنِكُمۡۚ

Tidak perlu kalian mencari-cari alasan, karena kalian telah kafir setelah beriman (murtad). (QS. At-Taubah : 66)

Syekh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan makna ayat ini dalam kitab tafsir karyanya,

فإن الاستهزاء باللّه وآياته ورسوله كفر مخرج عن الدين لأن أصل الدين مبني على تعظيم اللّه، وتعظيم دينه ورسله، والاستهزاء بشيء من ذلك مناف لهذا الأصل.

Menghina Allah, ayat-ayat dan Rasul-Nya, adalah penyebab Kekafiran, pelakunya keluar dari agama Islam (murtad). Karena agama ini dibangun di atas prinsip mengagungkan Allah, serta mengagungkan agama dan RasulNya. Menghina salah satu diantaranya bertentangan dengan prinsip pokok ini. (Taisir Al Karim Ar Rahman, hal. 342)

Lanjut Kyai Rodhi, “Abu bakr al-Farisi, salah satu ulama syafiiyah menyatakan, kaum muslimin sepakat bahwa hukuman bagi orang yang menghina Nabiﷺ adalah bunuh (hukuman mati)”.

Beliau pun menyampaikan pendapat Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Syaukani:
“Orang yang menghujad Rasulullah Saw, mencela, mencari-cari kesalahan/kekurangan, mencela nasab dan pelaksanaan agamanya, menjelek-jelekan sifatnya, menentang, menyamakan dengan yang lain, maka dihukum mati”

“Maka sudah selayaknya orang-orang yang menghina Nabi, tidak bisa dianggap main-main, tidak bisa dibiarkan, dia harus ditangkap dan dihukum, apalagi jika mengacu hukum Islam, maka hukumnya qishas (hukuman mati)”, terang Kyai Rodhi

Terakhir Kyai Abdul Wahab menutup multaqa Ulama Aswaja dengan doa, dan dilanjutkan dengan ramah tamah.

About Shautul Ulama Media

Shautul Ulama - Media Seruan Ulama, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar.

Check Also

Saatnya Islam Gantikan Sistem Amoral dan Asusila, KH Misbah Halimi Sikapi Permendikbudristek No 30 Tahun 2021

Probolinggo, Jatim (shautululama) – KH. Misbah Halimi, M.Pd, Koordinator FKU Aswaja Jombang menjelaskan Islam siap …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *